Mencari Pemimpin yang Low Profile

0
373

BincangSyariah.Com – Menjelang pilpres 2019, ada baiknya melihat sejenak momen-momen kemenangan Jokowi pada pilihan presiden 2014 silam. Citra yang sangat melekat dari presiden sah kita saat itu dan sampai sekarang adalah bagaimana dia sangat berpihak kepada rakyat, menjadi bagian dari rakyat, dan sangat peduli dengan rakyat.

Terlepas apakah itu bagian dari strategi politik ataukah tidak, yang pasti pada dasarnya hal itu menunjukkan kualitas pemimpin yang sangat tawadhu’ dan tidak memandang rendah rakyatnya. Hal ini sangat ampuh meluluhkan hati rakyat tentu saja, dan akan sangat sulit jika sikap ini tidak dibiasakan sehingga terkesan dibuat-buat dan memunculkan penciteraan semata.

Nabi Muhammad Saw sebagai sosok panutan memiliki banyak hal menarik yang patut dicontoh dan diidolakan. Jabatan sebagai Nabi bukan hanya disandang ketika di dunia, atau hanya dengan skat-skat yang terbatas saja, melainkan tanpa skat negara, benua ataupun dunia, Nabi adalah jabatan untuk seluruh umat manusia, baik ketika di dunia maupun di akhirat.

Meski begitu, ada banyak riwayat yang justru menunjukkan bahwa Nabi Saw adalah orang yang sangat tawadhu’ dan mencintai rakyatnya. Ini terdokumentasikan dengan baik dalam Alquran, kitab-kitab hadis, kitab sejarah dan kitab-kitab yang lainnya. Pada kesempatan ini kami akan sedikit memaparkan bagaimana sikap Nabi Saw dalam Syamail al-Muhammadiyah karya al-Hakim al-Tirmidzi dan kitab Mau’idhah al-Muslimin min Ihya’ Ulum al-Din karya Jamaluddin al-Qasimi.

Disebutkan dalam Mau’idhah al-Muslimin min Ihya’ Ulum al-Din bahwa Nabi Saw pernah menaiki keledai dengan keringat bercucuran, beliau mengenakan selimut dari beludru dan membonceng sahabatnya, beliau juga orang yang tidak segan-segan mengunjungi orang yang sakit, mengikuti jenazah, memenuhi panggilan budak, memakai sandal dan menambal pakaiannya. Sebagai kepala keluarga beliau juga membantu pekerjaan istri. Dan ketika nabi datang dalam sebuah perkumpulan, sahabat tidak ada yang bangun untuk menghormati beliau karena mereka tahu bahwa Nabi Saw tidak suka jika mereka berdiri.

Baca Juga :  Menyoal Pemikiran Imam al-Ghazali yang Kontradiktif

Ketika beliau berpapasan dengan anak-anak beliau akan mengucapkan salam kepada mereka, dan suatu ketika Nabi Saw pernah berkumpul dengan para sahabatnya, sedangkan beliau berada di tengah-tengah kerumunan mereka, tiba-tiba orang tidak dikenal datang dan menanyakan keberadaan beliau, padahal Nabi saat itu ada di antara para sahabat. Beliau juga tidak canggung mendengarkan syair-syair yang dilantunkan sahabatnya di depan beliau, beliau juga tertawa dan tersenyum bersama dengan sahabat-sabatnya, namun dalam batasan-batasan yang dianggap pantas oleh syariat.

Beberapa hal di atas tampaknya sederhana, bergumul dan bergaul dengan seluruh elemen masyarakat, namun tidak dengan orang-orang yang memiliki jiwa yang angkuh dan sombong, ada gengsi di mana seorang pemimpin harus bergaul terlalu dekat dengan masyarakat kelas bawah, apa lagi harus mengunjungi mereka ketika mereka sakit.

Dalam al-Syamail al-Muhammadiyyah, penjelasan lebih detil disuguhkan oleh al-Hakim al-Tirmidzi, ada 13 belas hadis yang diriwayatkan dalam sub bahasan Bab Ma Jaa fi Tawadhu’I Rasulillah Saw: Bab Tentang Bagaimana Rasulullah Bersikap Tawadhu’. Di antaranya adalah kisah seorang perempuan yang ingin bertemu Nabi Saw yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik.

