Memetik Hikmah dari Pesan Iblis

3
3826

BincangSyariah.Com – Imam Abû Ḥâmid Muḥammad bin Muḥammad bin Muḥammad al-Gazâlî aṭ-Ṭûsî raḥmah allâh ‘alaih menceritakan dalam kitab Iḥyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn (j. 3 h. 31) bahwa suatu ketika Iblis bertemu dengan Nabi Musa as. seraya berkata, “Wahai Musa, engkau adalah orang yang telah dipilih oleh Allah dengan risalahNya dan diberikan keistimewaan bisa berbicara denganNya secara langsung. Sementara aku adalah makhluk Allah yang telah durhaka kepadaNya. Oleh karena itu, tolonglah aku agar Allah mau mengampuni dosa-dosaku.”

Mendengar permintaan Iblis tersebut, Nabi Musa as. pun menyanggupinya. Kemudian beliau menaiki sebuah gunung dan berbicara kepada Allah di sana. Ketika mau turun dari atas gunung, Allah berfirman kepada beliau, “Sampaikanlah amanah yang telah engkau terima”. Nabi Musa as. langsung menjawab, “Ya Tuhanku, hambaMu, Iblis, menghendaki agar diampuni dosa-dosanya.“ Allah berfirman kepada beliau, “Wahai Musa, sungguh Aku telah menerima dan mengabulkan permintaanmu. Suruhlah dia bersujud kepada kuburan Adam sampai dia (Adam) menerima tobatnya.”

Setelah itu, Nabi Musa as. bertemu dengan Iblis dan berkata, “Wahai Iblis, aku telah melaksanakan permintaanmu. Allah memerintahkanmu untuk bersujud kepada kuburan Nabi Adam sampai dia menerima tobatmu.” Mendengar penjelasan itu, Iblis marah dan takabur sambil berkata, “Ketika Adam masih hidup, aku tidak mau bersujud kepadanya. Apalagi sekarang dia sudah mati!” Kemudian dia berkata, “Wahai Musa, sesungguhnya aku berutang budi kepadamu karena telah menolongku untuk menghaturkan tobatku kepada Tuhanmu.”

Oleh karena itu, ingatlah kepadaku ketika engkau berada dalam tiga hal, maka aku tidak akan mencelakakanmu, yaitu:

Pertama, ingatlah kepadaku ketika engkau marah. Karena ruhku ada dalam hatimu, mataku ada dalam matamu dan aku menjelajahi tubuhmu melalui peredaran darah. Ingatlah kepadaku ketika engkau marah. Karena sesungguhnya ketika manusia marah, aku meniup mulutnya, sehingga dia tidak bisa mengontrol dirinya;

Baca Juga :  Benarkah Baca Yasin untuk Orang yang Mau Meninggal Meringankan Sakaratul Maut?

Kedua, ingatlah kepadaku ketika engkau sedang susah (sulit). Karena sesungguhnya aku mendatangi anak Adam ketika sedang susah, di mana aku mengingatkannya kepada istrinya, anak-anaknya dan seluruh keluarganya. Sehingga dia mengambil jalan pintas dan berpaling dari jalan yang benar;

Dan ketiga, waspadalah ketika engkau duduk berduaan dengan perempuan yang bukan mahramnya. Karena sesungguhnya dia merupakan utusanku kepadamu agar engkau menggodanya. Di mana aku tidak akan pergi barang sebentar sampai aku sukses menodaimu melaluinya dan menodainya melaluimu.”

Pernyataan Iblis ini, menurut Imam al-Gazâlî, mengindikasikan tiga hal yang menjadi pintu masuk Iblis untuk menguasai dan menjerumuskan manusia, yaitu marah, rakus, dan syahwat.

Hal ini sesuai dengan komitmen awal Iblis ketika diusir dari surga untuk menghalangi umat manusia dan menyesatkan mereka dari jalan yang benar secara terus menerus, sebagaimana termaktub dalam al-Qur’an,

“(Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah Menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalanMu yang lurus.” Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (al-A’râf: 16-17).”

Semoga kita senantiasa berada dalam pertolongan dan perlindungan Allah. Sehingga selamat dari godaan Iblis dan setan yang terkutuk. Amin… “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan-nya manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia (an-Nâs: 1-6).” Wa Allâh a’lam wa a’lâ wa aḥkam…

 

3 KOMENTAR

  1. Hehehe… Biasa ajalah mas bro. santai begitu. Beragama jangan sekaku itu. Darabatu aja dalam nahwu dibaca darabtu kok. Dalam hal ini, epistemologi pengetahuan itu bukan hanya bayani dan burhani saja, tetapi ada ‘irfani yang itu punya wilayah tersendiri dan kajian tersendiri. Meminjam istilah, kalau tidak salah, syaikhul akbar Ibn ‘Arabi ada tiga ilmu. Ilmul hal, ilmul ‘aql dan ilmul asrar. Main-mainlah ke jogja nanti kita ngopi untuk sekedar ngobrolin ilmul asrar itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here