Menabung untuk Kurban, Apakah Termasuk Nazar?

1
156

BincangSyariah.Com – Agar bisa melakukan kurban di bulan Haji, terdapat sebagian orang yang menabung uang jauh-jauh hari untuk dibelikan hewan kurban. Kemudian setelah sampai waktunya berkurban, uang hasil tabungan tersebut dibelikan hewan kurban. Apakah menabung untuk kurban termasuk bagian dari nazar sehingga tidak boleh boleh memakan dagingnya? (Baca: Bernazar Kurban dalam Hati, Apakah Jadi Wajib Berkurban?)

Menabung uang untuk dibelikan hewan kurban tidak termasuk bagian nazar. Ia hanya dikategorikan sebagai niat dan keinginan untuk melakukan kurban. Oleh karena itu, jika kita menabung atau ikut arisan kurban, maka hal itu bukan nazar dan tidak termasuk kurban wajib, sehingga kita boleh makan daging hewan kurban tersebut.

Menurut para ulama, jika kita hanya sekedar membeli hewan kurban, atau menabung, berniat untuk berkurban, maka hal itu tidak disebut nazar. Kurban disebut nazar jika hewan kurban telah dibeli atau sudah ada dan ada ungkapan lisan dari pemiliknya bahwa hewan ini adalah hewan kurban. Misalnya, ‘Aku jadikan hewan ini sebagai kurbanku’, atau ‘Demi Allah, aku berkurban dengan hewan ini.’

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Hasyiatul Jamal berikut;

وقضية ما فى الروض انها لا تصير أضحية بنفس الشراء ولا بنيته فلابد من لفظ يدل على الالتزام بعد الشراء

Kesimpulan yang ada dalam kitab Al-Raudh menjelaskan bahwasannya hewan (yang dibeli) tidak otomatis menjadi hewan sembelihan (kurban) berdasarkan transaksi dan niat semata. Dengan demikian, hewan dapat diketahui statusnya (sebagai hewan kurban atau yang lain) dengan ungkapan pemiliknya setelah jual beli dilakukan.
Menurut ulama Syafiiyah, kurban bisa menjadi wajib dalam dua kondisi, yakni: Pertama, ketika seseorang memiliki hewan yang sah untuk kurban kemudian dia memberikan isyarat bahwa hewan tersebut akan dijadikan sebagai kurban, semisal dengan perkataan: “Ini hewan untuk kurbanku”. Kedua, kurban menjadi wajib hukumnya ketika seseorang bernazar berkurban dengan mengatakan: “Demi Allah, ini hewan kurbanku”.

Baca Juga :  Sistem Perwakilan dalam Pilkada 2020 di Era Covid-19

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu berikut;

وقال الشافعية : الأضحية الواجبة ـ المنذورة أو المعينة بقوله مثلاً: هذه أضحية أو جعلتها أضحية : لا يجوز الأكل منها، لا المضحي ولا من تلزمه نفقته ويتصدق بجميعها وجوباً

Ulama Syafiiyyah berpendapat bahwa kurban wajib yang dinazarkan atau ditentukan dengan ucapan seseorang misalnya, ‘hewan ini jadi kurban’ atau ‘aku jadikan hewan ini sebagai kurban,’ maka orang yang berkurban dan orang yang dalam tanggungannya tidak diperbolehkan makan dagingnya, dia wajib menyedekahkan semua dagingnya.

Dengan demikian, menabung atau ikut arisan kurban tidak dinamakan nazar, melainkan disebut sebagai niat atau keinginan untuk berkurban. Karena itu, jika tidak ada ungkapan nazar setelah hewan kurban dibeli, maka boleh bagi pemiliknya memakan daging hewan kurban tersebut.

1 KOMENTAR

  1. […] Dan tidak wajib bagi wakil ketika menyembelih mengucapkan ‘dari seseorang’, karena niat telah mencukupinya. Namun jika wakil menyebut nama orang yang berkurban, maka hal itu baik. Ini karena Nabi Saw ketika beliau berkurban, beliau berkata; Ya Allah, terimalah dari Muhammad, dari keluarga Muhammad dan umat Muhammad, kemudian beliau menyembelih. Hasan berkata; Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar, ini dari-Mu dan untuk-Mu, maka terimalah dari fulan. (Baca: Menabung untuk Kurban, Apakah Termasuk Nazar?) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here