Mendahului Imam dalam Gerakan Shalat Diserupakan dengan Hewan Ini

2
27

BincangSyariah.Com – Salah satu ibadah wajib yang paling gampang diterima adalah shalat jamaah. Ia bisa diterima oleh Allah meskipun makmum atau imam tidak khusuk. Bahkan imam dan makmum sama-sama tidak khusuk pun tetap di-maqbul lantaran ia sudah meluangkan waktunya untuk berkumpul di satu tempat dalam rangka beribadah secara solider. Tentunya, di dalam berjamaah ini terdapat syarat-syarat tertentu. Salah satunya adalah mutaba’ah, makmum harus ikut imam dalam artian makmum tidak boleh mendahului imam dan melambatkan diri dari gerakan yang sudah imam lakukan.

Sehingga apabila makmum terlambat atau mendahului imam dengan melampaui dua rukun fi’li atau gerakan (seperti ruku’ dan i’tidal) secara sengaja dan tanpa ada uzur, maka shalatnya batal. Jika ia mendahului imam satu rukun fi’li maka hukumnya haram tetapi solatnya sah.

Lantas apakah ia harus kembali kepada gerakan yang sama dengan imam atau harus menunggu imam di dalam gerakan yang sudah terlanjur ia dahului? Maka apabila ia sengaja mendahului, disunnahkan untuk kembali. Jika ia tidak sengaja maka diberi opsi untuk kembali atau menunggu imam di posisinya. Hal ini berdasarkan hadis

عَنِ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَمَا يَخَافُ الَّذِي يَرْفَعُ رَأْسَهُ قَبْلَ الإِمامِ ، أَنْ يُحَوَّلَ رَأْسُهُ رَأْسَ حِمَارٍ.

Rasulullah bersabda “tidakkah takut diganti kepalanya keledai bagi orang yang mengangkat kepala sebelum imam dahulu mengangkatnya”. (HR. Ahmad)

Makna ancaman keras hadis di atas berupa diganti kepala keledai, masih terdapat diferensiasi pendapat (ikhtilaf) di kalangan ulama. Mereka berpendapat bahwa penggantian itu sebagai bentuk metafor dari perilakunya yang sangat buruk, sebagaimana keledai dalam hal kepandirannya (balid). Sebagian ulama mengatakan bahwa “kepala orang tersebut diganti kepala keledai” bermakna hakikat.

Ada warita dari sebagian masyayikh Yaman bahwa, “aku melihat orang yang mengajar, kemudian setelah ia pergi ke jeding, ia menutupi kepala dan wajahnya”. Lalu ia ditanya, “apa gerangan yang membuat orang itu melakukan demikian?”. Ia menjawab, “yang bikin orang tersebut berbuat demikian adalah mendahului imam, ia mengangkat kepala sebelum imam mengangkatnya terlebih dahulu”. Satu riwayat mengatakan karena ia mengingkari hadis di atas.

Namun, soal ia telat satu rukun dari imam maka hukumnya makruh. Sehingga ia harus bergegas mengikuti dan berada dalam satu posisi dengan imam.

Semua ini kami sarikan dari kutub at-turats, terutama kitab syarh al-yaqut an-nafis. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

100%

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here