Mendulang Nafkah Dari Jamaah

0
358

BincangSyariah.Com- Rezeki—dalam bentuk materi—memang suatu hal misterius yang mana kepastiannya hanya Tuhan yang tahu. Namun di samping itu, manusia wajib berikhtiar dalam mengejar rezeki yang ditebarkan Tuhan di muka bumi ini. Berpangku tangan bukan upaya dalam mencapai rezeki, namun saat ini, banyak orang yang ingin mendapatkan rezeki dengan cara instan. Tak pelak, muncul istilah: rezeki haram saja susah, apalagi yang halal.

Pola berpikir masyarakat Indonesia yang cenderung instan, banyak membuat apapun yang berbau cepat laku keras. Lihat saja betapa laris manisnya buku-buku ataupun iklan di media massa yang memajang kata ‘cepat’ dalam menarik ketertarikan. Cara Cepat Bisa Gitar, Cara Cepat Bicara Bahasa Inggris, Cara Mudah Mendapat Penghasilan Tinggi, Cara Mudah Pandai Pidato, Cara Cepat Belajar Baca Alquran dan lain sebagainya.

Pola pikir instan ini juga terkadang menyerempet ke berbagai lini, termasuk dalam memahami agama, sosial, dan juga politik. Dampaknya dapat dilihat dari prilaku masyarakat Indonesia belakangan ini yang terikat dalam masyarakat massa yang cenderung buta. Karena ingin cepat pandai agama, banyak yang merasa cukup dengan hanya menghapal hadis-hadis populer yang sering digaungkan saat bulan Ramadan, musim haji, ataupun shalat Jumat. Dan bahayanya, orang-orang semacam ini banyak dijadikan tokoh masyarakat yang ‘disucikan’ di lingkungan sekitarnya. Bahkan muncul stigma: mengkritik tokoh masyarakat sama saja menghina agama.

Sementara itu para masyarakat massa lainnya yang merasa nyaman dalam zona ‘kepatuhan’, merasa tidak ada yang salah dengan tokoh masyarakat yang sering mengutip dalil-dalil tadi. Mereka terikat dalam pola pikir instan yang mereka pelihara: ingin mudah masuk surga. Padahal sejatinya, memahami agama bukan perihal tentang surga dan neraka saja, bukan juga soal sam’an wa tha’atan. Agama bagi para masyarakat massa adalah suatu hal yang jauh, yang mana untuk mencapainya membutuhkan tunggangan yang nyaman dan cepat. Padahal dalam terminologi sufi, agama—dan Tuhan—adalah suatu hal yang dekat, yang berjalan bersamaan dalam diri manusia.

Baca Juga :  Zakat dan  Implementasi Nilai-nilai Pancasila

Maka tak pelak, hubungan antara tokoh masyarakat massa dan masyarakatnya adalah hubungan yang semu. Hubungan ini melahirkan gaya bisnis yang lumrah terjadi dalam lingkupnya. Berjualan air doa, obat-obatan kesehatan yang dibumbui dengan dalil-dalil ‘Islami’, pakaian, hingga menjual paket haji dan umrah. Memang, tak ada salahnya menjual segala macam produk yang disebutkan tadi, tapi menjadi sangat menggelikan jika hal itu dibeli tanpa adanya ketertarikan rasional dari para konsumennya dan hanya semata silau dengan kebesaran nama tokoh masyarakat massa.

Seperti paket haji dan umrah misalnya. Banyak para tokoh masyarakat massa yang dilabeli ustaz oleh lingkungan sosialnya, dengan lancar menawarkan paket-paket tersebut. Penjabaran tentang haji dan umrah bukan lagi terdengar soal bagaimana Mekkah dan Madinah pada masa Rasulullah menjadi tolak ukur peradaban yang sinarnya menerangi dunia. Tapi penjabaran tentang Mekkah dan Madinah dalam paket-paket haji dan umrah adalah tentang bagaimana hotel, ketring, dan juga pesawatnya.

Para tokoh masyarakat massa cenderung berlaku sebagai marketing travel haji dan umrah yang mengejar target pendapatan. Mereka hanya mengutip dalil tentang kewajiban haji dan pahala umrah kepada jamaah yang membuat mereka tergiur semu. Seolah haji dan umrah adalah kewajiban nomor satu dan prioritas, para jamaah ‘didesak’ dengan ajakan berumrah sesering mungkin, bahkan berhaji berapa kalipun. Wa laa tasytarii bi aayaati allahi tsamanan qalilan.

Dari pola ‘dakwah’ oleh para tokoh masyarakat massa itu, jangan heran mengapa masih banyak kita temui para tuan haji dan hajah yang acuh pada sekitarnya. Haji dan umrah berkali-kali tak membuat nurani mereka tergugah akan kanan-kiri. Padahal sejatinya muslim adalah mereka yang bergaul dan merasakan penderitaan antar-muslim lainnya. Baginda Rasulullah SAW pun hanya menunaikan haji satu kali saja sepanjang hidupnya, maka untuk mengikuti siapa jika kita haji berkali-kali kalau bukan mengikuti nafsu?

Baca Juga :  Hukum Menjual Hewan yang Sudah Dinazari untuk Kurban

Perlu diingat, nafsu bukan hanya ada dan terlihat pada amalan-amalan yang berbau negatif. Nafsu juga melingkupi amalan-amalan positif, seperti rajin mengerjakan sunnah tapi riya, dan lain sebagainya. Uang dan rezeki berlebih yang Tuhan anugerahkan pada kita, dapat digunakan untuk menengok lingkungan sekitar, memahami penderitaan saudara-saudara kita. Jangan sampai kesalehan individual menggerus kesalehan sosial.

Jika hal itu terjadi, semakin banyak jamaah, semakin banyak rezeki didulang. Berdakwah bukan lagi ditakar dari kualitas dakwah dan jamaahnya, tapi seberapa banyak kuantitas jamaah tersebut. Barangkali dari jumlah jamaah, dapat ditentukan seberapa banyak nafkah bagi tokoh masyarakat massa. Usai seluruh lingkaran ‘dakwah’—bisnis—itu dilakukan, mereka mengutip dalil: Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here