Ini Hikmah Tidak Memotong Rambut dan Kuku Ketika Hendak Berkurban

2
1102

BincangSyariah.Com – Ketika kita hendak berkurban, baik berkurban dengan biaya sendiri atau biaya orang lain, maka dianjurkan bagi kita untuk tidak memotong dan mencabut rambut dan kuku sejak malam pertama bulan Dzulhijjah hingga hewan kurban kita disembelih. Jika kita memotong atau mencabutnya, maka hukumnya makruh menurut ulama Malikiyah dan Syafiiyah, dan haram menurut sebagian ulama Hanabilah. (Baca: Hadis Memotong Kuku Saat Qurban Idul Adha)

Ini sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Wahbah Al-Zuhaili dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu berikut;

وقال المالكية والشافعة وجماعة من الحنابلة : المستحب لمريد التضحية اذا دخل عليه عشر ذي الحجة الا يحلق شعره ولا يقلم اظفاره حتى يضحي بل يكره له ذلك وقال بعض الحنابلة : يحرم عليه ذلك

Ulama Malikiyah, Syafiiyah, dan sebagian ulama Hanabilah; Dianjurkan bagi orang yang hendak berkurban jika sudah memasuki sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah untuk tidak mencukur rambutnya dan memotong kukunya hingga dia berkurban. Melakukan hal itu dihukumi makruh, dan menurut sebagian ulama Hanabilah, haram baginya melakukan hal tersebut.

Dalil yang dijadikan dasar anjuran tidak memotong rambut dan kuku di antaranya adalah hadis riwayat Imam Muslim, dari Ummu Salamah, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda;

مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذا أُهِلَّ هِلالُ ذِي الحِجَّة فَلا يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْره وَلا منْ أَظْفَارهِ شَيْئاً حَتَّى يُضَحِّيَ

Barangsiapa memiliki hewan sembelihan yang akan disembelih (untuk kurban), maka ketika sudah masuk pada bulan Dzulhijjah, maka jangan sekali-kali mengambil (memotong) rambutnya dan kuku-kukunya sedikitpun sampai dia menyembelih.

Adapun hikmahnya, menurut sebagian ulama, adalah agar kita menyerupai orang yang sedang melakukan ihram haji. Pada saat mereka melakukan ihram haji, mereka tidak boleh mencukur rambut dan kuku

Sementara sebagian ulama mengatakan bahwa hikmahnya adalah agar semua bagian anggota tubuh orang yang berkurban tetap masih utuh hingga hewan kurbannya disembelih. Dengan demikian, semua anggota tubuhnya bisa mendapat jaminan terbebas dari api neraka.

Baca Juga :  Mengapa Masjid Diimbau Tutup, Sementara Pasar Tidak? Ini Tinjauan Maqashid Syariah

Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

والحكمة في مشروعية الامساك عن الشعر والاظفار ونحوهما قيل انها التشبه بالمحرم بالحج والصحيح ان الحكمة ان يبقي مريد التضحية كامل الجزاء رجاء ان يعتق من النار بالتضحية

Hikmah disayariatkan tidak memotong rambut dan kuku serta lainnya, dikatakan, bahwa agar menyerupai orang yang sedang ihram haji. Yang benar hikmahnya adalah agar orang yang berhendak berkurban semua bagian tubuhnya sempurna dengan harapan semuanya terbebas dari api neraka.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here