Menelusuri Batas-Batas Diperbolehkan Transaksi Ribawi dalam Gold Trading

0
25

BincangSyariah.Com – Emas merupakan komoditas barang ribawi, bersama dengan perak dan bahan makanan. Ketiganya memiliki ciri dan watak khusus bila diperdagangkan. Watak khusus itu secara ekonomi adalah disebabkan karena sifat harganya yang cenderung fluktuatif. Harga hari ini, bisa saja tidak sama dengan harga besok. Begitulah karakteristiknya. (Baca: Investasi Emas dalam Perspektif Hukum Islam)

Itu sebabnya ketiganya diistilahkan dengan istilah ribawi, yang dalam pertimbangan penulis, setelah membandingkan beberapa pengertian leksikalnya, adalah cenderung merujuk pada pengertian naik dan turun secara cepat.

Ciri khas fluktuatif (penulis: keribawian) ini setidaknya ditandai oleh 2 hal, yaitu:

  1. ketiganya merupakan aset yang memiliki liquiditas tinggi (mudah dicairkan), dan
  2. ketiganya juga merupakan aset yang volatil. Imbas akhirnya, permintaan terhadap ketiganya sangat tinggi di pasaran, sehingga berujung pada naik dan turunnya harga secara cepat tersebut di pasaran, khususnya hal ini sangat terasa di pasar berjangka.

Itu sebabnya, maka dari sisi pertukarannya, ketiga barang ribawi ini memerlukan sejumlah pedoman khusus dan sangat diperhatikan oleh Islam. Berikut ini kita akan ulas beberapa ketentuan itu, yang tentu saja akan kita hubungkan dengan tujuan utama kita, yaitu mendudukkan gold trading dalam bingkai fikih muamalah.

Watak dan Ketentuan Pertukaran Barang Ribawi dalam Islam

Secara khusus, watak pertukaran barang ribawi bisa diikelompokkan menjadi 2, yaitu: 1) bila diperdagangkan dengan sesama jenisnya, dan 2) bila diperdagangkan dengan jenis yang berbeda.

Ketika diperdagangkan dengan sesama jenisnya, maka syarat yang berlaku dalam pertukaran ribawi adalah wajib memenuhi ketentuan 1) hulul (kontan atau tunai), 2) saling serah terima (taqabudl / imkan al-qabdli), dan 3) besaran dan takarannya sama (tamatsul).

Untuk perdagangan barang ribawi yang tidak sesama jenis, meniscayakan dilakukan secara 1) hulul (kontan atau tunai (diketahui kapan jatuh tempo penyerahannya)) dan 2) saling bisa diserahterimakan (taqabudl/imkan al-qabdli).

Nah, dari kedua watak itu, yang berlaku di pasar berjangka untuk Gold Trading, adalah watak kedua, yaitu pertukaran barang ribawi dengan tidak sesama jenisnya. Misalnya, emas dengan uang (jual beli tunda), atau sebaliknya uang dengan emas (jual beli salam).

Titik Tengkar Pandangan Fuqaha’ terhadapp Perdagangan Emas

Pada prinsipnya, perdagangan klasik emas adalah diperdagangkan pada pasar langsung. Dii pasar tradisional ini, emas diperdagangkan dalam wujud serah terima antara fisik harga dan barang secara langsung di majelis akad. Prinsip seperti ini dikenal dengan istilah “kontan.” Alhasil, kontan merupakan dalil asal dari perdagangan barang ribawi (emas, perak dan bahan makanan).

Seiring perjelanan waktu dan perkembangan situasi yang melingkupi masyarakat dan pasar, penyerahan antara harga dan barang membutuhkan adanya jeda waktu. Adakalanya barangnya dulu yang diserahkan, sementara harganya diserahkan kemudian, misalnya untuk jual beli tempo (bai’ bi al-ajal). Di sisi lain, harganya dulu yang diserahkan, sementara barangnya diserahkan kemudian (jual beli salam).

Jika dirangkum, dari kedua kondisi terakhir ini, melahirkan 3 fakta terbaru prinsip jual beli, yaitu: a) utang (qardl), b) jual beli tempo (bai’ bi al-ajal) dan c) pesan barang  (bai’ salam).

Persamaan Utang dan Jual Beli Tempo dan Inden (Salam)

Utang, memiliki prinsip yang sama dengan jual beli tempo (bai’ bi al ajal). Keduanya disatukan oleh penyerahan harga di waktu mendatang setelah jatuh tempo (hulul al-ajal).

Ciri khas utang, fisik barang yang diserahkan kini, berbeda dengan fisik barang yang diserahkan kemudian. Adanya perbedaan fisik yang diserahterimakan, menandakan adanya pertukaran / barter / mu’awadlah (nenek moyangnya akad jual beli).

Yang membedakan antara utang dan jual beli tempo, adalah utang disyariatkan dengan tujuan dasar tolong menolong (qashdu al-irfaq). Sementara, bai bi al-ajal disyariatkan dengan tujuan dasar adalah bisnis.

