Menegaskan Bahwa Rahmat adalah Prinsip Beragama (1)

0
522

BincangSyariah.Com – Ibn Qayyim dalam I’lām al-Muwaqqi’īn mengungkapkan penelitiannya terhadap karakter syariat Islam, beliau menyimpulkan bahwa prinsip dasar dalam ajaran Islam adalah keadilan, rahmat, kemaslahatan, dan sarat akan kandungan hikmah, beliau berkata,

فَإنَّ الشَّرِيْعَةَ مَبْنَاهَا وَأَسَاسُهَا عَلَى الحِكَمِ وَمَصَالِحِ الْعِبَادِ فِي الْمَعَاشِ وَالْمَعَادِ، وَهِيَ عَدْلٌ كُلُّهَا، وَرَحْمَةٌ كُلُّهَا، وَمَصَالِحُ كُلُّهَا، وَحِكْمَةٌ كُلُّهَا فَكُلُّ مَسْأَلَةٍ خَرَجَتْ عَنِ الْعَدْلِ إلَى الجُوْرِ وَعَنِ الرَّحْمَةِ إلَى ضِدِّهَا وَعَنِ المَصْلَحَةِ إلىَ المَفْسَدَةِ وَعَنِ الحِكْمَةِ إلىَ العَبَثِ فَلَيْسَتْ مِنَ الشَّرِيْعَةِ

Prinsip dasar dalam ajaran Islam adalah hikmah-hikmah dan kemaslahatan manusia baik di dunia maupun akhirat, ajaran (syariat) Islam adalah manifestasi dari nilai-nilai keadilan, rahmat, kemaslahatan, yang sarat kandungan hikmah. Maka segala hal yang keluar dari koridor keadilan, rahmat, maslahat, dan luput dari kandungan hikmah bukanlah ajaran Islam

Hal tersebut adalah bukti bahwa Islam memberi perhatian yang sangat besar pada umat manusia dalam kehidupannya. Dengan prinsip tersebut Islam berusaha menciptakan kehidupan yang damai dan tenteram, bebas dari diskriminasi, dan berbagai bentuk kekacauan. Karena itulah, jelas sampai sini bahwa kasih sayang atau rahmat adalah prinsip beragama dalam Islam. Karena itu, Allah Swt berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’ : 107)

Salah satu bentuk rahmat yang dibawa Islam adalah menciptakan kehidupan yang damai dan tenteram, bebas dari perampasan hak, hal ini terlihat jelas dari jawaban Nabi Saw saat ditanya tentang sebab dan tujuan lahirnya Islam. Dalam suatu hadis diceritakan bahwa pada awal masa diutusnya (bi’tsah), Nabi Saw didatangi seseorang yang belakangan diketahui bernama ‘Amr bin ‘Abasah Al-Sulamī, dia mengajukan beberapa pertanyaan sebagaimana berikut:

مَا أَنْتَ؟ فَقَالَ ” نَبِيٌّ “، فَقُلْتُ: وَمَا النَّبِيُّ؟ فَقَالَ ” رَسُولُ اللهِ “، فَقُلْتُ وَمَنْ أَرْسَلَكَ؟ قَالَ ” اللهُ عَزَّ وَجَلَّ “، قُلْتُ بِمَاذَا أَرْسَلَكَ؟ فَقَالَ ” بِأَنْ تُوصَلَ الْأَرْحَامُ، وَتُحْقَنَ الدِّمَاءُ، وَتُؤَمَّنَ السُّبُلُ، وَتُكَسَّرَ الْأَوْثَانُ، وَيُعْبَدَ اللهُ وَحْدَهُ لَا يُشْرَكُ بِهِ شَيْءٌ  قُلْتُ: نِعْمَ مَا أَرْسَلَكَ بِهِ، وَأُشْهِدُكَ أَنِّي قَدْ آمَنْتُ بِكَ وَصَدَّقْتُكَ، أَفَأَمْكُثُ مَعَكَ أَمْ مَا تَرَى؟ فَقَالَ: ” قَدْ تَرَى كَرَاهَةَ النَّاسِ لِمَا جِئْتُ بِهِ فَامْكُثْ فِي أَهْلِكَ، فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِي قَدْ  خَرَجْتُ مَخْرَجِي فَأْتِنِي”

