Mengaji Makna “Lailatul Qadar” : Apa Maksud Lebih Baik dari 1000 Bulan? (2)

0
489

BincangSyariah.Com – Ayat pertama dari surat al-Qadr menjelaskan bahwa permulaan turunnya al-Quran terjadi pada malam al-Qadr. Pertanyaannya, apakah ini berarti bahwa lailatul qadar hanya terjadi sekali saja, yaitu pada permulaan turunnya al-Qur’an itu, ataukah lailatul qadar terjadi setiap tahun?

Memang ada ulama yang berpendapat bahwa lailatul qadar hanya terjadi sekali dan tidak akan ada lagi sesudahnya. Pendapat ini, sebagaimana diungkapkankan Ibnu Hajar, antara lain dilandaskan pada sebuah riwayat yang disandarkan kepada Nabi saw bahwa sesungguhnya malam al-Qadr telah terangkat, dalam arti sudah tidak akan datang lagi. Tetapi pendapat ini bertentangan dengan mayoritas ulama yang berpendapat bahwa setiap tahun terjadi malam al-Qadr. Karena, malam itu menjadi mulia bukan saja karena al-Quran turun ketika itu, tetapi malam itu sendiri memiliki kemuliaan, yang kemudian semakin bertambah dengan turunnya al-Quran.

Kemuliaan dan kehebatan malam al-Qadr tidak hanya dipahami dari kata al-Qadr saja, tetapi juga dari kandungan ayat kedua dari surat al-Qadr. Wa ma adraka ma Lailatul Qadr. Perlu diketahui, ungkapan wa ma adraka tidak digunakan al-Quran kecuali menyangkut persoalan-persoalan besar nan hebat yang tidak mudah diketahui hakikatnya. Maka penggunaan ungkapan tersebut yang dikaitkan dengan Lailatul Qadr menunjukkan kehebatan dan kemuliaan malam itu, yang hakikatnya tidak mudah diungkap kecuali dengan bantuan Allah swt.

Lebih jelasnya, kemuliaan Lailatul Qadr diungkapkan oleh Allah swt melalui ayat setelahnya, di mana Dia berfirman, Lailatul Qadr itu lebih baik dari seribu bulan (lailatu al-qadr khoyrun min alfi syahr).

Di sini, kata ‘seribu’ tidak harus kita pahami sebagai sebuah bilangan di atas 999 dan di bawah 1.001, tetapi kata seribu berarti banyak. Pengungkapan lailatul qadar sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan menunjukkan keistimewaan malam itu yang melebihi malam yang lain. Ketika demikian, maka nilai pahala ibadah pada malam al-Qadr pun melebihi nilai pahalanya dibandingkan dengan ibadah pada seribu bulan yang lain.

Baca Juga :  Kisah Tiga Ahli Tafsir yang Tak Sempat Menyelesaikan Tafsirnya

Bilangan 1.000 bulan, bila dikonversi ke dalam jumlah tahun sama dengan 83 tahun 4 bulan. Satu waktu yang sangat lama, sementara keistimewaan malam al-Qadr melebihi jumlah itu. Ini merupakan kekhususan bagi umat Nabi Muhammad saw, di mana umur mereka rata-rata tidak mencapai waktu 1.000 bulan. Maka atas kemurahan Allah swt, mereka diberi malam al-Qadr nan istimewa. Rasulullah saw pun menganjurkan umatnya untuk berusaha mendapatkannya dengan menghidupkan sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, sebagaimana bunyi sekian banyak hadis.

Pada malam al-Qadr, para malaikat dan Ruh, yakni Jibril, turun silih berganti ke bumi dengan izin Allah swt untuk mengatur segala urusan dan salam bertebaran pada malam itu hingga terbitnya fajar. Sementara ulama memahami kata salam pada ayat terakhir dari surat al-Qadr di atas sebagai ucapan yang mengandung doa. Artinya, para malaikat itu mendoakan setiap orang yang “ditemuinya” pada malam al-Qadr itu agar terbebas dari segala kekurangan lahir dan batin. Ada juga ulama yang memahami kata salam sebagai keadaan atau sikap damai yang dirasakan oleh mereka yang memperoleh Lailatul Qadr atau sikap para malaikat yang turun ke bumi dalam keadaan dan sikap yang penuh damai.

Terkait kapan malam al-Qadr hadir di setiap tahunnya, para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Pendapat yang kuat adalah bahwa malam itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Rasulullah saw bersabda,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah Lailatul Qadr pada malam yang ganjil dalam sepuluh malam yang akhir dari Ramadan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Malam ganjil dalam sepuluh hari terakhir bulan Ramadan adalah 21, 23, 25, 27, dan 29. Allah swt dan Rasul-Nya tidak memastikan kapan tepatnya malam al-Qadr itu datang, karena hal itu merupakan rahasia Allah swt. Dulu, sebagaimana diriwayatkan al-Bukhari, Rasulullah saw pernah memperoleh kepastian dari Allah swt terkait kapan datangnya malam al-Qadr. Ketika itu beliau hendak mengabarkan berita gembira tersebut kepada para sahabat. Namun, ternyata beliau mendapati dua orang sahabat sedang berselisih masalah hutang di masjid.

Baca Juga :  Lima Cara Iblis Menjerumuskan Manusia pada Keburukan

Nabi bersabda, “Sebenarnya saya keluar untuk memberitahukan kepada kalian tentang waktu terjadinya Lailatul Qadr, namun ternyata ada dua orang sahabat yang berselisih, sehingga kepastian waktunya diangkat (menjadi tidak diketahui).”

Menurut al-Qasthalani, kedua sahabat tersebut adalah Abdullah bin Abi Hadrad dan Ka’ab bin Malik. Ketika itu Abdullah bin Abi Hadrad sedang menagih hutang dari Ka’ab bin Malik yang kemudian berakhir dengan perselisihan di masjid. Suara keduanya meninggi, padahal Rasulullah saw berada di antara mereka. Masjid dan bulan Ramadan yang merupakan tempat dan waktu untuk memperbanyak zikir digunakan oleh kedua sahabat tersebut untuk berselisih. Karena itulah kepastian waktu Lailatul Qadr diangkat dari pengetahuan Rasulullah saw dengan cara menjadikannya lupa akan kepastian tersebut.

“Semoga kejadian ini menjadi kebaikan buat kalian. Maka carilah Lailatul Qadr pada malam yang kesembilan, ketujuh dan kelima (pada sepuluh malam akhir dari Ramadan),” pungkas Rasulullah saw menasihati. (HR. Al-Bukhari)

Bersambung ke Mengaji Makna “Lailatul Qadar” (2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here