Konsekuensi dari adanya pertukaran – sebagaimana yang disebutkan di atas, adalah ada barang yang ditempatkan menduduki maqam harga  (tsaman). Di sisi lain ada barang yang menduduki maqam yang objek dibeli (mabi’). Misalnya, XAU ditukar dengan IDR. XAU bisa menduduki maqam harga, sementara IDR sebagai maqam objek yang dibeli (mabi’). Atau posisinya bisa dibalik, XAU sebagai mabi’, sementara IDR sebagai harga.

Sementara itu pada akad pesan barang (bai’ salam), dicirikan oleh keberadaan harga yang diserahkan dimuka, sementara barang dagangan (mabi’) diserahkan di belakang saat jatuh tempo /kadaluarsa.

Pada prinsipnya, akad salam ini juga memiliki dasar yang sama dengan utang (qardl). Maksudnya bagaimana? Ketika pembeli sudah menyerahkan harga, maka secara tidak langsung pihak penjual terbebani untuk mengadakan barang.

Alhasil, barang itu statusnya adalah utang. Jadi, perbedaan antara qardl dan jual beli tempo serta jual beli salam, adalah hanya pada penempatan maqam harga dan barang ganti saja.

Yang perlu digarisbawahi adalah, bahwa fondasi (dalil asal) kedua mekanisme di atas adalah sama, yaitu qardl (utang). Karena objek pertukaran dalam Gold Trading adalah barang ribawi, maka meniscayakan berlakunya ketentuan hulul (kontan/tunai), taqabudl (saling serah terima) dan tamastul (sama kadar dan takarannya) khususnya jika objek pertukarannya adalah barang ribawi sejenis. Adapun di dunia trading, pertukaran berlangsung dalam konteks bukan barang ribawi sejenis. Ketentuan syariat yang berlaku adalah 1) wajibnya hulul (kontan atau tunai) dan 2) taqabudl (bisa saling serah terima).

Di sini, titik tengkar pandangan fuqaha kontemporer ada pada diksi kontan dan tunai. Diksi kontan, dipergunakan saat penjual dan pembeli bertemu langsung di majelis akad dan saat itu terjadi serah terima harga dan barang.

Adapun diksi tunai, dipergunakan saat penjual dan pembeli  baik bertemu secara langsung atau tidak langsung di majelis akad, akan tetapi salah satu dari harga atau barang menghendaki penyerahan tunda.

Batasan yang disampaikan oleh fuqaha’ untuk membedakan keduanya sebagai boleh atau tidaknya dalam syariat adalah wajibnya prinsip kesepakatan harga di majelis akad.

Untuk menghindari terjadinya gharar (spekulatif), maka wajib diserahkan salah satunya, yaitu harganya dulu, atau barangnya dulu.

Jika penyerahan terjadi pada harga dulu, maka itu artinya terjadi jual beli sistem salam (inden barang). Jika penyerahan terjadi pada barang dulu, maka itu artinya terjadi jual beli tempo.

Kredit merupakan bagian dari jual beli tempo, hanya saja dipisahkan oleh adanya jeda waktu yang jelas. Misalnya, membeli 1 gram emas dengan harga 100 USD, dibayar selama 1 tahun.

Perdagangan Emas di Pasar Berjangka

Pasar berjangka dicirikan oleh keberadaan harga dan barang tidak bisa diserahkan langsung secara fisik. Harganya ada dalam bentuk maal maushuf fi al-dzimmah (harta utang yang dijamin penunaiannya), sementara barang juga ada dalam bentuk maal maushuf fi al-dzimmah (utang yang dijamin penunaiannya).

Alhasil, keduanya bisa disebut juga sebagai jual beli utang dengan utang (bai’ dain bi al-dain). Seiring mekanisme ini dibutuhkan, maka syariat membolehkannya dengan alasan dlarurah li masisi al-hajah (darurat karena dibutuhkan) dan menempatkannya secara khusus dalam pasal kajian hiwalah (oper tanggungan utang).

Batasan yang ditetapkan oleh syariat adalah:

  1. Harta yang dijadikan sebagai objek pengalihan, tidak boleh terdiri dari harta fiktif. Jadi, baik harga (tsaman) maupun barang (mabi’), haruslah keduanya berlaku sah sebagai harta. Dalam konteks ini, XAU adalah sah sebagai harta. Sementara itu IDR, juga kedudukannya sah sebagai harta. Alhasil, keduanya bisa dijadikan objek pengalihan.
  2. Jika terdapat salah satu dari harta dan barang merupakan yang tidak memenuhi syarat selaku harta, maka prinsip pengalihan ini merupakan yang dilarang syariat, sebab sama saja dengan telah terjadi praktik bai’ ma’dum, yaitu jual beli barang fiktif (mondial).
  3. Besaran utang yang dialihkan, adalah sama besar dengan besaran tanggungan yang harus ditunaikan oleh pihak lain yang menerima pengalihan. Suatu misal, jika XAU dibeli pada waktu kini dengan harga 100 USD untuk 1 gram XAU, maka saat jatuh tempo pembayaran, besaran XAU yang harus diserahkan adalah sebesar 1 gram XAU. Tidak boleh lebih atau kurang.

Selanjutnya, bagaimana mekanisme Transaksi emas di Pasar Berjangka itu dilakukan? Simak pada tulisan berikutnya!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here