Menelantarkan Anak Menurut Pandangan Al-Quran

0
1500

BincangSyariah.Com –  Dalam dunia perniagaan, dua istilah penting yang digunakan dari pedagang sayur sampai bos perusahaan besar, adalah untung dan rugi. Untung merupakan istilah yang disematkan terhadap hasil akhir proses jual beli yang mendatangkan pemasukan yang sesuai dengan perhitungan si pedagang. Sedangkan rugi kebalikannya. Prinsip perdagangan adalah sebisa mungkin menghindari kerugian, dan sebesar mungkin mendapat keuntungan.

Dalam Al-Qur’an diksi untung dan rugi juga seringkali dipakai, bukan hanya dalam ayat-ayat perniagaan, namun juga ayat – ayat hikmah. Allah mengumpamakan hidup di dunia ini bagaikan sebuah perniagaan, bisa untung dan bisa rugi. Maksud untung adalah kehidupan yang berkah berupa kebahagiaan hidup di dunia, dan meraih ridho-Nya di akhirat kelak. Sebaliknya, hidup yang rugi adalah yang tidak diberkahi dan mati membawa beban dosa dihadapan Allah SWT.

Diantara orang – orang yang rugi adalah orang yang menelantarkan anak. Dalilnya adalah surah Al-An’am [6]: 140,

قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ قَتَلُوا أَوْلَادَهُمْ سَفَهًا بِغَيْرِ عِلْمٍ وَحَرَّمُوا مَا رَزَقَهُمُ اللَّهُ افْتِرَاءً عَلَى اللَّهِ قَدْ ضَلُّوا وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka, karena kebodohan lagi tidak mengetahui dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rezeki-kan pada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk”

Awalnya, ayat ini ditujukan sebagai kecaman terhadap masyarakat Arab yang biasa membunuh anak perempuannya sendiri. Di masa itu, masa Jahiliyah, anak perempuan adalah aib yang harus dibuang. Tak hanya dibunuh, mereka dikubur hidup-hidup. Al-Baghawi dalam tafsirnya menjelaskan,

نَزَلَتْ فِي رَبِيعَةَ ومضر وبعض من الْعَرَبِ مِنْ غَيْرِهِمْ، كَانُوا يَدْفِنُونَ الْبَنَاتِ أَحْيَاءً مَخَافَةَ السَّبْيِ وَالْفَقْرِ، وَكَانَ بَنُو كِنَانَةَ لَا يَفْعَلُونَ ذَلِكَ

Baca Juga :  Hukum Menjual Tanah untuk Dijadikan Kuburan Non-Muslim

“Ayat ini diturunkan untuk Rabi’ah, Mudhar, dan kalangan bangsa Arab yang lain. mereka mengubur hidup – hidup putri mereka karena takut dicerca dan takut miskin. Hanya Bani Kinanah yang tidak melakukannya”

Selain itu, alasan lainnya adalah takut akan jatuh dalam kemiskinan. Islam kemudian mengecam budaya itu dan menegaskan bahwa memiliki keturunan adalah rezeki yang patutnya kita syukuri, bukan malah disia-siakan. Banyak orang yang mendambakan kehadiran seorang anak, namun belum juga Allah takdirkan memiliki.

Di zaman sekarang, gejala menelantarkan muncul kembali, meskipun tidak dalam bentuk yang sama dan motivasi yang sedikit berbeda. Ada dua jenis pembunuhan yang dilakukan orang tua terhadap anaknya di zaman seka

Jenis pertama adalah mereka yang membuang anaknya, di depan pintu rumah orang kaya, atau di panti asuhan. Ini sangat sering terjadi. Biasanya pelakunya adalah pemuda yang melakukan hubungan suami istri tanpa menikah, lalu menghasilkan kehamilan pada perempuan dan tidak ada yang mau bertanggungjawab. Ironi, anak yang mereka hasilkan dari hubungan gelap itu dianggap sebagai aib yang harus dimusnahkan. Padahal, dosa yang mereka lakukan tidak ada hubungannya dengan keberlangsungan hidup jabang bayi. Yang mereka lakukan justru makin menambah dosa mereka

Jenis kedua adalah mereka yang ‘menelantarkan’ masa depan sang anak, mereka adalah orang tua yang ‘membunuh’ masa depan sang anak dengan membiarkan anaknya menjadi bagian dari generasi yang lemah. Tak hanya dalam hal agama, tapi juga banyak aspek kehidupan, seperti psikologis, ekonomi, sosial, pengetahuan, dan lain sebagainya. Hakikat yang melakukan hal itu sedang “mematikan pelan-pelan” anak mereka sendiri.

Perilaku jenis kedua tersebut dikecam dalam Al-Quran, dalam surah An-Nisa’ [4]: 9,

Baca Juga :  Kronologi Penusukan Syekh Ali Jaber di Lampung

وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَٰفًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا ٱللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

As-Samarqandi dalam tafsirnya Bahr al-‘Ulum menjelaskan bahwa ada empat pendapat soal ayat ini, diantaranya beliau mengutip pendapat Abi Basyar Ad-Dailami:

أن من خشي على ذريته من بعده , وأحب أن يكف الله عنهم الأذى بعد موته , فليتقوا الله وليقولا قولاً سديداً

Bahwa orang yang mengkhawatirkan generasi yang lahir setelahnya, dan ingin Allah mencukupkan penderitaan bagi mereka setelah kepergiannya, hendaklah bertakwa dan mengatakan hal – hal yang baik

Sehingga bisa disimpulkan bahwa menjadi orang tua adalah tanggung jawab yang besar. Menyia – nyiakan anak adalah sebuah kerugian yang besar. Anak adalah investasi kita bersama, dunia dan akhirat. Barangsiapa berhasil mendidik anaknya, ia akan dianugerahi keberkahan di dunia dan akhirat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here