Menambang Bitcoin dan Aset Crypto dalam Pandangan Islam

1
21

BincangSyariah.Com – Bitcoin (BTC) merupakan sebuah entitas produk mata uang berbasis pemecahan sandi kriptografi dan diterima sebagai alat tukar oleh sejumlah perusahaan. Penerimaan ini secara tidak langsung menjadikan BTC berperan sah untuk dijadikan sebagai koin wasilah perdagangan, layaknya mata uang fiat, khususnya di kalangan perusahaan yang menerimanya. (Baca: Status Hukum Pertukaran Bitcoin dengan Uang Fiat)

Untuk menjamin nilai tukar BTC terhadap mata uang fiat ini, maka berdiri sebuah pasar bursa yang khusus memperdagangkan semua aset-aset digital di dunia yang ada dalam bentuk crypto. Dari sini, kemudian lahirlah yang dinamakan kapitalisasi pasar (Market Capitalisation/Market Cap).

Apa itu Kapitalisasi Pasar?

Makna dasar Kapitalisasi Pasar (Market Cap) ini sebenarnya adalah jumlah total saham saat ini dikali dengan harga saham yang berlaku saat kini. Ketika pengertian ini dilekatkan pada BTC, maka yang dimaksud dengan Market Cap BTC, adalah jumlah stok BTC yang ada saat terkini dikalikan dengan harga BTC yang berlaku saat kini pula.

Secara garis besar, penghitungan BTC dalam kapitalisasi pasar, adalah sama dengan penghitungan saham. Namun, jika dalam saham ada batas edar jumlah total saham, maka apakah dalam BTC juga mengenal istilah jumlah total stock koin BTC?

Berdasarkan hasil tangkapan layar penulis berikut ini, kita bisa mengetahui, bahwa total BTC yang bisa beredar di kalangan pebisnis adalah sebanyak 21 juta koin. Sementara saat ini, BTC yang beredar adalah masih sebanyak 18.554.593 koin BTC. Jadi, masih ada sisa kurang lebih 2,3 juta koin BTC yang masih belum tertambang. Berikut ini hasil tangkapan layar penulis terhadap total stok koin BTC dan sekaligus Market Cap-nya BTC.

 

Alhasil, jika kita cek jumlah aset BTC pada coingecko saat ini (per 26 Nopember 2020) adalah sebanyak 18.554.593 BTC, dan harga per BTC adalah sebesar Rp. 243.363.531,-, maka total kapitalisasi pasar untuk BTC adalah sebesar Rp. 4.485.872.319.028.532,-.

Fluktuasi harga BTC selama sehari semalam per 26 November 2020 adalah ada pada rank terendah sebesar Rp. 232.931.913 dan rank tertinggi setara Rp 272.951.580. Rerata fluktuasi harga tercatat selama 24 jam terjadi sebesar Rp. 241.766.139. Untuk lebih jelasnya, bagaimana fluktuasi itu terjadi, simak pergerakan harga BTC terhitung mulai 25 November 2020 sampai dengan 26 November 2020 berikut ini!

 

Fluktuasi ini menandakan bahwa koin BTC merupakan yang paling diburu oleh pengusaha sebagai instrumen pembayaran dalam kegiatan bisnis mereka disebabkan lebih praktis dalam melakukan transfer ke seluruh dunia melalui sistem jaringan yang terdesentralisasi, sehingga memperkecil pengeluaran. Sebagaimana diketahui bahwa manfaat penyederhanaan alur ini, sebagai yang tidak bisa ditemui pada penggunaan mata uang fiat. Jadi, memiliki 1 BTC, secara tidak langsung memiliki 1 manfaat utama akibat kepemilikannya, yaitu ia bisa membayar kebutuhan bisnisnya tanpa bank sehingga lebih murah dibanding secara konvensional.

Fluktuasi di atas juga secara tidak langsung menggambarkan bahwa BTC menduduki posisi sebagai aset yang bersifat volatil (mudah dicairkan). Selaku aset yang volatil, maka BTC kedudukannya setara dengan logam mulia (emas dan perak). Akan tetapi, BTC bukanlah emas dan perak. BTC adalah sebuah aset niaga disebabkan manfaat yang dimilikinya.

Memproduksi Bitcoin dan Aset Crypto

Karena BTC diterima penggunaannya oleh para pebisnis modern di dunia, maka dalam praktiknya, BTC dan aset crypto merupakan yang sah menempati posisi sebagai harta.

Risiko sebagai aset niaga, adalah BTC bisa diproduksi oleh pihak yang memenuhi syarat pemroduksiannya, sebagaimana saham bisa diterbitkan oleh sebuah perusahaan (platform) yang memenuhi syarat pemroduksiannya.

Tentu saja, agar BTC atau saham tersebut bukanlah merupakan sebuah asset fiktif, maka diperlukan adanya penjamin aset, dan untuk BTC hal ini sudah dibuktikan dengan keberadaan sandi crypto  yang tidak bisa dipalsukan, serta tanda tangan (hash) kriptografi.

Tandatangan kriptografi ini dalam dunia pasar bursa saham, dikenal sebagai Pihak Penjamin Emisi. Tanpa keberadaan pihak penjamin emisi tersebut atau yang setara dengan penjamin emisi, maka sebuah saham atau aset kriptografi tidak bisa disebut sebagai harta. ia hanya menjadi sebuah harta mondial / fiktif.

Memperdagangkan aset yang bersifat mondial, adalah sama dengan jual beli barang ma’dum, sehingga hukumnya adalah haram.

Adapun memproduksi BTC sebagai aset yang dijamin emisinya, serta menjualbelikan BTC dan aset kriptografi lainnya, hukumnya adalah boleh disebabkan memenuhi syarat sebagai komoditas (maal tijary).

Karena BTC merupakan koin yang sebenarnya (koin asli), maka akad jual beli BTC tidak termasuk sebagai jual beli barang maushuf fi al-dzimmah (sesuatu yang bisa disifati). Jual beli BTC adalah termasuk jual beli ainun musyahadah. Mengapa? Sebab BTC disimpan dalam hardisk yang terhubung dengan jaringan blockchain. Penasarufannya, memerlukan sejumlah sandi yang diperlukan dan sekaligus konfirmasi. Wallahu a’lam bi al-shawab

1 KOMENTAR

  1. Maaf Yai, penjelasan terkait dengan fluktuasi yang disimpulkan paling diburu pengusaha sebagai alat pembayaran serta diterjemahkan mudah dicairkan sepertinya kurang pas yai

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here