Mencari Karomah dalam Islam dan Penjelasannya Menurut Ulama

0
26

BincangSyariah.Com – Beberapa Muslim terkadang terlalu obsesi dan melupakan tujuan inti dalam melakukan ibadah tertentu, baik berpuasa sunah, membaca al-Qur’an, salawat, wirid, maupun amalan-amalan lainnya. Mereka terkadang beribadah bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi ingin mendapatkan karomah, kesaktian, dan lain sebagainya. Padahal tujuan ibadah sejatinya hanyalah mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan rida-Nya.

Oleh karena itu, setiap Muslim harus senantiasa memperbaiki niatnya dalam melakukan setiap perbuatan ataupun ibadah. Sebab, apabila niatnya baik, maka amal(perbuatan)nya akan baik pula. Sebaliknya, apabila niatnya rusak, maka amalnya akan rusak (Imam an-Nawawi, Syarh al-Arba‘in an-Nawawiyyah, hlm. 5-6).

Karomah Hanya Diberikan kepada Murid yang Tidak Menginginkannya

Imam Habib ‘Abdillah bin ‘Alawi al-Haddad adalah wali quthub (quthb ad-da‘wah wa al-irsyad) pada masanya yang terkenal ke berbagai penjuru dunia melintasi zaman. Beliau pengarang Ratib al-Haddad yang banyak diamalkan oleh kalangan santri Nusantara. Selain itu, salah satu karya beliau yang patut dibaca oleh para pecinta tasawuf adalah Risalah Adab Suluk al-Murid.

Dalam kitab tersebut, beliau memperingatkan seorang murid (orang yang ingin atau sedang menempuh jalan spiritual) agar tidak memiliki cita-cita untuk mendapatkan mukasyafah (ketersingkapan rahasia Ilahi yang tersembunyi/gaib), karomah, dan khawariq al-‘adat (sesuatu di luar kebiasaan/keajaiban). Sebab, menginginkan ketiga hal tersebut merupakan salah satu perkara yang sangat membahayakan bagi seorang murid (Risalah Adab Suluk al-Murid, 1994: 46).

Menurutnya, seorang murid selama-lamanya tidak akan mendapatkan salah satu dari ketiga hal tersebut selama dia masih menginginkannya. Sebab, ketiga hal itu hanya diberikan oleh Allah kepada murid yang memang tidak menginginkannya sama sekali dan bahkan tidak menyukainya. Oleh karena itu, beberapa murid terkadang tertipu dengan keajaiban-keajaiban yang mereka miliki. Mereka menyangka semua itu sebagai karomah dari Allah. Padahal semua itu bukanlah karomah, tetapi merupakan sebuah kehinaan dari Allah. Dalam hal ini, Allah memberikan keajaiban-keajaiban tersebut selain karena istidraj (azab Allah yang berupa kenikmatan), juga untuk menguji orang-orang yang lemah imannya (hlm. 46).

Baca Juga :  Hikmah Haram Menikahi Mahram Senasab

Adapun sebuah keajaiban bisa dikatakan karomah dari Allah apabila muncul dari orang yang istikamah (hlm. 46). Syekh Abu Yazid al-Busthami memperingatkan setiap Muslim agar tidak terpesona dan terjebak dengan keajaiban-keajaiban yang ditampakkan oleh seseorang dan kemudian meyakininya sebagai wali yang memiliki karomah. Namun, setiap Muslim harus mengetahui terlebih dahulu kehidupan seseorang tersebut (Habib Zein bin Smith, al-Fawa’id al-Mukhtarah, 2008: 529).

Dalam hal ini, apabila seseorang tersebut menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, menjaga hukum-hukum Islam, dan menjaga tatakrama (akhlak) Islam, maka dia boleh diikuti (sebagai seorang wali yang memiliki karomah). Sebab, kalau hanya keajaiban dan kesaktian yang dijadikan tolak ukur kewalian dan karomah, maka iblis saja bisa pergi dari ufuk timur ke ufuk barat dalam waktu sekejap. Padahal iblis sendiri tidak memiliki kedudukan di sisi Allah (hlm. 529).

