Mencari Rezeki Halal untuk Menafkahi Keluarga Merupakan Sebagian Amalan Wali Abdal

0
17

BincangSyariah.Com – Salah satu kewajiban seorang suami atas istri dan anak-anaknya ialah memberikan nafkah kepada mereka. Apabila seorang suami sebagai kepala keluarga bersungguh-sungguh dalam mencari rezeki halal untuk menafkahi keluarganya, maka ia telah menempuh amal yang sangat besar keutamaannya. Bahkan disebutkan oleh Imam Abu Hamid al-Ghazali bahwa mereka termasuk bagian dari orang yang berjihad di jalan Allah Swt.

Melalui nafkah yang diberikannya juga, menjadi salah satu alasan mengapa mereka kemudian disebut dengan qawwamuna ‘ala al-nisa’. Dengan perantara nafkah pula, mereka tidak hanya berbuat baik terhadap diri sendiri, melainkan juga telah berbuat baik terhadap orang lain. Kita tentu mengerti bahwasanya derajat orang yang berbuat baik terhadap dirinya sendiri dan orang lain, tak bisa disamakan dengan derajat orang yang hanya berbuat baik untuk dirinya sendiri.

Rasulullah memberikan informasi bahwanya nafkah yang diberikan oleh suami terhadap keluarganya sebenarnya masih bisa dikategorikan sebagai sebuah sedekah.

مَا أَنْفَقَهُ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ فَهُوَ صَدَقَةٌ، وَإِنَّ الرَّجُلَ يُؤْجَرُ فِي اللُّقْمَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى امْرَأَتِهِ

“Sesuatu yang dinafkahkan oleh seseorang kepada keluarganya merupakan sedekah, dan sesungguhnya seorang suami diganjar atas sesuap makanan yang diberikannya kepada istrinya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Betapa baiknya Allah Swt., ketika nafkah yang sejatinya memang tanggung jawab dan kewajiban bagi suami, masih dianggap sebagai perbuatan baik terhadap orang lain, juga masih dikategorikan sebagai sedekah yang patut mendapat ganjaran.

Diceritakan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal merupakan ulama yang memiliki keutamaan di atas ulama lain semasanya. Adapun salah satu keutamaan yang beliau miliki, merujuk penuturan Al-Bisyr, ialah karena beliau mencari rezeki halal untuk dirinya sendiri dan untuk orang lain (keluarganya).

Sehingga tidak berlebihan apabila kemudian Imam al-Ghazali mengutip sebuah percakapan yang menyatakan bahwa, di antara amal yang sangat utama dan dilakukan oleh para Wali Abdal ialah mencari rezeki yang halal dan menafkahi keluarga, (kasb al-halal wa al-nafaqah ‘ala al-‘iyal).

Dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin, disebutkan bahwasanya ketika Ibn al-Mubarak sedang menghadapi peperangan, beliau pernah memberikan pertanyaan kepada kawan-kawan beliau, “Tahukah kalian, amal yang lebih utama daripada apa yang sedang kita lakukan sekarang ini?” Mendengar pertanyaan tersebut, kawan-kawan Ibn al-Mubarak menggelengkan kepala, lantas menanyakan amalan apa yang beliau maksud.

Kemudian Ibn al-Mubarak berkata, “Seorang suami yang menjaga dirinya dari meminta-minta, meski ia harus menanggung keluarganya. Ketika malam ia terjaga, kemudian memandang dan menyelimuti anak-anaknya yang sedang tertidur. Amal mereka lebih utama dari apa yang kita lakukan sekarang ini.”

Apa yang dinyatakan oleh Imam Ibn al-Mubarak di atas, selaras dengan sabda Nabi Muhammad Saw., yang menyatakan bahwa Allah sangat mencintai kepala keluarga yang menjauhkan dirinya dari perbuatan meminta-minta.

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الفَقِيْرَ الـمُتَعَفِّفَ أَبَا العِيَالِ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang fakir yang menjaga dirinya dari meminta-minta karena menjadi kepala keluarga.” (H.R. Ibnu Majah)

Mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarga juga dapat menjadi pelebur atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Karena memang disabdakan bahwasanya terdapat beberapa dosa yang tak bisa dilebur kecuali dengan kepayahan yang dialami ketika mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Rasulullah Saw., bersabda:

مِنَ الذُّنُوْبِ ذُنُوْبٌ لَا يُكَفِّرُهَا إِلَّا الهَمُّ بِطَلَبِ الـمَعِيْشَةِ

“Di antara dosa-dosa, ialah dosa yang tak bisa dilebur kecuali dengan kepayahan mencari kehidupan.” (H.R. At-Tabrani)

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here