Mengajarkan Al-Qur’an kepada Non-Muslim, Apakah Boleh?

0
18

BincangSyariah.Com – Dalam kehidupan sehari-hari, aktivitas belajar-mengajar Al-Qur’an diselenggarakan oleh umat muslim itu sendiri. Tujuannya dalam rangka meningkatkan pengetahuan tentang Al-Qur’an, baik sekedar belajar membaca maupun juga mempelajari tentang hukum-hukumnya. Lantas, bolehkah kita mengajarkan Al-Qur’an kepada non-Muslim dengan maksud menyebarkan luaskan syiar Islam?

Berkenaan dengan ini, Allah Swt. berfirman dalam surah At-Taubah ayat 6,

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ

Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui”. (Q.S At-Taubah: 6)

Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas mengafirmasi kepada kaum non-Muslim untuk belajar Al-Qur’an dari jasa seorang muslim yang disewa olehnya. Tidak hanya itu, ayat di atas juga mewajibkan kaum muslim untuk mengajarkan ilmu agama – khususnya ilmu tauhid – kepada non-Muslim yang ingin belajar tentang agama, sekalipun harbi (yang memerangi agama Islam). (Ibnu Katsir, Tafsir al-Quran al-‘Adzim, jus 2, hal 337)

Mengapa bisa demikian? Menurut pandangan al-Jashas, non-Muslim yang meminta diajari agama tersebut sudah pasti termasuk orang yang memang ingin mengetahui agama yang benar. Oleh karena itu, wajib bagi muslim untuk memberikan jaminan aman kepadanya di saat proses belajar-mengajar tentang agama. (Imam al-Jashas, Ahkam al-Quran, jus 3, hal 103)

Persoalan kaum non-Muslim tersebut menerima atau menolak apa yang diajarkan oleh kaum muslim, itu adalah persoalan lain. Imam al-Qurthubi menegaskan,

قوله تعالى : { وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ } أي من الذين أمرتك بقتالهم ، استجارك أي سأل جوارك ، أي : أمانك وذمامك ، فأعطه إياه ليسمع القرآن ، أي : يفهم أحكامه وأوامره ونواهيه ، فإن قبل أمرا فحسن ، وإن أبى فرده إلى مأمنه ، وهذا ما لا خلاف فيه

Yang dimaksud oleh firman Allah Swt “wa in ahad min al-musyrikin” adalah kaum non-Muslim yang diperintahkan untuk dibunuh (kafir harbi). Jika mereka menyewa jasamu untuk memberikan jaminan aman maka berilah jaminan aman tersebut agar mereka bisa mendengarkan Al-Qur’an, yakni segala ketentuan yang ada di dalamnya. Jika mereka menerima maka hal itu baik. Namun, jika mereka menolak maka kembalikanlah mereka ke tempat amannya mereka (tempat asalnya). Ini adalah persoalan yang tidak diperselisihkan di kalangan ulama.”. (Imam al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, jus 8, hal 75-76)

Bukan hanya itu, praktik semacam ini juga pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw. ketika mengirim surat kepada raja Romawi, Heraclius guna mengajaknya masuk Islam. Surat tersebut berisi tentang ajakan untuk mengesakan Allah Swt., tidak menyekutukan-Nya dengan apapun dan mengakui bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah utusan Allah Swt. (Imam al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, jus 1, hal 263)

Kendatipun demikian, persoalan semacam ini masih menjadi perdebatan di kalangan ulama mazhab. Menurut Imam Malik, kaum muslim dilarang secara mutlak mengajarkan Al-Qur’an kepada non-Muslim, baik yang diajarkan hanya sedikit maupun banyak.

Pendapat ini disandarkan kepada Hadis yang melarang seorang muslim membawa Al-Qur’an ke wilayah yang dikuasai oleh kaum non-Muslim.

Alasan lainnya, jika non-Muslim diajari Al-Qur’an maka akan berakibat kepada dikuasainya Al-Qur’an oleh non-Muslim yang berpotensi segala isinya akan dirubah (tahrif). (Imam al-Baji, al-Muntaqa li al-Baji ‘ala al-Muwattha’, jus 3, hal, 165)

Namun, sebagian ulama yang bermazhab Maliki masih ada yang merincinya. Jika yang diajarkan sedikit sebagai dalil argumentasi maka diperbolehkan. Jika banyak maka tidak diperbolehkan. (Imam al-Zarqani, al-Zarqani al-Muwattha’, jus 10, hal 10)

Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah, parktik semacam ini diperbolehkan secara mutlak, baik diharapkan masuk Islam atau tidak. Pendapat ini berpedoman pada Hadis yang berkisah tentang surat-menyurat Nabi kepada raja Romawi, Heraclius sebagaimana yang disebutkan di atas.

Alasan lainnya, belajar-mengajar Al-Qur’an tersebut dalam rangka menumbuhkan rasa ingin kepada non-Muslim yang belajar untuk masuk Islam. (Imam al-‘Aini, al-‘Aini, jus 14, hal 207)

Adapun di dalam mazhab Syafii sendiri, masih terjadi silang pendapat. Ada yang melarangnya secara mutlak, sekalipun non-Muslim tersebut diharapkan masuk Islam.

Ada juga yang membolehkannya dengan syarat ada harapan islamnya non-Muslim yang belajar Al-Qur’an. Dan pendapat kedua inilah yang diunggulkan oleh Imam Nawawi, al-Qodhi Husain, al-Baghawi, dan lain-lain. (Imam al-Nawawi, Majmu’ Syarh al-Muhadzab, jus 2, hal 78)

Alhasil, hukum mengajarkan Al-Qur’an kepada non-Muslim masih diperdebatkan di kalangan ulama, baik dalam satu mazhab maupun lintas mazhab.

Oleh karena itu, kita sebagai orang muslim jangan sampai menyalahkan muslim lainnya yang mengajarkan Al-Qur’an atau ilmu agama kepada non-Muslim karena masih ada ulama yang membolehkannya.

Kendatipun ada ulama yang melarangnya, paling tidak kita masih bisa menjaga kerukunan dalam satu agama – lebih-lebih, antar umat beragama – dalam pentas kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya di negeri Indonesia.

Allau A’lam….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here