Benarkah Mazhab Hanbali Melarang Mencium Kuburan Nabi ?

1
761

BincangSyariah.com – Arab Saudi mengklaim bahwa mereka bermazhab Hanbali. Tetapi, mereka melarang jamaah haji mengusap apalagi mencium kuburan Nabi. Padahal, Imam Ahmad bin Hanbal sendiri sebagai pendiri mazhab membolehkannya. Seperti diriwayatkan oleh putranya, Abdullah bin Ahmad yang dikutip dalam kitab Mu’jam al-Syuyukh ?

وقد سئل أحمد بن حنبل عن مس القبر النبوي وتقبيله فلم ير ذلك بأسا. رواه عنه ولده عبد الله بن أحمد (معجم الشيوخ للذهبي 55/1)

“Ahmad bin Hanbal ditanya soal mengusap dan mencium kubur Nabi Saw. Ia berpendapat kalau itu tidak apa-apa.” Diriwayatkan oleh anaknya, Abdullah bin Ahmad.

Diriwayatkan bahwa juga bahwa Abdullah bin Umar enggan mengusap kuburan Rasulullah. Namun, menurut Imam Az-Dzahabi keengganannya tersebut bukan berarti beliau melarang tetapi karena dinilai tidak sopan (Isa’atul/su’ul adab).

Mengapa pendapat Imam Az-Dzahabi yang penulis tampilkan? Ada tiga sebab, Pertama, beliau ahli hadis yang dikagumi oleh sunni maupun wahabi. Kedua, beliau bermadzhab Hanbali. Ketiga, beliau murid Ibnu Taimiyah, tokoh besar yang dikagumi Wahabi.

Berikut ini teks bahasa Arab pernyataan Imam Az-Dzahabi terkait (tabarruk) mengusap dan mencium kuburan Nabi Muhammad SAW sebagaimana telah penulis ulas,

فإن قيل: فهلا فعل ذلك الصحابة؟ قيل: لأنهم عاينوه حيا وتملوا به وقبلوا يده وكادوا يقتتلون على وضوئه واقتسموا شعره المطهر يوم الحج الأكبر، وكان إذا تنخم لا تكاد نخامته تقع إلا في يد رجل فيدلك بها وجهه، ونحن فلما لم يصح لنا مثل هذا النصيب الأوفر ترامينا على قبره بالالتزام والتبجيل والاستلام والتقبيل (معجم الشيوخ الكبير للذهبي 1/7)

Kalau ada yang bertanya, “Memang (mencium kubur Nabi) itu dilakukan oleh para sahabat ?” Jawabnya: “para sahabat disaat Rasul hidup selalu mencari Rasulullah Saw. secepat mungkin. Saat bertemu, mereka mencium tangannya. Sampai, mereka juga berebut mengumpulkan air wudhu Rasulullah Saw., dan mencari-cari rambutnya yang suci pada momen berhajinya (al-Hajj al-Akbar). Dan, jika Rasul meludah, hampir-hampir ludahnya tidak pernah jatuh kecuali ke tangan sahabatnya, lalu sahabat itu mengusapnya ke wajahnya. Dan kita saat ini ketika tidak menemukan kesempatan yang banyak itu, kami terus mengarah kepada kuburnya dengan cara selalu kesana, mengagungkannya, mengucapkan salam, dan mencium kuburnya. (al-Dzahabi, Mu’jam al-Syuyukh, j. 1 h. 7).

Baca Juga :  Hukum Memindahkan Jenazah Karena Beda Pilihan Politik

Mencium kuburan Nabi bisa karena dua motivasi; Pertama karena ingin bertabarruk (ngalap berkah). Kedua, karena rasa cinta yang mendalam dan rasa rindu yang tertanam, maka ketika diberi kesempatan ziarah ke makamnya kecupan menjadi simbol rasa cinta dan rindu tersebut. Kiranya aksi itu dapat mewakili dan mengobati rasa yang berbunga-bunga di dalam dada.

Apa itu ada dalilnya ? Kita jawab: Ya, ada! Ingatkah Anda ketika seorang Tabi’in yang bernama Sabit Al-Bunani mencium tangan seorang Sahabat Rasul yang bernama Anas bin Malik?! Apa motivasinya mencium tangannya? “Yadun massat yada Rasulillah (Inilah tangan yang pernah menyentuh tangan Rasulullah)” ujar Al-Bunani. Ya salaam…, merinding membaca akhlak dan kecintaan para ulama Salafus Sholeh kepada Kanjeng Rasul Saw.

Pepatah mengatakan “Tak ada rotan akar pun jadi” kiranya itu yang tertanam dalam sanubari Al-Bunani “Tak ada tangannya Rasul, tangannya Anas pun jadi”. Wallahu A’lam

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here