Oleh karena itu, apabila Allah memuliakan seorang murid yang istikamah dalam beribadah dengan mukasyafah, atau karomah, atau khawariq al-‘adat, maka dia harus bersyukur kepada Allah. Dia tidak boleh merasa puas, berbangga diri, dan terpesona (sehingga melupakan tujuan inti dalam beribadah) hanya karena telah mendapatkan salah satu dari ketiga hal tersebut. Selain itu, dia harus merahasiakannya dan tidak boleh menceritakannya kepada siapapun. Namun, apabila seorang murid yang istikamah tidak mendapatkan salah satu dari ketiga hal itu, maka dia tidak boleh mengharapkannya dan juga tidak boleh bersedih hati (menyesal) karena tidak mendapatkannya (Risalah Adab Suluk al-Murid, hlm. 46-47).

Di sisi lain, Habib Zein bin Smith menyebutkan bahwa seorang wali wajib merahasiakan karomah yang dimiliki. Namun, dia boleh menampakkan karomah tersebut apabila dalam keadaan darurat, atau karena kejadian spontan yang memang tidak dihendakinya (sehingga karomah itu muncul), atau karena ingin menguatkan keyakinan para muridnya (al-Fawa’id al-Mukhtarah, hlm. 532). Dalam hal ini, menurut Buya Hamka, beberapa ulama terkadang menceritakan keajaiban-keajaiban (karomah) yang diberikan Allah kepada mereka untuk memotivasi orang lain agar giat beribadah (Tafsir Al-Azhar, Jilid 5: 3349).

Baca Juga :  Doa Orang Sakit Lebih Cepat Diijabah, Ini Alasannya

Karomah yang Paling Agung untuk Para Murid

Imam Habib ‘Abdillah bin ‘Alawi al-Haddad menyebutkan bahwa karomah yang paling agung dan meliputi seluruh jenis karomah (baik hakiki maupun tampak) adalah istikamah dalam menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya secara lahir-batin (hlm. 47).

Oleh karena itu, setiap murid harus senantiasa memperbaiki dan menyempurnakan keistikamahan dalam menjalankan perintah Allah dan manjauhi larangan-Nya secara lahir-batin tersebut. Sebab, apabila hal ini dilakukan oleh seorang murid, maka alam semesta, baik langit dan segala isinya maupun bumi dan segala isinya, akan melayaninya dengan pelayanan yang tidak akan menghalangi hubungannya dengan Allah dan juga tidak akan merepotkannya dari kehendak-kehendak Allah (hlm. 47).

Di sisi lain, Habib Zein bin Smith menyebutkan bahwa istikamah lebih baik daripada seribu karomah. Sebab, tidak ada karomah yang diberikan Allah kepada para hambanya yang lebih baik daripada istikamah. Oleh karena itu, setiap Muslim harus berusaha menjadi orang yang istikamah, bukan orang yang senantiasa mencari karomah (hlm. 529). Habib Umar bin Hafiz dalam salah satu ceramahnya menyebutkan hal senada, yaitu: al-istiqamah a‘zhamu al-karamah (istikamah adalah karomah yang paling agung).

Ketika seorang Muslim sudah istikamah (baik dalam beribadah maupun berbuat baik), maka kelak Allah akan memberikan keberuntungan kepadanya. Hal ini dipahami dari pepatah Arab: haitsuma tastaqim yuqaddir lakallah najahan (di manapun kamu istikamah, maka Allah akan menakdirkanmu keberuntungan) (Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Syarh Mukhtashar Jiddan ‘ala Matn al-Ajurumiyyah, hlm. 12).

Namun demikian, apabila ada seorang Muslim yang kurang sempurna keistikamahannya dan dianugerahi karomah oleh Allah, maka bukan berarti dia lebih mulia dan memiliki kedudukan lebih tinggi daripada Muslim lain yang sempurna istikamahnya dan tidak memiliki karomah. Sebab, para sahabat dahulu hanya sedikit yang memiliki karomah. Padahal mereka sudah berada dalam maqam istikamah yang paling tinggi. Sementara para ulama dan wali setelah para sahabat banyak yang memiliki karomah. Namun demikian, bukan berarti para ulama dan wali tersebut lebih mulia dan memiliki kedudukan lebih tinggi daripada para sahabat (al-Fawa’id al-Mukhtarah, hlm. 529). Wa Allah A‘lam wa A‘la wa Ahkam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here