Siapakah Engkau? Nabi menjawab “Aku seorang Nabi” lalu aku (‘Amr bin ‘Abasah Al-Sulamī) bertanya “Apa itu Nabi?” Nabi menjawab “Utusan Allah” lalu aku (‘Amr bin ‘Abasah Al-Sulamī) bertanya “Siapa yang mengutusmu?” Nabi menjawab “Allah azza wa jalla”  lalu aku (‘Amr bin ‘Abasah Al-Sulamī) bertanya “Untuk tujuan apa Allah mengutusmu?” Nabi menjawab “Untuk menjalin persaudaraan, melindungi nyawa, membuat kondisi menjadi aman, merobohkan berhala, dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang disembah”  kemudian aku (‘Amr bin ‘Abasah Al-Sulamī) berkata “Alangkah indahnya, saksikanlah bahwa aku beriman kepadamu, lalu sekarang (apa yang harus aku lakukan) apakah aku terus bersamamu?” Nabi menjawab “Kau tahu bahwa orang-orang membenciku, maka lebih baik kau tinggal di rumahmu dulu, kemudian jika kau mendengar bahwa aku pergi, ikutlah bersamaku

Habib Ali Al-Jufri, dalam Al-Insāniyyah qabla al-Tadayyun mengutarakan komentarnya atas hadis tersebut, beliau mengatakan bahwa tujuan paling utama diutusnya Nabi Saw adalah untuk membawa dan memurnikan kembali ajaran tauhid, namun hal itu tidak akan terwujud secara sempurna dalam kondisi yang kacau.

Maka ketika ditanya tentang  misi dari ajaran yang dibawanya, Nabi menjawabnya dengan mendahulukan keamanan dan stabilitas kondisi yang meliputi tiga hal; keamanan komunitas sosial (Al-Amn al-Mujtama’) yang diungkapkan Nabi dengan bi an tuushola al-arhaam, perlindungan nyawa (Ta`min al-Ḥayāh) yang dipahami dari perkataan Nabi wa tuhaqqanu ad-dimaa’, keamanan global (Al-Amn al-‘Ām) yang diungkapkan Nabi dengan tu’ammanu as-subul.

Hadis diatas menunjukkan keseriusan Islam menyangkut masalah keamanan. Dengan demikian, pengatasnamaan Islam dalam perbuatan yang mengancam atau bahkan merusak keamanan merupakan kekeliruan besar dan tidak bisa dibenarkan, hal ini disebabkan kurangnya kualitas intelektual juga spiritual tentang Islam.

Kemudian, sebagai usaha dan manifestasi dalam menciptakan kondisi sosial yang aman dan kondusif, dibuatlah aturan-aturan, etika, dan hal-hal yang menjelaskan cara bersosial. Maka, jelaslah bahwa Islam tidak hanya mengatur hal-hal yang berhubungan antara hamba dengan Tuhannya saja (hablun minallah), tapi juga memberi penjelasan mengenai tata cara bersosial antar sesama manusia (hablun min al-nās) untuk menciptakan tatanan sosial yang kondusif. Dengan kata lain, Islam tidak hanya mengajarkan saleh ritual, namun juga saleh sosial.

Kesalehan ritual adalah kesalehan tentang segala hal yang bersifat vertikal antara hamba dan Tuhannya. Kesalehan ritual ini bisa didapat dengan ketekunan ibadah disertai hati yang tulus. Sedangkan kesalehan sosial adalah hubungan yang baik antar sesama makhluk, sekalipun bukan manusia. Dalam sebuah kesempatan Nabi Saw pernah bercerita mengenai seorang wanita yang masuk neraka karena tidak merawat kucingnya dan meninggalkannya dalam keadaan terlantar dan kelaparan, dan seorang wanita tunasusila yang masuk surga berkat belas kasihnya kepada seekor anjing haus yang kemudian ia beri minum.

Dari kedudukan kesalehan sosial ini bisa kita lihat bahwa moral merupakan hal yang sentral dalam Islam. Karena itu Nabi pernah bersabda dalam hadis yang masyhur:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ

Aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

Dengan sendirinya, moralitas yang luhur ini merupakan representasi Islam yang diterjemahkan ke dalam beberapa ajaran-ajarannya. Menjadi muslim yang baik, seperti telah disebutkan, tidak cukup hanya dengan saleh ritual, akan tetapi juga harus disertai dengan saleh sosial.

Diktum tersebut diperkuat dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Aḥmad ibn Ḥanbal, bahwa Nabi Saw suatu waktu pernah ditanya mengenai dua orang wanita. Wanita pertama sangat rajin dalam salat dan puasa, akan tetapi tindakannya seringkali kurang berkenan di mata tetangganya. Sebaliknya, wanita kedua salat, puasa dan sedekah sekedarnya saja, namun dia berlaku baik pada tetangga. Nabi Saw menjawab bahwa tempat yang pantas bagi wanita pertama adalah neraka, sedangkan wanita kedua adalah surga. (Bersambung)

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here