Amalan yang Mendekatkan Diri pada Keridhaan Allah

2
2275

BincangSyariah.Com – Ridha merupakan bentuk mashdar (infinitive), dari radhiya-yardha yang berarti: rela, menerima dengan senang hati, cinta, merasa cukup (qana’ah), berhati lapang.  Ridha adalah kits berbuat sesuatu yang membuat Allah senang atau ridha, dan Allah meridhai apa yang kita perbuat. Ridha hamba kepada Allah berarti ia menerima dan tidak membenci apa yang menjadi ketetapan Allah. (Doa Pagi dan Sore Agar Mendapatkan Keridhaan Allah)

Sedangkan ridha Allah kepada hamba berarti Dia melihat dan menyukai hamba-Nya yang menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Jika kita sudah mendapatkan ridha Allah, maka kita  bisa menghadirkan rasa optimis yang kuat dalam menjalani dan menatap kehidupan di masa depan dengan mengambil hikmah dari kehidupan yang lalu.

Kita sebagai umat Islam diwajibkan taat dalam menjalani kewajiban dan menjauhi larangan. Namun yang membedakan adalah apakah reaksi setiap orang setelah melaksanakan ibadahnya di hadapan Allah. Ada sebagian orang yang langsung menagih ganjaran atas ibadahnya dalam untaian doanya.

Ada juga yang usai ibadah justru terfikirkan atas meningginya gunungan dosa selama ini, sehingga yang dilakukan usai beribadah adalah memanjatkan maaf dan ampunan kepada Allah. Namun yang demikianlah yang sebenarnya justru mendekatkan kita pada keridhaan Allah. Sebagaimana disebutkan oleh Syekh Imam Karim bin Hawazin al Qusyairi dalam kitabnya Risalah Qusyairiyah;

العبادات إلى طلب الصفح والعفو عن تقصيرها أقرب منها إلى طلب الإعواض و الجزاء عليها

Beribadah lalu memohon ampun dan maaf kepada Allah atas segenap kelalaian di dalamnya lebih dekat menuju keridhaan Allah daripada beribadah lalu memohon balasan dan gajaran kepada-Nya

Pilihan untuk memohon ampun dan meminta maaf kepada Allah selepas ibadah memang dianjurkan. Sebagaimana banyaknya kelalaian dan ketidaksengajaan yang kita lakukan, sebanyak itu pula kita patut memohon ampun dan meminta maaf kepada-Nya. Sehingga jika Allah memaafkan, maka ridha Allah semakin dekat pada kita. karena itulah memohon ampun lebih utama menjadi pilhan daripada memohon balasan kepada Allah setelah ibadah.

Baca Juga :  Orang Mulia di Mata Allah Lakukan Empat Hal Ini, Walaupun Ia Sudah Jadi Pemimpin

Rasulullah yang hadir sebagai Nabi terakhir bagi kita pun memohon ampun dan bertaubat kepada Allah seratus kali perharinya, padahal beliau sudah terjaga dari segenap kesalahan. Lantas bagaimana bisa kita yang tak luput dosa tidak memohon ampun kepada Allah sesering-seringnya? Apa masih sempat meminta balasan kepada Allah tanpa mengingat berbagai salah dan dosa yang menumpuk? Padahal dengan memohon ampun kepada-Nya itu membawa kita pada jalan keberuntungan. Sebagaimana firman Allah dalam QS an Nur ayat 31:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allâh, hai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung

Dengan demikian, alangkah lebih baiknya jika kita mengutamakan memohon ampun kepada Allah selepas ibadah kepada Allah daripada meminta balasan. Urusan balasan, cukuplah Allah yang tahu. Kita sebagai hambaNya cukup menjalankan apa-apa yang diperintahkan.

Terlebih jika kita menjalankan perintahNya (ibadah) dilengkapi dengan permohonan maaf atas segala khilaf dan dosa setelahnya, itu yang membuat kita semakin dekat dengan keridhaan Allah.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here