Hukum Mendonorkan Organ Tubuh Setelah Meninggal Menurut Islam

0
5932

BincangSyariah.Com – Ketika seseorang sudah meninggal, terkadang ada bagian-bagian organ tubuhnya yang bisa difungsikan untuk kehidupan orang lain, baik berupa mata, ginjal, jantung, dan lainnya. Bahkan ada sebagian orang yang mewasiatkan organ tubuh tertentu pada orang setelah dirinya meninggal. Bagaimana hukum mendonorkan organ tubuh tertentu setelah meninggal?

Mendonorkan organ tubuh orang yang sudah meninggal, apalagi sudah diwasiatkan, hukumnya boleh. Namun demikian, mengingat status orang yang sudah meninggal tetap wajib dihormati, sebagian ulama menyebutkan setidaknya dua syarat kebolehan mendonorkan organ tubuh orang yang sudah meninggal. (Hukum Donor ASI dalam Islam)

Pertama, sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan kehidupan orang lain. Kedua, tidak ada pengganti lain selain organ tubuh orang yang sudah meninggal tersebut. Ketiga, mendapatkan izin dari orang yang meninggal dengan cara berwasiat atau mendapat izin dari ahli warisnya.

Jika dua syarat ini terpenuhi, maka boleh mendonorkan organ tubuh orang yang sudah meninggal. Hal ini karena menjaga kehormatan dan keselamatan orang yang masih hidup lebih utama dan lebih maslahat dibanding menjaga kehormatan orang yang sudah meninggal. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Syairazi dalam kitab Al-Muhadzdzab berikut;

وان اضطر ووجد آدميا ميتا جاز أكله لان حرمة الحى آكد من حرمة الميت

Jika seseorang dalam keadaan darurat dan ia menemukan bangkai manusia, maka boleh baginya memakannya. Ini karena kehormatan orang yang masih hidup lebih utama dibanding kehormatan orang yang sudah meninggal.

Menurut Syaikh Wahbah Al-Zuhaili, memberikan organ tubuh kepada orang lain setelah meninggal meski menerima upah, asalkan tanpa ada niat menjualnya, hukumnya diperbolehkan. Beliau berkata dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu berikut;

وإن وهب العضو أو الجزء بعد الموت لأي مضطر، وأُعطي مكافأة عليها قبل الموت جاز له أخذها

Baca Juga :  Bolehkah Zakat Disalurkan untuk Pembelian Alat-Alat Kesehatan?

Jika seseorang menghibahkan organ tubuhnya setelah ia wafat kepada orang yang sangat membutuhkan, dan ia menerima sebuah imbalan atas hibahnya itu saat ia hidup, maka dia boleh menerima imbalannya.

Juga disebutkan dalam kitab Majma’ Al-Fiqh Al-Islami mengenai kebolehan mendonorkan organ tubuh orang yang sudah meninggal asalkan sudah diwasiatkan atau sudah mendapatkan izin dari ahli waris. Ini sebagaimana disebutkan sebagai berikut;

يجوز نقل عضو من ميت إلى حي تتوقف حياته على ذلك العضو، أو تتوقف سلامة وظيفة أساسية فيه على ذلك؛ بشرط أن يأذن الميت أو ورثته بعد موته، أو بشرط موافقة ولي المسلمين إن كان المتوفى مجهول الهوية أو لا ورثة له

Boleh hukumnya memindahkan organ tubuh mayit kepada orang hidup yang sangat bergantung keselamatan jiwanya dengan organ tubuh tersebut, atau fungsi organ vital sangat tergantung pada keberadaan organ tersebut. Dengan syarat si mayit atau ahli warisnya mengizinkan. Atau dengan syarat persetujuan pemerintah muslim jika si mayit seorang yang tidak dikenal identitasnya dan tidak memiliki ahli waris.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here