Memperlakukan Anak Menurut Alquran

0
453

BincangSyariah.Com– Salah satu kejahatan yang dilakukan oleh masyarakat Arab pra-Islam (masa Jahiliyah) adalah membunuh anak-anak. Faktor kemiskinan menjadi alasan utama kenapa mereka membunuh bayi yang tidak berdosa. Melihat kondisi waktu itu, Arab adalah negeri padang pasir tandus yang gersang sehingga sangat sulit memanfaatkan alam untuk dijadikan sumber pangan.

Allah SWT menegaskan akan menjamin rezeki seorang anak. Dalam al-Quran dijelaskan “Janganlah kamu membunuh anak-anakkmu karena kemiskinan, kami akan member rezeki kepada kamu dan kepada mereka” (QS. Al-An’am: 151), “dan janganlah kamu membunh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan member rezeki kepada mereka dan juga kepada kamu” (QS. Al-Isra [17]: 31).

Pada dua ayat di atas Allah melarang membunh anak-anak karena kemiskinan (pada ayat pertama) atau karena takut miskin (pada ayat kedua). Membunuh dalam arti bukan hanya memisahkan ruh dan raga, tetapi juga membunuh karakternya sebagai seorang anak, membunuh masa kanak-kanaknya dan membunuh masa depannya.

Kehadiaran seorang anak adalah kebahagiaan paling besar bagi orang tua. Terlebih kebahagiaan ini akan sangat dirasakan bagi suami-isteri yang sudah lama menikah dan berharap mendapatkan momongan. Permasalahannya adalah sikap orang tua terhadap anak. Apakah keahadiran anak itu sebagai anugerah atau amanah? Anggapan ini yang akan menentukan sikap orang tua kepada anaknya.

Anugerah pada umumnya adalah pemberian secara cuma-cuma, sedangkan titipan sejatinya bukan milik kita dan kelak akan diminta pertanggungjawabannya jika ada kerusakan atau kesalahan. Sebagai ilustrasi jika kita memiliki sebuah benda maka perlakuan kita tergantung pada status benda itu. Apabila benda tersebut pemberian dari seseorang, kita akan memperlakukannya dengan sesuka hati karena tidak ada ursan lagi dengan si pemberi. Jika benda itu amanah (titiapan) kita akan sangat berhati-hati menggunakannya walaupun si pemilik sudah mengizinkan untuk memakai dan memanfaatkan benda tersebut.

Baca Juga :  Amalan Agar Dikaruniai Anak Lelaki

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (At-Tahrim: 6).

Selain jaminan rezeki yang akan diberikan Allah kepada anak dan tanggung jawab orang tua untuk menjaganya, al-Quran menjeaskan sifat dasar/ tabiat seorang anak yang harus difahami setiap orang tua agar sejarah kekerasan pada anak tidak selalu terulang.

Pertama,anak sebagai perhiasan.“Harta dan anak merupakan perhiasan kehidupan di dunia”(QS. Al-Kahfi: 46). Perhiasan adalah benda yang dipakai untuk memperelok diri agar terlihat lebih indah, anak yang baik akan mengharumkan nama orang tua dan mengangkat derajatnya begitu pun sebaliknya. Pepatah jawa mengatakan Anak polah bapak kepradah(tingkah laku anak akan membawa nama bapaknya).

Kedua,anak sebagai penyejuk jiwa.“wahai tuhan kami, anugerailah kami isteri dan anak yang menjadi penyejuk jiwa” (QS. Al-Furqan: 74). Situasi yang menyejukan jiwa adalah merasa tentram dan aman di sampinya, kondisi ini tidak akan terjadi kecuali anak itu adalah anak yang baik dan berbakti kepada orang tuanya.

Ketiga, anak sebagai ujian atau cobaan.“ketahuliah bahwa anya harta benda dan anak-anakmu adalah ujian/cobaan” (QS. Al-Anfal: 28). Waktu dan tenaga akan banyak terbagi dengan kehadiraan seorang anak, focus pikiran akan terbelah, setiap tahun fase dan kadar ujian yang dihadapi orang tua akan berbeda-beda.  Hanya ada satu pilihan menghadapi ujian yaitu sabar.

Keemapat, anak sebagai musuh.“Hai orang-orang yang beriman, sungguh di antara isteri dan anak-anakmu bisa jadi musuh” (QS. At-Taghabun: 14). Perseteruan nabi Nuh dengan anaknya adalah salah satu contoh anak yang juga berperan sebagai musuh. Atas dasar sayang kepada anak tidak sedikit orang tua yang menghalalkan segala cara demi membahagiakan anaknya, atas dasar itu pula banyak orang tua yang melakukan perilaku-perilaku yang dilarang seperti manipulasi, korupsi dan sebagainya. Maka waspadalah! Anak bisa jadi musuh berbisa dalam selimut yang dapat mematikan kapan saja.

Baca Juga :  “Hadis” ini Dibajak untuk Tanggapi Tangisan Ahok, Bagaimana Kualitasnya?

Kesimpulannya, tidak ada alsan yang logis untuk membenarkan kekerasan pada anak. Jika itu terjadi kesalahan mutlak terletak pada orang tua atau orang di sekitanya. Anak lebih berharga dari harta dan perhisan untuk itu harus hati-hati dan teliti menjaganya, tapi anak juga sebagai ujian dan musuh, butuh kesabaran dan setrategi mendidiknya, akhirnya anak akan menjadi penyejuk jiwa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.