Mengambil Hikmah dari Nabi Musa dan Fir’aun

0
12244

BincangSyariah.Com – Al-Qur’an sebagai pemegang otoritas utama dalam sumber hukum Islam menyajikan berbagai kisah mengenai kaum yang telah lalu. Dari segi proporsi, kisah menempati bagian terbanyak dari keseluruhan isi al-Qur’an. Qur’anic stories are among God’s methods to educate human being. Dengan kisah, manusia bisa mengambil pesan moral di dalamnya tanpa merasa diindoktrinasi.

Dari sekian banyak kisah dalam al-Qur’an, perjalanan Musa melawan Fir’aun merupakan kisah yang paling banyak disebutkan dan paling menunjukkan sisi emansipatoris Islam. Kisah ini bermula ketika Musa dibesarkan di istana Fir’aun. Dengan segala kekuasaannya yang mutlak, pembendaharaannya yang kaya, kerajaan yang luas, pengikut yang setia dan pasukan yang kuat nan taat, tak mudah bagi Musa menyampaikan kebenaran pada Fir’aun yang arogan dan angkuh. Dengan segala kelebihannya, ia mengaku Tuhan dan merasa memiliki hidup dan mati seluruh rakyatnya. Terlebih lagi Musa memiliki beban hutang budi karena selama ini keluarga Fir’aun yang merawat, membesarkan dan mendidiknya.

Tapi kebenaran tetap harus ditegakkan. Dengan segala keterbatasannya – yang gagap dan kelu jika dibandingkan dengan Fir’aun yang fasih – dia bersama saudaranya Harun menghadap Fir’aun untuk menyampaikan pesan Tuhan. Pada awalnya, mereka menggunakan metode diplomasi yang halus sesuai  petunjuk dari Allah swt; “Maka berbicaralah kamu berdua (Musa dan Harun) kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (Q.S Thaha ayat 44).

Akhirnya terjadilah adu kekuatan supra-natural antara kaum sihir Fir’aun dan mukjizat Musa yang berkembang menjadi bentrokan fisik dan berakhir pada hijrah Bani Israil meninggalkan Mesir menuju tanah suci atau al-ardl al-muqaddasah dengan mukjizat agung Nabi Musa membelah lautan sedang Fir’aun dan bala tentaranya tenggelam ke dalam laut Merah. (Q.S al-Baqarah ayat 50)

Dari kisah itu Al-Qur’an menunjukkan perlawanan Musa pada Fir’aun sebagai bentuk pertentangan dari otoriterianisme kekuasaan. Perjuangannya yang panjang dan berliku adalah salah satu bentuk emansipasi terbaik dalam proses pembebasan Bani Israil dari perbudakan dan penindasan.

Kedua, keberhasilan Musa dan Bani Israil keluar secara besar besaran (eksodus) dan kegagalan Fir’aun untuk menghalanginya adalah suatu kemenangan yang patut diperhitungkan. Maka eksodus yang dalam Bahasa Arab disebut khuruj menjadi lambang pembebasan manusia dari perbudakan dan penindasan sebagaimana diceritakan dalam Qur’an surat al-Baqarah ayat 50. Begitulah Allah membebaskan Bani Israil dari kungkungan perbudakan dan penindasan Fir’aun. Begitulah Islam menjunjung tinggi persamaan derajat semua manusia di mata Tuhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here