Menelusuri Asbab Nuzul Surah al-Kahfi

0
963

BincangSyariah.Com – Pembesar Quraisy kebingungan mengatasi dakwah Nabi Muhammad saw. Semakin hari, dakwah Nabi kian diterima. Pengikutnya memang tak bertambah banyak, tetapi makin setia. Keimanan mereka seperti batu karang. Kukuh. Teguh.

Pembesar Quraisy merancang strategi untuk bisa menggoyang keabsahan kenabian Muhammad saw. Dengan begitu, kelompok kecil yang dipimpin Muhammad itu akan runtuh. Pembesar Quraisy lantas mengutus dua orang untuk menemui pemuka agama Yahudi di Yatsrib. Keduanya adalah Nadhr bin Harits dan Uqbah bin Abi Mu’aith. Mereka mendapatkan tugas untuk menceritakan seluk beluk Nabi Muhammad kepada pemuka agama Yahudi dan bertanya mengenai kebenaran kenabiannya.

“Mereka (Yahudi) adalah Ahli Kitab pertama. Mereka memiliki pengetahuan tentang para nabi; pengetahuan yang tidak kita kuasai,” demikian alasan pembesar Quraisy.

Saat bertemu pemuka agama Yahudi, Nadhr dan Uqbah mendapatkan tiga pertanyaan untuk menguji kebenaran Nabi Muhammad. Pertama, tanyakan tentang sekelompok orang yang pergi pada zaman dahulu. Bagaimana kondisi mereka dan apa peristiwa luar biasa terkait itu. Kedua, tentang seseorang yang mengelilingi bumi, dari timur ke barat. Minta dia menceritakan tentangnya. Ketiga, apa itu ruh dan bagaimana hakikatnya?

“Kalau dia bisa menjawabnya dengan baik, ikutilah dia. Memang benar dia nabi. Jika sebaliknya, terserah kalian mau apakan dia,” kata pemuka agama Yahudi.

Nadhr dan Uqbah kembali dan menceritakan pesan pemuka agama Yahudi kepada pembesar Quraisy. Mereka girang. Merasa seperti mendapatkan amunisi untuk merobohkan legitimasi Nabi Muhammad. Bagaimana pun, Nabi Muhammad dikenal sebagai ummi. Tak bisa membaca dan tak bisa menulis. Juga tidak ada riwayat shahih yang menceritakan Nabi Muhammad pernah belajar agama-agama terdahulu kepada tetua atau pemuka agama mana pun. Tetapi, Nabi Muhammad, sejak kecil sampai diangkat sebagai Rasulullah pada usia 40, sudah dikenal dengan julukan al-Amin (yang tepercaya). Artinya, kecil kemungkinan Nabi Muhammad saw. berbohong. Kalau dia tidak tahu, pasti dia akan mengatakannya. Tetapi, dari mana dia bisa tahu karena bahkan pembesar Quraisy saja tak memiliki pengetahuan tentang para nabi; apatah lagi Muhammad.

Baca Juga :  Hukum Memakai Pakaian Serba Hitam Saat Upacara Pemakaman

Maka, tanpa berpanjang kalam, Nadhr dan Uqbah menemui Nabi Muhammad dan mereka mengajukan tiga pertanyaan tersebut kepadanya. Setelah mendengarkan pertanyaan dari keduanya, tanpa ragu Nabi Muhammad saw. meminta waktu untuk menjawabnya. “Besok.” Nabi berharap wahyu turun untuk menjawabnya.

Tetapi, Malaikat Jibril tak turun membawa wahyu pada keesokan harinya. Juga keesokan harinya. Juga keesokan harinya lagi. Begitu sampai lima belas hari. Kondisi ini melahirkan desas-desus di kalangan kafir Quraisy. “Dijanjikan akan dijawab keesokan harinya, ternyata sampai hari kelima belas belum juga ada jawaban dari Muhammad,” demikian kira-kira desas-desas itu. Nabi Muhammad saw. sedih.

Tetapi, pada hari kelima belas itu Malaikat Jibril turun. “Apa yang menghalangimu untuk berkunjung, Jibril?” tanya Nabi Muhammad saw.
Jibril membalasnya,

وَمَا نَتَنَزَّلُ إِلَّا بِأَمْرِ رَبِّكَ ۖ لَهُ مَا بَيْنَ أَيْدِينَا وَمَا خَلْفَنَا وَمَا بَيْنَ ذَٰلِكَ ۚ وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا

“Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa.” (Maryam [19]: 64)

Sejak itu, Nabi Muhammad senantiasa membubuhi tindakan yang akan dia lakukan dengan ucapan, “In sya Allah. Bila Allah menghendaki.” (Karena ini pengantar maka kita akan membahasnya secara detail pada ayat 23-24 surah al-Kahfi ini).

