Mencintai Perempuan yang Sudah Menikah, Haramkah? Ini Jawaban Syaikh ‘Ali Jum’ah

0
853

BincangSyariah.Com – Seseorang bertanya kepada syaikh Ali Jum’ah:

“Saya mencintai seseorang perempuan, tapi ia sudah menikah. Saya memendam perasaan ini dalam jiwa dan saya tidak akan menampakkan hal tersebut selama hidup saya. Perasaan ini tidak bisa hilang dari hati saya, meski saya berusaha sekuat mungkin. Apakah saya berdosa?”

Syaikh Ali Jumah menjawab sembari tersenyum sedikit tertawa;

“Selama kamu masih memendamnya, kamu tidak berdosa. Sebab terkait kondisi hati, kamu tidak dikenai taklif. Allah berfirman,

والكاظمين الغيظ

orang-orang yang menahan amarah.

Amarah ada? Ada. Tapi tugas kamu menahan (bukan membuatnya tidak ada).”

“Nabi bersabda,

من عشق فعف فكتم فمات مات شهيدا

“orang yang jatuh cinta kepada seseorang, kemudian ia menjaganya dan memendamnya karena khawatir jika tidak dipendam akan menimbulkan mudarat dan dosa), maka ia mati syahid.”

Mengapa syahid? Syaikh Ali melanjutkan jawabanya.

“Karena ia meninggal dalam ridha Allah. Ia tidak mengumbar perasaannya, tidak membuat mudarat, juga melakukan Takhbib. Apa itu ‘Takhbib’? Takhbib dalam fikih adalah melakukan perbuatan yang menghancurkan hubungan suami-istri demi mendapat sosok yang disukainya. Takhbib terambil dari kata khobba yang artinya pengkhianat, tukang makar, perusak. Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

لست بالخب والخب لا يخدعني

“saya bukan seorang yang makar, tapi saya memahami orang makar. Takhbib yaitu merusak hubungan orang lain dengan bertujuan untuk mendapatkan sosok yang ia sukai.”

Akan tetapi, sang penanya ini tidak berniat melakukan takhbib. Apa perasaan jiwa itu menimbulkan dosa? Tidak! Jika dia tetap memendamnya. Kapan ia berdosa? Ketika ia mengungkapkan secara terang-terangan dan akan lebih berdosa jika melakukan takhbib . Hal itu (mengungkapkan secara terang-terangan dan melakukan takhbib) yang dilarang oleh Agama.”

Penulis baru-baru ini menemukan kata khobba dalam syair Abu Thayyib Ahmad al-Mutanabbi,

Baca Juga :  Persona Orang Tawakal

ولما صـار حـــب الناس خبًّا
جزيت على ابتسام بابتسام

Manakala cinta manusia berubah menjadi pengkhianatan ***

Aku balas senyuman (yang berisi pengkhianatan) dengan senyuman yang sama pula.

وصرت أشك فيمن أصطفيه
لعلـــمي أنـــه بــعــض الأنامِ

Dan aku tiba-tiba meragukan orang-orang yang kupercaya ***

Karena aku mengetahui mereka sebagian dari manusia (yang mampu berkhianat).

Syaikh Ali mengakhiri jawabannya kepada pemuda itu dengan sebuah nasehat.

“Terus, apa solusinya kira-kira jika demikian? Terus prbanyak membaca shalawat kepada baginda Nabi Muhammad saw. Minimal seribu kali dalam sehari. Bershalawatlah sebanyak kegalauan yang ada dalam jiwamu. Baca Dalalil Khairat, Saadat Darain, dan yang terpenting perbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad saw. Shalawat itu akan menghilangkan segala kegundahanmu.”

Tharfah Ibnu Abdah, penyair jahiliyah yang syairnya pernah dilantunkan oleh baginda nabi Muhammad saw yaitu satubdii laka al-ayyaam ma kunta jaahila. dalam salah satu kasidahnya pernah mengatakan;

لعمري لموتٌ لا عقوبة بعده
لذي البث أشفى من هوى لا يزايله

“Sungguh kematian yang tidak berujung kepada penyiksaan (lantaran dosa yang diperbuat), bagi orang yang gundah gulana lebih menyembuhkan dibandingkan cinta yang tidak mampu ia pendam (karena cinta adalah penyakit).

Syaikh al-Syahid Muhammad Said Ramadhan al-Buthi al-Azhari mengatakan:

ليس في الكون عذاب يتمتع بالعذوبة إلا عذاب الحب، هو الذي يجمع بين العذوبة والعذاب، وما أهنأ هذا الحب عندما يكون لرسولنا محمد صلى الله عليه وآله وسلم

Dalam alam semesta, tak ada sebuah siksaan yang dirasakan dengan nikmat kecuali siksaan sebuah cinta. Cintalah yang mengandengkan tangan antara siksa dan kenikmatan. O, alangkah indahnya jika cinta tersebut terdapat pada kanjeng Nabi Muhammad saw.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here