Meneladani Interaksi Sosial Manusia di Surga

0
712

BincangSyariah.Com – Sebagian orang mengejar kekayaan untuk memuaskan diri mereka dan menciptakan surga dunia mereka sendiri. Sebagian yang lain mencari-cari cara ampuh agar mereka tetap awet muda terlihat cantik dan tampan. Di sisi lain, sebagian orang saling kejar-mengejar kedudukan dan pangkat.

Mungkin dalam benak mereka terbesit bahwa mencapai itu semua berarti seluruh hasrat dan kebutuhan mereka benar-benar terpenuhi. Sayangnya, tanpa adanya interaksi yang baik dengan orang lain seluruh angan-angan untuk mencapai kebahagiaan tersebut tidak akan tercapai.

Bayangkan saja, jika kita bepergian ke sebuah tempat yang menurut kita paling indah dan tidak ada seorang pun bersama kita dan tidak ada orang pun yang mau mengenal kita? Tentu sangat tidak mengenakkan bukan? Atau ketika kita memiliki segalanya kecuali teman atau orang-orang di sekeliling kita? Juga tidak akan mengenakkan. Mungkin itu hanya terjadi di dunia. Bagaimana dengan di surga?

Imajinasi yang kita bayangkan tentang surga seharusnya tidak melulu tentang bidadari yang cantik, taman-taman yang indah, kekayaan, dan keabadian. Terdapat satu hal krusial yang patut diperhitungkan seseorang ketika membayangkan surga, yaitu interaksi sosial yang menyenangkan. Oleh sebab itu, siapa pun dari kalangan mana pun bisa menciptakan sendiri surganya tanpa harus menjadi orang yang kaya sekalipun dengan menjalin hubungan baik dengan orang lain.

Mungkin kita dapat renungkan firman Allah berikut ini: “Dan Kami lenyapkan segala belenggu yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan” (QS al-Hijr (15): 47).

Kata belenggu dalam ayat tersebut oleh kalangan mufasir seperti at-Thabary dan al-Qurtubhy diartikan sebagai sifat dengki, permusuhan, dan dendam yang ada dalam hati manusia ketika mereka di dunia. Menggembirakan sekali bahwa semua sifat-sifat ini akan dilenyapkan oleh Allah ketika mereka berada di surga kelak.

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Kautsar: Mendapat Nikmat yang Banyak Mulai Dari Mensyukuri yang Sedikit

Saat itu, orang-orang akan bersandar di atas dipan-dipan (surur; bentuk jamak dari sariir) dan saling bertatap muka satu sama lain. Satu sama lain tidak akan saling hasud meskipun Allah memberikan fasilitas lebih yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Kalimat alaa sururin mutaqaabiliin (duduk berhadap-hadapan di atas dipan) dalam sebuah riwayat dari seorang tabiin bernama Mujahid diartikan bahwa para penghuni surga nanti tidak saling membelakangi satu sama lain, atau dalam pengertian lain satu sama lain saling menyapa, tanpa ada beban dan paksaan. Semuanya melebur menjalin silaturahim dengan sangat nyaman dalam persaudaraan.

Hal ini dipertegas dengan kata surur dalam ayat di atas, singular dari kata tersebut adalah sariir yang berarti dipan atau ranjang. Kutipan Fakhruddin al-Razi terkait hal ini sangatlah menarik. Menurutnya, sariir adalah tempat duduk yang tinggi yang disediakan untuk bersenang-senang atau bergembira (suruur), bisa dilihat antara kata sariir dan suruur memiliki akar kata yang sama yakni sarra (gembira).

Terkait ayat ini, beberapa pendapat mengemukan bahwa turunnya ayat ini berkenaan dengan sebagian sahabat Nabi Muhammad Saw. yang menyimpan dendam satu sama lain semasa di dunia, seperti yang terjadi antara Abu Bakar, Ali, Umar dan sahabat lainnya semasa Jahiliyah, atau yang terjadi antara Thalhah dan Zubair.

Meski demikian, kami lebih tertarik untuk menganggap ini sebagai ibrah atau peajaran bagi semua manusia tanpa terkecuali (al-‘ibratu bi ‘umuumil lafdzi laa bi khushuushis sababi). Sahabat pun hanya manusia yang bukan seperti Nabi yang terjaga dari berbuat dosa. Walaupun demikian, sahabat memiliki posisi spesial di mata Nabi.

Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa kondisi surga benar-benar cair, semua orang berinteraksi tanpa beban antara satu dengan lainnya. Hal ini karena manusia dengan segala kompleksitasnya selalu memiliki alasan untuk tidak bisa bergaul dengan yang lainnya secara bebas dan terbuka. Dan itu bukan hanya berlaku pada sahabat Nabi Saw. sebagaimana yang Ibnu ‘Abbas asumsikan.

Baca Juga :  Apakah yang Ditinggalkan Nabi Pasti Dilarang? (Bagian 2 - Habis)

Terdapat sebuah hadis kudsi yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah yang tampaknya memiliki kontradiksi dengan ayat di atas. Allah berfirman, “Telah Ku persiapkan untuk hamba-hamba-Ku sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.”

Abdul Muhsin, pensyarah kitab Sunan Abi Dawud, menengahi persoalan ini dengan mengutip pendapat Ibnu ‘Abbas bahwa tidak ada sesuatu pun yang menyerupai apa yang ada di surga kecuali nama. Seperti halnya kata “lezat”, kata ini digunakan untuk di dunia dan di surga kelak, akan tetapi memiliki perbedaan yang tidak terbayangkan.

Meski bahwa surga bukanlah dunia, bukan berarti manusia tidak berhak untuk mengimajinasikan surga sebagaimana mereka inginkan, akan tetapi tidak sepatutnya mereka mempertaruhkan nyawa hanya untuk mencapai surga dunia yang semu dan tidak sempurna. Sebagai penutup, tampaknya menarik untuk menyimak hadis yang dikutip oleh Fakhruddin al-Razi dalam Mafatih-nya sebagai berikut:

Rasulullah saw bersabda: ‘Barangsiapa yang mencari sesuatu yang belum diciptakan, maka ia hanya akan menyusahkan dirinya dan tidak akan pernah mendapatkannya.’ ‘Apakah itu wahai Rasul?’ Tanya seseorang kepada beliau. ‘Kebahagiaan yang sempurna (tanpa kekurangan),’ jawab Rasul.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here