Mengaji Makna “Lailatul Qadar” (3-Habis): Hikmah Dirahasiakan Waktu Lailatul Qadar

0
751

BincangSyariah.Com – Banyak hikmah yang tersimpan dari diangkatnya pengetahuan tentang kapan terjadinya lailatul qadar secara pasti. Setidaknya, dengan dirahasiakannya waktu terjadinya lailatul qadar, kita terfokus untuk meningkatkan ibadah Ramadan selama sebulan penuh. Jika malam al-Qadr terjadi pada salah satu dari malam-malam Ramadan, maka dengan menghidupkannya selama sebulan penuh, secara otomatis kita akan meraihnya.

Meskipun waktu pasti dari lailatul qadar dirahasiakan oleh Allah swt, namun Dia, sebagaimana disabdakan Nabi saw, telah memberikan batasan rentang waktu terjadinya malam itu, yaitu di antara 10 hari terakhir bulan Ramadan. Lebih spesifik lagi, sebagaimana dalam hadis Nabi di atas, malam tersebut terjadi pada malam ganjil dari 10 hari tersebut.

Batasan 10 hari terakhir bulan Ramadan inilah yang diterjemahkan oleh banyak umat Islam di Indonesia dengan berbondong-bondong memenuhi masjid. Satu fenomena menarik dari warga Muslim di negeri ini adalah kebiasaan mereka menyambut gempita datangnya bulan Ramadan dengan meramaikan masjid melalui salat Tarawih, buka bersama, serta pengajian Ramadan. Keramaian ini berkurang sedikit demi sedikit seiring dengan bertambahnya hari pada bulan Ramadan. Lalu keramaian itu mulai nampak kembali ketika memasuki 10 hari terakhir pada bulan Ramadan.

Di DKI Jakarta, misalnya, banyak warga Muslim yang meramaikan masjid-masjid pada malam 10 hari terakhir bulan Ramadan. Tidak sedikit dari mereka yang mengajak seluruh keluarganya untuk menghidupkan malam-malam tersebut. Bahkan, ada pula yang rela meninggalkan pekerjaannya dengan menetap di masjid selama 10 hari tersebut, baik siang maupun malam. Sebagian dari mereka ada yang hanya memilah malam-malam ganjil saja, namun banyak pula yang tidak membedakannya. Pada hari-hari tersebut mereka sibuk dengan salat, membaca al-Quran, berzikir, i’tikaf, serta aktifitas positif lainnya.

Baca Juga :  Lailatulqadar di Mata Nabi dan Tuntunan untuk Meraihnya

Pihak masjid pun menyambut baik jamaahnya dengan memberikan sajian buka puasa beserta sahur secara gratis. Sementara sedekah dari para jamaah melalui kotak amal masjid pun mengalir tak henti-hentinya. Untuk menambah asupan rohani, pihak masjid mengadakan majelis-majelis taklim dengan mengundang para ustadz ternama sebagai pembicaranya. Hal ini berlangsung hingga hari terakhir dari bulan Ramadan. Semua itu mereka lakukan semata-mata mengikuti ajaran Rasulullah saw, sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah ra. Beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ

“Pada sepuluh terakhir bulan Ramadlan Rasulullah saw berijtihad melebihi hari-hari selainnya.” (HR. Muslim)

Ijtihad adalah mencurahkan seluruh tenaga dan kemampuan. Rasulullah saw mencurahkan segenap kemampuannya pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan melebihi hari-hari lainnya. Dalam riwayat lain terdapat uraian Aisyah ra yang lebih jelas mengenai apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw selama 10 hari tersebut. Aisyah ra berkata:

إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadan), Nabi saw mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya (dengan beribadah), dan membangunkan keluarganya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadis di atas menjadi penjelas dari laku Nabi saw dalam menjalani 10 hari terakhir bulan Ramadan. Ada tiga poin yang dapat dipetik dari hadis di atas tentang cara Nabi saw mengisi hari-hari tersebut. Tiga poin ini dapat dijadikan role model bagi umat Islam dalam rangka menyempurnakan ibadah bulan Ramadan dan mengikuti petunjuk Nabi saw.

Pertama, mengencangkan sarung. Oleh karena Nabi saw benar-benar mencurahkan tenaga dan kemampuannya dalam mengisi 10 hari terakhir Ramadan, maka sebagai tandanya adalah beliau mengencangkan sarungnya. Mengencangkan sarung ini merupakan metafor dari menjauhi istri-istrinya, dalam hal ini dengan tidak menggauli mereka dan fokus beribadah kepada Allah swt.

Baca Juga :  Hadis-hadis Keutamaan Diam

Kedua, menghidupkan malam. Pada 10 hari terakhir Ramadan, Rasulullah saw menjauhi tempat tidurnya dengan melaksanakan ibadah, sehingga dengan hal itu malamnya menjadi hidup. Beliau memperbanyak ibadah, mulai dari salat, zikir, membaca al-Quran, bersedekah, serta ibadah-ibadah lainnya. Keheningan malam dan sepinya dari aktifitas-aktifitas dunia menjadi waktu yang tepat untuk bermunajat kepada-Nya, memohon ampun, dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya.

Ketiga, membangunkan keluarganya. Dalam menghidupkan 10 hari terakhir Ramadan, Rasulullah saw tidak hanya mementingkan dirinya, namun juga membangunkan keluarganya dan mengajak mereka untuk ikut melaksanakan ibadah malam serta meraih pahala yang disiapkan oleh Allah bagi mereka yang menghidupkan 10 hari terakhir Ramadan. Ini merupakan bentuk pertanggungjawaban Rasulullah saw dalam menjaga keluarganya. Beliau tidak membiarkan mereka terlelap dalam tidur melewatkan pahala yang dihidangkan oleh swt. Poin ketiga ini selaras dengan hadis Nabi saw yang lain:

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ

“Allah swt merahmati seorang lelaki yang bangun pada malam hari kemudian melaksanakan salat dan membangunkan isterinya. Apabila isterinya menolak, dia akan memercikkan air ke mukanya. Dan Allah swt merahmati seorang isteri yang bangun pada malam hari lalu salat, kemudian dia membangunkan suaminya. Apabila suaminya enggan, maka isterinya akan memercikkan air ke muka suaminya.” (HR. Abu Dawud)

Tiga poin ajaran Nabi saw di atas selayaknya kita ikuti dan kita jadikan pedoman dalam menghidupkan 10 hari terakhir bulan Ramadan. Dengan menghidupkan 10 hari tersebut semoga kita meraih Lailatul Qadr serta memperoleh keutamaan darinya, sebagaimana disabdakan Nabi saw,

Baca Juga :  Abdullah bin Umar Ra.: “Dianggap Jelek Karena Tidak Mengamalkan Ayat Lebih Baik dari Memerangi Saudara Sendiri”

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa menghidupkan Lailatul Qadr (dengan ibadah) karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dari-Nya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya.” (HR. Al-Bukhari)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here