Mengamati Masyarakat Jepang Memperhatikan Agama

0
723

BincangSyariah.Com – Jepang adalah salah satu negara maju di Asia. Di antara faktor kemajuan negara tersebut adalah tidak ada campur aduk antara agama dan negara. Dan, kondisi masyarakat umumnya menganggap agama tidak terlalu penting. Demikian penjelasan Asisten Prof. Mr. Miichi Ken, Dosen Graduate School of Asia-Pasific Studies Waseda University dalam rangkaian kegiatan Student Exchange yang diselenggarakan oleh JICE (Japan International Coorporate) pada program JENESYS 2018.

Kami berjumlah 27 orang adalah delegasi dari Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN JAKARTA, NU, dan Muhamadiyah. Selama perjalanan, kami ditemani oleh lima orang pemandu sebagai penerjemah dan pusat informasi soal kondisi sosial budaya dan apapun tentang negeri Sakura. Mayoritas dari mereka pernah tinggal di Indonesia. Mereka pun memahami kultur orang Indonesia, terlebih kondisi masyarakat Indonesia khususnya mahasiswa

Mereka sudah tahu, bahwa tamu yang akan datang dari Indonesia mereka yang beragama Islam. Mereka memahami bahwa ada beberapa larangan yang harus dilaksanakan oleh Muslim pada umumnya. Secara garis besar di antaranya, memakan babi dan apapun unsur makanan yang mengandung babi serta bersentuhan dengan anjing.

Suatu malam, kami diajak ke minimarket untuk berbelanja. Memilih makan seenaknya sendiri. Ketika saya memilih mi instan dan sudah dibayar, lalu salah satu pemandu kami bernama Kamiya mengecek kembali komposisi mie tersebut. Dia berkata, “jangan ambil mie ini karena ada campuran babi“. Akhirnya saya langsung nego ke kasir untuk ditukar dengan uang saja.

Alhamdulillah, ini termasuk pertolongan Allah Swt. Beruntung, selama perjalanan di Jepang, saya tidak merasa khawatir ketika dihadapkan dengan berbagai macam makanan. Makanan yang dihidangkan sudah pasti halal dan tidak ada unsur mengandung minyak babi karena sudah dicek dahulu oleh para pemandu.

Baca Juga :  Benarkah Perempuan Kurang Akal dan Agama?

Perhatian khusus para pemandu kepada para peserta dari Indonesia juga diberikan berupa menghindari makanan yang disiapkan oleh hotel untuk sarapan pagi. Pada hidangan tersebut ada beberapa nampan atau wadah yang menyiapkan masakan dari daging babi.

Di sisi lain, orang Jepang selalu memperhatikan jadwal salat lima waktu kepada para peserta student exchange. Mereka senantiasa mengingatkan ketika menjelang makan siang agar dilanjutkan dengan salat Zuhur dan Asar. Mereka berharap agenda yang sudah terjadwal tidak terbengkalai hanya karena banyak di antara teman-teman Indonesia yang izin untuk melaksanakan ibadahnya.

Meskipun kita berbeda agama, namun toleransi antar agama sangat dijunjung tinggi dan saling menghormati. Meski mayoritas dari kami tidak memahami dengan baik bahasa Jepang, tidak membuat kita tidak diperhatikan selama perjalanan.

 

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here