Menelaah Tafsir Keliru tentang Kesesatan Nabi Muhammad

0
757

BincangSyariah.Com – Akhir-akhir ini viral sebuah video seorang ustaz yang cukup gaul, bercerita bahwa Nabi agung umat Islam, Nabi Muhammad saw., adalah seseorang yang dulunya sesat. Dai muda tersebut berpegangan kepada surat Al Duha ayat tujuh yang berbunyi:

وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ

“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang ‘sesat’ (dhal), lalu Dia memberikan petunjuk.”

Dari ayat ini dai tersebut berkesimpulan bahwa semua manusia, termasuk Nabi saw. adalah orang yang ‘pernah’ sesat. Lebih jauh dia berkata bahwa acara Maulid Nabi saw. (peringatan kelahiran Nabi saw.)  adalah sama seperti merayakan kesesatan Nabi saw. Benarkah demikian?

Ayat di atas menggunakan redaksi isim fail dari masdar dhill yang memang secara harfiah bermakna sesat. Namun sebagaimana sudah maklum bahwa bahasa Arab adalah bahasa yang sangat kaya, sehingga satu kata bisa bermakna banyak dan satu makna bisa memiliki kata yang banyak. Sehingga dalam persoalan ini sudah menjadi keharusan untuk merujuk kepada tafsir-tafsir terkemuka sebagai upaya mengembalikan agama kepada ahli waris yang berhak: ulama.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indoensia (KBBI) luar jaringan yang baru saja penulis buka, kata ‘sesat’ diartikan sebagai ‘tidak melalui jalan yang benar’. Kata dhill dengan makna persis seperti ini penulis temukan dalam Mu’jam al-Ghani, yakni inhiraf ‘an al-thariq al-sawi. Kata dhill dengan makna ini terdapat dalam Surat al-Baqarah ayat 108:

وَمَنْ يَتَبَدَّلِ الْكُفْرَ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ

“Dan barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus.”

Jadi jika kata dhill dalam Surat al-Duha dimaknai sebagai sebagai sesat, maka—bertendensi dengan Surat al Baqarah di atas—Nabi saw. dulunya adalah orang yang menukar keimanan dengan kekafiran. Loh? Benarkah Nabi dulu kafir?

Baca Juga :  Doa Masuk dan Keluar Masjid Kenapa Berbeda? Ini Pandangan Syekh Nawawi Banten

Jika meninjau tafsir para ulama, pada hakikatnya sama sekali tidak ada yang memaknai kata dhill dalam al-Duha ayat 7 sebagai sesat. Al-Syaukani dalam Fath al-Qadir, sependapat dengan mufassir ternama Abu Ishaq al-Zajjaj, mengatakan bahwa makna dhill di atas adalah ghaflah atau lupa. Hal ini senada dengan makna dhill dalam Surat Thaha ayat 52 berikut:

لَا يَضِلُّ رَبِّي

“Tidaklah Tuhanku lupa.”

Setelah memilih pendapat ini al-Syaukani, yang mengklaim bahwa tafsirnya adalah gabungan dari dua macam metode yakni riwayat dan dirayat, menuturkan bermacam-macam makna lain mengenai makna dhill dalam ayat itu yang mana seluruh pendapat tidak ada yang mengatakan bahwa maknanya adalah sesat kecuali—sebagaimana dikutip dalam Tafsir al-Razi—pendapat yang dikemukakan Hisyam Ibn al-Kalbi dan Ismail al-Sadi serta Mujahid.

Sebagaimana dikutip dari Tafsir al-Razi, Hisyam Ibn al-Kalbi dan Ismail al-Sadi secara eksplisit mengatakan bahwa Nabi saw. dulunya adalah kafir lalu diberi petunjuk oleh Allah Swt.

Pendapat ini bukan saja bertentangan dengan pendapat mayoritas, namun juga Ibn al-Kalbi dan al-Sadi adalah orang yang dianggap tidak berkompeten dalam tafsir. Keduanya seringkali tidak dianggap pendapatnya kecuali dalam bidang tertentu.

Seperti Ibn al-Kalbi hanya dianggap berkompeten jika menyangkut ilmu genealogi (nasab), bahkan al-Sadi oleh Abu Hatim dianggap tidak bisa dijadikan dasar (la yuhtajju bih).

Mengenai pendapat ini, al-Razi memberi sanggahan bahwa meskipun kekafiran Nabi Saw. dianggap mungkin secara akal, namun secara syar’i hal ini tidak mungkin. Karena hal ini akan bertentangan dengan ayat berikut:

مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَىٰ

“Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru.”

Ayat di atas menjamin bahwa Nabi saw. tidak akan pernah sesat. Maka pendapat bahwa Nabi saw. dulunya adalah kafir merupakan pendapat yang keliru. Memperkuat sanggahan atas pendapat kafirnya Nabi saw. ini, Ibn ‘Asyur berkata dalam Al-Tahrir wa al-Tanwir:

وليس المراد بالضلال هنا اتباع الباطل فإن الأنبياء معصومون من الإشراك باتفاق العلماء

Baca Juga :  Membangun Madrasah Ramah Anak

“Yang dimaksud dhalal dalam ayat itu bukanlah mengikuti kebatilan. Karena para nabi adalah orang yang terjaga dari menyekutukan Allah menurut kesepakatan para ulama.”

Sementara pendapat lain mengatakan bahwa makna dhalal dalam al-Duha adalah Nabi saw. tersesat di antara jalan-jalan kecil kota Mekkah sebelum akhirnya beliau kembali kepada kakek beliau Abdul Muthallib, sebagaimana diperkuat oleh hadis marfu’.

Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa maksudnya adalah beliau berada di antara orang-orang yang sesat kemudian Allah Swt. memberi petunjuk. Ada pula yang memaknainya sebagai keadaan bingung karena Jibril a.s. tidak turun lagi membawa wahyu. Namun semua tafsir itu tidak ada yang disanggah kecuali tafsir yang mengatakan bahwa Nabi saw. sesat.

Pada intinya Nabi Muhammad saw. tidaklah sesat. Beliau adalah penuntun umat yang selalu mendapat petunjuk bahkan sejak beliau kecil sebagaimana ditunjukkan oleh hadis masyhur tentang dibelahnya dada Nabi Saw.

Maka asumsi bahwa Nabi Saw. adalah orang yang dulunya sesat, adalah pendapat yang tidak dibenarkan oleh para ahli tafsir. Apalagi jika perkataan ini digunakan sebagai justifikasi bahwa merayakan maulid Nabi saw. adalah sama dengan merayakan kesesatan beliau. Naudzubillah min dzalik.

Wallahu a’lam bi al-shawab.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here