أَنَّ امْرَاَةً جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ لَهُ إِنَّ لِيْ إِلَيْكَ حَاجَةٌ فَقَالَ اِجْلِسِيْ فِي أَيِّ طَرِيْقِ الْمَدِيْنَةِ شِئْتِ أَجْلِسُ إِلَيْكِ

Sesungguhnya seorang perempuan datang menemui Nabi Saw dan mengatakan kepada beliau bahwa ia memiliki keperluan dengan Nabi Saw. Kemudian Nabi Saw mengatakan: “Duduklah di manapun lorong di Madinah yang kamu inginkan, maka aku akan menemuimu di sana.” Riwayat ini ada dalam banyak kitab hadis termasuk dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim.

Hadis ini menggambarkan bagaimana sikap rendah hati yang dimiliki oleh Nabi Saw, seorang perempuan bernama Ummu Zafar yang saat itu tengah bersama bayinya memiliki keperluan yang hendak disampaikan kepada Nabi Saw, namun beliau tidak meminta dia untuk mendatangi beliau, justru Nabi sendiri yang akan menemuinya, di manapun dia berada.
Bukti lain dari sikap rendah hati Nabi Saw adalah ketika beliau tidak meminta sahabat-sahabatnya untuk berlebih-lebihan mengagung-agungkan beliau. Sebagaimana dalam riwayat Anas bin Malik.

Baca Juga :  Hukum Menafkahi Orang Tua Bagi Seseorang yang Telah Menikah

لَمْ يَكُنْ شَخْصٌ أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَكَانُوْا إِذَا رَأَوْهُ لَمْ يَقُوْمُوْا لِمَا يَعْلَمُوْنَ مِنْ كَرَاهَتِهِ لِذَلِكَ

“Tidak ada seorang pun yang paling dicintai oleh para sahabat kecuali Nabi Saw, akan tetapi apabila mereka melihat beliau, mereka tidak berdiri (memberi penghormatan kepada beliau) karena para sahabat tahu beliau tidak menyukainya.” Selain oleh al-Tirmidzi hadis ini juga diriwayatakan oleh banyak perawi lain termasuk Imam Ahmad dan al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad.

Dijelaskan oleh ‘Abd al-Razzaq al-Badr dalam Syarah al-Syamail bahwa para sahabat adalah orang-orang yang sangat mencintai beliau, kecintaan tersebut bukan hanya isapan jempol, terbukti ketika Nabi membenci untuk terlalu diagung-agungkan para sahabat mau melakukannya. Hal ini terang saja bertentangan dengan hasrat mereka yang ingin mengagungkan beliau.
Dalam hadis tersebut juga sangat gamblang bahwa meskipun Nabi Saw adalah seorang pemimpin besar, namun beliau sedikitpun tidak mau dihormati secara berlebihan oleh para sahabatnya.

Jika dipikir-pikir pada dasarnya penghormatan semacam ini layak diterima oleh Nabi Saw, demikian pula para sahabat yang mencintai beliau juga akan sangat senang jika mampu memposisikan beliau di tempat yang terhormat, namun faktanya hal itu tidak dilakukan oleh Nabi Saw.

Tawadhu’ atau rendah hati oleh ‘Abd al-Razzaq al-Badr diartikan sebagai lemah lembut (layyinul janib), mengayomi (khafdhul janah), baik dalam bermuamalah (thayyibul muamalah), dan tidak angkuh kepada rakyat dan memandang rendah mereka (al-bu’du ‘an al-ta’ali ‘ala al-nas wa al-taraffu’ ‘alaihim).

Sikap tawadhu’ pada kenyataannya telah memenangkan hati para sahabat Nabi Saw sehingga mereka mencintai beliau lebih dari jiwa dan raga mereka. Tentu saja ketika hal itu ditunjukkan dengan ketulusan hati bukan dengan penciteraan ala-ala politikus saat ini.

Baca Juga :  Allah, Dimanakah RidaMu Berada?

Demikianlah salah satu sudut pandang tentang bagaimana sikap rendah hati Nabi Saw, semoga menginspirasi banyak calon pemimpin agar mau bersikap lemah lembut, mengayomi, baik dalam bermuamalah dan tidak angkuh terhadap rakyatnya.
Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here