Apa Hukum Mengambil Keuntungan Dua Kali Lipat dalam Islam?

2
12503

BincangSyariah.Com – Setiap orang yang berdagang pasti menginginkan keuntungan dari barang dagangannya. Untuk tujuan ini, seseorang kadang mengambil keuntungan lebih sedikit dari modal, ada yang setengahnya, dan ada pula yang mengambil keuntungan dua kali lipat dari modalnya. Jika seseorang mengambil keuntungan dua kali lipat, bagaimana hukumnya?

Pada dasarnya, setiap orang yang berdagang diperbolehkan untuk mengambil keuntungan dari barang dagangannya tanpa ada batasan tertentu dari syariat. Ia boleh mengambil keuntungan sedikit atau banyak selama tidak menzalimi orang lain dan masyarakat.

Hal ini sebagaimana telah disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu’ berikut;

من اشترى سلعة جاز له بيعها برأس المال و بأقل منه و بأكثر منه لقوله صلى الله عليه و سلم إذا إختلف الجنسان فبيعوا كيف شئتم

“Barangsiapa membeli barang dagangan, maka boleh baginya menjual dengan harga modal, lebih murah dari harga modal, atau lebih banyak. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Saw, ‘Jika dua barang berbeda jenis, maka kalian juallah sesuai kemauan kalian.”

Namun jika pengambilan keuntungan menzalimi orang lain, maka hukumnya dilarang. Para ulama berbeda pendapat terkait batas pengambilan keuntungan yang menzalimi orang lain dan masyarakat. Sebagian ulama berpendapat bahwa ketentuan mengambil keuntungan barang dagangan diserahkan pada harga yang berlaku di tengah masyarakat.

Di sisi lain, sebagian ulama berpendapat bahwa sudah dinilai zalim jika mengambil lebih dari 1/3 dari modal. Sebagian lagi berpendapat, jika mengambil keuntungan lebih dari 1/6 dari modal, maka sudah dinilai menzalimi orang lain.

Hal ini sebagimana disebutkan dalam kitab Yas-alunaka fi al-Din wa al-Hayah berikut;

ولكن الدين ينهى عن الربح الفاحش وهو الذى يزيد عن الحد المعروف المألوف بين عامة الناس. وقد اختلفوا فى تقدير هذا الحد فقال بعضهم : إن الربح غير الفاحش أو الذى لاغبن فيه ولا ظلم هو ما كان فى حدود الثلث. وبعضهم قال : هو ما كان فى حدود السدس. وقال بعضهم : إن الحد المنقول فى ذلك المجال هو ما جرت به العادة.

Baca Juga :  Pandangan Ulama Empat Mazhab Terkait Puasa Bulan Rajab

“Akan tetapi agama melarang pengambilan keuntungan yang jelek, yaitu keuntungan yang melebihi batas yang berlaku di tengah masyarakat. Para ulama berbeda pendapat terkait ukuran pengambilan keuntungan yang jelek ini. Sebagian mengatakan, keuntungan yang tidak jelek atau keuntungan yang tidak ada penipuan dan kezaliman adalah keuntungan yang masih berada dalam batas 1/3 dari modal. Sebagian mengatakan, masih dalam batas 1/6 dari modal. Sebagian lagi mengatakan, batasnya ditentukan pada kebiasaan masyarakat.”

2 KOMENTAR

  1. Itu dalam kitab al-majmu’ juz brapa dan halaman brapa, sama kitab yas alunaka juz brapa dan halaman brpa. Mohon dijawab. Teimakasih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here