Malaikat Jibril pun menurunkan surah Al-Kahfi untuk menjawab ketiga pertanyaan Nadhr dan Uqbah; wahyu ini termasuk yang membuat hati Nabi Muhammad saw. bombong. Surah ini menandaskan kenabian dan kerasulan Muhammad saw. Demikian Imam Qurthubi mengisahkan proses turun surah al-Kahfi ini dalam al-Jami’ Liahkami al-Quran.

Dan, berdasarkan petunjuk dan kebiasaan Nabi Muhammad saw. dan para sahabat, umat Islam sering membaca surah al-Kahfi ini pada malam jumat. Hal ini berdasarkan riwayat dari sahabat Sai’id al-Khudri bahwa barang siapa membaca surah al-Kahfi pada malam jumat maka dia akan diterangi cahaya; yang terangnya mencapai antara dirinya dengan Bait al-Atiq (Musnad Ad-Darimi).

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Rahman Ayat 29-30; Tuhan Merasa Sibuk Kabulkan Doa Hamba-Nya?

Di dalam Musnad Ahmad disebutkan riwayat lain, “Barang siapa membaca awal surah al-Kahfi dan akhirnya, dia mendapatkan cahaya dari kaki sampai kepalanya. Barang siapa membaca semuanya, dia mendapatkan cahaya antara langit dan bumi.”

Selain itu, Nabi Muhammad saw. sendiri menjamin bahwa barang siapa menghafal sepuluh ayat awal dari surah al-Kahfi maka dia akan dijaga dari fitnah Dajjal. (HR. Muslim No. 1342)

Masih dalam Shahih Muslim. Diceritakan bahwa suatu hari sahabat bernama Usaid bin Hudhair membaca al-Quran dan di dekatnya ada seekor kuda yang tertambat. Saat membaca surah al-Kahfi, kuda itu terus meloncat. “Saya khawatir kuda itu akan menginjak Yahya (putranya), maka aku pun berdiri di depannya. Ternyata, aku melihat ada sesuatu yang menaungi di atas kepalaku. Di dalamnya terdapat cahaya yang menjulang ke angkasa sehingga aku tak melihatnya lagi.”

Pagi harinya, Usaid menceritakan pengalamannya kepada Nabi Muhammad saw. Nabi meminta Usaid membaca surah yang dia baca semalam (surah al-Kahfi). Nabi bersabda, “Itu adalah malaikat yang sedang menyimak bacaanmu. Seandainya kamu terus membaca, niscaya pada pagi harinya manusia akan melihatnya dan malaikat itu tidak bisa menutup diri dari pandangan mereka.” (HR. Muslim No. 1327).

Surah al-Kahfi ini disepakati para ulama turun di Mekkah dan sebelum hijrah. Karena itu masuk dalam kategori Surah Makiyyah. Ayatnya berjumlah 110. Imam Bukhari dalam Shahih-nya meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa surat Bani Israil, Al-Kahfi, Maryam, Thaha, dan al-Anbiya adalah termasuk yang pertama kali turun (HR. Bukhari No. 4610).

Sementara itu, Imam Suyuthi dalam al-Itqan-nya mengecualikan ayat 1-7, ayat 28, dan 107-110. Ayat-ayat ini turun di Madinah. Sedangkan Imam Qurthubi dalam al-Jami’ Liahkami al-Quran menyebutkan bahwa memang ada riwayat yang menyatakan ayat 1-7 Surah al-Kahfi turun di Madinah. Tetapi, Imam Qurthubi sendiri memilih memegang pendapat ulama tafsir yang berpendapat surah ini masuk kategori Makiyyah maka ayat itu turun di Mekkah.

Baca Juga :  PM Selandia Baru: Penembakan Masjid adalah Serangan Terorisme

Syaikh Manna’ al-Qathan dalam Mabahits fi Ulum al-Quran menjabarkan sekian kategori Makiyyah. Salah satunya adalah mengandung kisah para nabi dan umat terdahulu. Dan memang, dalam surah al-Kahfi ini ada kisah Ashabul Kahfi, Nabi Musa as. dan Nabi Khidir as., juga cerita Dzulqarnain.

Surah Makiyyah juga memiliki keistimewaan. Di antaranya adalah mengajak kepada tauhid dan beribadah kepada Allah, menegaskan kerasulan, menandaskan hari kebangkitan dan hari pembalasan, membahas soal kiamat dan seluk beluknya, tentang neraka dan azabnya, surga dan kenikmatannya, menyajikan perdebatan dengan kalangan musyrik yang disertai bukti-bukti rasional, dan ayat-ayat yang bercerita mengenai alam (kauniyah). Dan itu bisa dilihat dari ayat-ayat pertama Surah al-Kahfi ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here