Membunuh untuk Membela Diri dalam Pandangan Hukum Islam

0
23

BincangSyariah.Com – Sebenarnya, dalam khazanah kitab fikih, sudah dibicarakan tentang kedudukan hukum membunuh untuk membela diri. Yang dimaksud dengan membunuh untuk membela diri adalah melakukan tindakan pembunuhan terhadap orang yang mencoba menyerang atau menyakitinya, dimana jika hal itu tidak dilakukan maka orang yang membunuh ini bisa kehilangan kehormatannya atau nyawanya sendiri bisa melayang. Kehilangan kehormatan ini misalnya, terjadi kepada perempuan – dan mungkin saja kebalikannya – yang mencoba menghindari atau membela dirinya agar tidak diperkosa oleh laki-laki hidung belang. Dalam kondisi seperti ini, membunuh untuk membela diri untuk menjaga kehormatannya, dibenarkan.

Sebagai contoh kasus, mengutip dari Kompas.com menjelang akhir tahun 2020 terjadi peristiwa di mana ada seorang anak berinisial R berusia 9 tahun membela seorang ibu yang hendak diperkosa oleh seorang pria.

Nahas, peristiwa yang terjadi di Lhoukseumawe, Aceh ini berakhir dengan sang anak mendapatkan serangan senjata tajam dari pria tadi dan berakhir dengan meregang nyawa. Pria tadi pun akhirnya juga berakhir hidupnya akibat sesak nafas di dalam penjara. Kisah ini memang tragis dan memilukan.

Namun pengutipan ini penulis kutip untuk menjadi salah satu contoh fragmen upaya membela diri ketika seseorang atau kita sendiri hendak direnggut kehormatan atau bahkan nyawa sendiri itu dibenarkan.

Kembali kedalam keterangan dalam kitab fikih, Syaikh Abu Bakar al-Hishni dalam kitab Kifāyatu al-Akhyār (Surabaya : Dar al-‘Ilmi, j. 2 h. 156), mengistilahkan aktivitas perampasan atau pemaksaan yang berujung pada penghilangan nyawa tadi dengan sebuta as-Shoo’il. Ia menyatakan,

من صال على شخصٍ مسلم بغير حقّ يريد قتله، جاز للمقصود دفعه عن نفسه ان لم يقدرعلى هرب أو تحصّنٍ بمكان أو غيره. فإن قدر على ملجأ وجب عليه ذلك لأنه مأمور بتخليص نفسه بالأهون. وهذا هو الصحيح من اختلاف كثير.

siapa yang menyerang seorang muslim tanpa ada alasan yang dibenarkan, dengan tujuan untuk membunuhnya (muslim), boleh bagi muslim itu untuk melawannya jika ia tidak bisa kabur atau berlindung di suatu tempat atau upaya lainnya. Jika ia mampu mencari tempat berlindung, maka wajib baginya untuk berlindung dulu karena seorang muslim diperintahkan untuk membebaskan dirinya dari aktivitas yang lebih hina (karena menghabisi nyawa atau merampas milik orang lain pada dasarnya adalah perbuatan hina). Dan ini adalah pendapat yang sahih dari aneka ragam pendapat.

Dari kutipan di atas, kita dapat menarik dua kesimpulan mendasar tentang persoalan hukum membunuh untuk membela diri.

Pertama, orang yang tidak memungkinkan lagi baginya untuk menghindar atau melarikan diri dari orang yang mencoba menyerangnya, maka ia diperbolehkan untuk membela diri. Diantara bentuk membela diri yang diizinkan adalah, menghilangkan nyawa orang yang mau menyerang jika memungkinkan dan itu merupakan jalan terbaik.

Kedua, jika masih memungkinkan untuk melarikan diri atau mencari tempat perlindungan, maka mencari perlindungan lebih diutamakan karena pada dasarnya, menghindar dari melakukan sebuah keburukan atau kehinaan, termasuk dalam hal ini adalah menyakiti atau menghilangkan nyawa sesama manusia, itu lebih utama.

Lebih Utama Membela Diri dengan Membunuh atau Meminta Pertolongan?

Masih mengutip Syekh Taqiyuddin al-Hishni, menurutnya salah satu pendapat lemah dalam persoalan membunuh untuk membela diri itu adalah tidak mencari perlindungan dan bertahan untuk melawan. Lalu saat melawan, apakah orang yang hendak dizalimi tadi boleh langsung melawan dengan seperangkat alat yang bisa menghilangkan nyawa seperti sajam (senjata tajam) atau senpi (senjata api)? Syekh Taqiyuddin al-Hishni dalam Kifāyatu al-Akhyār melanjutkan,

… ومقاتلته فإن لم يقدر على ملجأ فله مقاتلته بشرط أن يأتي بالأخف فالأخف. فإن أمكنه الدفع بالكلام أو الصياح أو الإستغاثة بالناس لم يكن له الضرب، فإن لم يندفع إلا بالضرب فله أن يضربه، ويراعي فيه الترتيب. فإن أمكن باليد لم يضربه بالسوط… لأن الصائل ظالم. والظالم معتدٍ. والمعتدي مباح القتال. ومباح القتال لا يجب ضمانه.

“…. Dan melawan orang yang hendak menyakiti kita, jika tidak memungkin mencari tempat perlindungan maka ia boleh melawan orang yang menzalimi tadi dengan syarat harus melawan secara bertahap dari paling ringan. Jika memungkin membela hanya dengan ucapan, teriak, atau meminta tolong kepada orang-orang maka ia boleh melakukan serangan dengan pemukulan. Jika membela diri hanya memungkinkan dengan melakukan pemukulan, maka ia berhak melakukannya dengan bertahap (dimulai dari tidak menggunakan alat). Jika memungkinkan dengan tangan kosong, jangan memukulnya dengan cambuk. Jika memungkinkan dengan cambuk, jangan memukulnya dengan kayu. Jika memungkinkannya dengan kayu, jangan menggunakan benda tajam… Karena orang yang menyerang orang lain itu adalah orang yang zalim. Orang zalim itu orang yang mengobarkan permusuhan. Dan orang yang mengobarkan permusuhan (pada dasarnya) boleh diperangi. Dan orang yang boleh diperangi tidak wajib mendapatkan perlindungan.”

Dari pernyataan Syaikh Taqiyuddin al-Hishni, seperti disinggung sebelumnya bahwa sebenarnya lebih utama bagi orang yang hendak dihabisi nyawanya untuk menghindar terlebih dahulu. Termasuk dari menghindar ini adalah, berteriak atau memohon pertolongan dari pihak keamanan. Kalaupun harus melakukan perlawanan dengan berduel, teks fikih menjelaskan untuk melakukan perlawanan dalam batas membela diri. Artinya, jika tanpa harus menyakiti, lebih utama dibandingkan sampai menyakiti apalagi sampai menghilangkan nyawa.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here