Mengaji Makna “Lailatul Qadar” (1)

0
432

BincangSyariah.Com – Terdapat sebuah hadis yang beredar di masyarakat tentang fadilah (keutamaan) bulan Ramadan. Bahkan hadis ini bisa dibilang paling populer disampaikan para penceramah di mimbar-mimbar masjid atau pengajian. Hadis itu berbunyi,

أَوَّلُ شَهْرِ رَمَضَانَ رَحْمَةٌ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ.

“Permulaan bulan Ramadan adalah rahmat, pertengahannya maghfirah, dan penghujungnya adalah pembebasan dari neraka.”

Hadis ini dapat kita temukan dalam kitab al-Dhu‘afa’ al-Kabir karya al-‘Uqaili, al-Kamil fi al-Dhu‘afa’ karya Ibnu ‘Adiy, Mudih Auham al-Jam’i wa al-Tafriq karya al-Khatib al-Bagdadi, Tarikh Dimasyq karya Ibnu ‘Asakir, Fadha’il Ramadan karya Ibnu Abi al-Dunya, dan al-Firdaus bi Ma’tsur al-Khithab karya al-Dailami. Hadis ini adalah penggalan dari sebuah Hadis yang cukup panjang dalam kitab Shahih Ibnu Khuzaimah dan kitab Syu’ab al-Iman karya al-Baihaqi.

Dari segi kualitas, hadis ini sangat lemah sekali. Sumber kelemahannya terletak pada dua orang rawi dalam hadis tersebut. Pertama, Sallam bin Sawwar yang bernama lengkap Sallam bin Sulaiman bin Sawwar. Ia adalah munkar al-Hadits (hadisnya munkar). Kedua, Maslamah bin al-Shalt, ia adalah matruk (semi palsu). Karenanya, hadis ini dihukumi munkar disebabkan rawi yang bernama Sallam bin Sawwar. Bisa juga hadis ini disebut matruk (ditinggalkan, karena faktor perawinya) karena faktor rawi yang bernama Maslamah bin al-Shalt.

Dengan demikian, kita tidak bisa mengamalkan hadis ini sebagai dasar keutamaan bulan Ramadan dengan mengklasifikasikannya menjadi tiga, sebagaimana tercantum dalam isi hadis tersebut.

Dalil Lain

Meskipun begitu, bukan berarti tidak ada klasifikasi keutamaan bulan Ramadan. Sebagai contoh adalah sepuluh hari terakhir bulan Ramadan yang memiliki keutamaan lebih dibanding hari-hari lainnya. Di antara sepuluh hari tersebut terdapat sebuah malam yang dikenal dengan Lailatul Qadar.

Secara khusus, Allah Swt mengabadikan penjelasan Lailatur Qadar dalam Alquran melalui sebuah surat yang bernama al-Qadr,

Baca Juga :  Belajar Tauhid: Apakah Hari Akhir itu?

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ﴿1﴾ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ﴿2﴾ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ﴿3﴾ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ﴿4﴾ سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ﴿5﴾

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan apakah yang menjadikan engkau tahu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr 1-5)

Menurut M. Quraish Shihab, setidaknya, terdapat empat makna dari kata al-qadr pada ayat di atas. Pertama, penetapan. Lailatu al-Qadar adalah malam penetapan Allah atas perjalanan hidup makhluk selama setahun. Pendapat ini didukung, antara lain, oleh firman Allah Swt,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ ﴿3﴾ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ – 4

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkati dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu ditetapkan segala urusan bijaksana.” (QS. Al-Dukhan: 3-4)

Kedua, pengaturan. Malam al-qadr adalah malam diturunkannya Alquran, di mana Allah Swt mengatur khitthah atau strategi bagi Nabi-Nya, Muhammad saw, guna mengajak manusia kepada kebajikan.

Ketiga, kemuliaan. Ini berarti bahwa Allah Swt menurunkan  Alquran pada malam yang mulia. Malam itu menjadi mulia dikarenakan kemuliaan Alquran, dan Nabi saw memperoleh kemuliaan dengan wahyu yang ia terima. Ada juga yang memahami bahwa kemuliaan tersebut berkaitan dengan ibadah, bahwa ibadah pada malam tersebut memiliki nilai tambah berupa kemuliaan dan ganjaran tersendiri, berbeda dengan malam-malam lain. Ada juga yang berpendapat bahwa apabila pada malam itu ada seseorang yang khusyuk tunduk kepada Allah, menyadari dosa-dosanya, serta bertekad untuk tidak mengulanginya lagi, maka ia akan memperoleh kemuliaan dari Allah Swt.

Baca Juga :  Bolehkah Barang Jaminan Utang Diolah Agar Mendapat Keuntungan?

Keempat, sempit. Pada malam turunnya Alquran, malaikat begitu banyak yang turun sehingga bumi menjadi penuh sesak dan sempit.

Pendapat-pendapat tentang makna al-qadr di atas dapat kita terima semuanya dan secara bahasa memang dapat dibenarkan. Yang pasti, malam al-qadr adalah malam yang mulia lagi hebat: malam di mana Alquran yang mulia turun ketika itu kepada Nabi Muhammad yang mulia, melalui perantara malaikat mulia (Jibril), dan diperuntukkan untuk umat yang mulia di muka bumi ini.

Bersambung ke Mengaji Makna “Lailatul Qadar” (2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here