Memaknai Mengindonesiakan Islam

1
439

Sekarang ini, lagi viral dan masif tersebar idiom “mengindonesiakan Islam”. Sangat beragam pemahaman, tanggapan dan reaksi atasnya. Namun, secara garis-besar istilah tersebut dimengerti dalam dua tipe spirit berikut ini;

PERTAMA; Pemahaman berspirit PEMBENTURAN-KONFLIK, yaitu;

  1. Islam itu Suci dan Sakral, sedangkan Indonesia itu warna-warni, profan dan buatan sejarah. Sehingga, sangat kurang ajar bila harus mengindonesiakan Islam.
  2. Islam itu agung dan mendunia. Sedangkan, Indonesia itu hanya geografis, hanya sisi dunia di Asia bagian tenggara. Sehingga, segitu kurang ajar bila mengindonesiakan Islam.
  3. Islam itu datang sebagai rahmat dan pembebas untuk Indonesia. Maka, Indonesia harus berterima kasih atasnya. Jangan kurang ajar dengan mewarnai wajah Islam dengan dirinya.
  4. Islam itu dari Arab karena Nabinya Arab dan kitab sucinya berbahasa Arab. Jadi, Indonesia harus cinta pada Arab sebagai manifestasi cinta Islam. Sehingga, segitu kurangajar bila Indonesia berani mengindonesiakan Islam, itu bentuk syu’ubiyah شعوبية (benci Arab).
  5. Indonesia itu dulunya animisme dinamisme, dan sekarang sudah terjangkiti westernisasi (kebarat-baratan). Jadi, mengindonesiakan Islam itu artinya membaratkan, meliberalkan dan mensekulerkan Islam.

Maka, yang benar itu Islamisasi (yang ‘ditumpangi’ Arabisasi) Indonesia, sedangkan para pembenci Islam dan Arab itu adalah orang yang memproklamasikan mengindonesiakan Islam. Karena, Muslim yg Benar (kaafah) itu meyakini bhwa ‘Islam’ itu Superior yg bisa masuk, mengangkangi, mewarnai dan menguasai apapun-dimanapun saja, termasuk Indonesia.

KEDUA, Pemahaman berspirit AKOMODATIF-KERJASAMA, misalnya saja;

  1. (IBADAH) Islam itu; sholat dengan tutup aurat, bersih dan wangi, DIINDONESIAKAN shalat dalam masjid berarsitektur khas daerah Indonesia, bertutup aurat dengan peci-blankon-koko-batik dan sarung.
  2. (IBADAH) Islam itu; puasa dari terbitnya Sang Fajar hingga Adzan Maghrib berkumandang, DIINDONESIAKAN untuk menandakan dekat waktu fajar ada alarm tradisional yg namanya Imsak dengan sirine, kenthongan, suara toak masjid dst, sdgkan penanda akhir puasa (idul fitri) ada tradisi mudik, makan opor-ketupat, bagi2 angpou dan takbiran keliling.
  3. (IBADAH) Islam itu ya memperbanyak dzikir dan shalawat, DIINDONESIAKAN menjadi tahlilan, berzanjian, maulidan, selametan, nujuh hari dan haul kematian, dan lain sebagainya.
  4. (MUAMALAH) Islam itu; menghormati yang lebih tua dan menyayangi yg lebih muda, DIINDONESIAKAN dgn mencium tangan org yang lebih sepuh dalam silaturahmi/saat bertemu, dan memberi angpou/ sangu anak kecilyang masih usia sekolah. Atau, DIINDONESIAKAN dengan meramaikan; sebutan ‘mas’, ‘uda’ & ‘akang’, atau ‘mbak’, ‘uni’ & ‘teteh’ untuk yang lebih tua, dan sebutan ‘dik’& ‘dimas’atau ‘ning’, ‘nduk’& ‘nong’ untuk yg lebih muda.
  5. (MUAMALAH) Islam itu ya Keadilan, DIINDONESIAKAN mnjadi bhwa semua sama di hadapan hukum, dan semua berkesempatan sama; untuk dipilih sebagai pemimpin dan memilih pemimpinnya, melalui Pemilu.
Baca Juga :  Tiga Syarat Orang Sudah Wajib Melaksanakan Salat

KARENA, Indonesia ciptaan dan milik Allah ta’ala. Islam itu Syariat Allah ta’ala. Begitu pula kita lahir, makan-minum, hingga wafat Di Indonesia juga takdir Allah ta’ala. Maka, Islam dan Indonesia dihubung-hubungkan dalam spirit Akomodatif-Kerjasama Karena Allah Ta’ala. Sehingga, “mengindonesiakan Islam” itu artinya; aktifitas mengakomodir tradisi dan hal-hal baik asli Indonesia (yg tak bertentangan dgn prinsip dasar Islam) dalam rangka mengimplementasi dan mengaktualisasikan Islam (Al-Qur’an, Sunnah, Ijma dan Qiyas) secara nyata di bumi Indonesia, demi kemajuan Peradaban dan Kesejahteraan umat manusia di Indonesia, dan itu diharapkan menjadi sumbangan inspirasi untuk dunia.

SEHINGGA, sebaiknya,

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan katakanlah, “Bekerjalah (lakukan saja) kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. At-Taubah 105)

Semoga Allah ta’ala memberkahi, mempermudah dan meridhoi amalan-amalan baik kita untuk ‘izzul Islam wal Muslimin. Amien.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here