Membuat Masjid di Rumah, Solusi Ibadah Ramadhan di Tengah Pandemi

0
305

BincangSyariah.Com – Ramadhan di tahun ini akan kita jalani dalam suasan yang berbeda, karena dampak dari penyebaran pandemi Covid-19 di negeri ini. Terkait dengan antisipasi penyebaran Covid-19, pemerintah melalui Kementerian Agama telah mengeluarkan Surat Edaran nomor SE. 6 Tahun 2020 tentang Panduan Ibadah Ramadhan dan Idul Fitri 1 Syawal 1441 H di Tengah Pandemi Covid-19.

Surat Edaran berisi tujuh belas macam kegiatan selama Ramadhan yang biasanya melibatkan kumpulan orang banyak, di antaranya: tidak boleh mengadakan sahur on the road dan buka bersama, perintah melaksanakan tarawih di rumah saja bersama keluarga inti (ayah, ibu dan anak), perintah untuk tadarrus di rumah masing-masing, tidak ada peringatan Nuzulul Qur’an secara masal, tidak melaksanakan iktikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan di masjid atau musala, halal bihalal saat lebaran dilakukan menggunakan media sosial, mengatur pengumpulan dan pendistribusian zakat fitrah dan lain-lain.

Bagi kaum muslimin yang biasa melaksanakan kegiatan Ramadhan bersama-sama di masjid-musala, mereka akan merasakan ada suasana yang hilang dari Ramadhan ini, karena kegiatan ibadah Ramadhan cukup dilakukan di rumah. Walaupun demikian, sebisa mungkin anugerah yang melimpah selama Ramadhan akan tetap kita dapatkan, terutama terkait dengan ibadah yang berhubungan dengan masjid, seperti iktikaf di sepuluh hari terahir bulan Ramadhan.

Terkait dengan perihal tersebut, diperlukan solusi agar kita bisa tetap beribadah di masjid walaupun sedang berada di rumah, yaitu dengan cara membuat masjid pribadi di dalam rumah untuk satu keluarga.

Solusi ini mungkin terdengar aneh, tetapi sebenarnya untuk memiliki masjid di dalam rumah tidaklah sulit. Kita tidak harus membuat bangunan khusus di dalam rumah dalam bentuk masjid, tetapi cukup menggunakan cara-cara yang sudah dijelaskan dalam fikih.

Membuat Masjid di dalam Rumah 

Para fukaha menjelaskan bahwa ibadah salat tahiyyatul masjid dan iktikaf hanya boleh dilaksanakan di dalam masjid. Kemudian yang disebut masjid pastilah sesuatu yang diwakafkan, dan harus berupa benda yang ghairu manqul (benda tidak bergerak) seperti tanah atau bangunan. (Baca: Tata Cara Shalat Tarawih di Rumah Selama Covid-19)

Sedangkan sesuatu yang manqul (benda bergerak), seperti karpet atau sajadah, tidak boleh diwakafkan untuk dijadikan masjid kecuali benda tersebut terlebih dahulu dibuat permanen dengan cara dipaku atau yang lain.

Masalah wakaf benda bergerak untuk masjid dijelaskan oleh Sulaiman al-Jamal dalam Hasyiyah al-Jamal sebagai berikut:

…أَمَّا لَوْ وَقَفَ الْمَنْقُولَ مَسْجِدًا فَلَا يَصِحُّ مَا لَمْ يُثْبِتْهُ فِي الْأَرْضِ، فَإِنْ أَثْبَتَهُ بِنَحْوِ تَسْمِيرِهِ صَحَّ إنْ كَانَ مَحَلُّهُ لَهُ الِانْتِفَاعُ بِهِ…

“…Jika seseorang mewakafkan benda yang manqul (benda bergerak) untuk dijadikan masjid, maka wakaf tersebut tidak sah selama tidak dibuat permanen terlebih dahulu di atas tanah. Jika sudah dibuat permanen dengan cara semisal dipaku, maka wakaf tersebut sah, selama benda tersebut bisa dimanfaatkan”.

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa pemakuan benda bergerak itu dilakukan agar menjadi permanen, sehingga tidak merubah prinsip wakaf untuk masjid, yaitu “tidak boleh mewakafkan benda bergerak untuk dijadikan masjid.”

Kemudian dalam Tuhfatul Muhtaj, Ibnu Hajar al-Haitami mengutip penjelasan tentang cara menjadikan sajadah sebagai masjid:

وَالْقِيَاسُ عَلَى تَسْمِيرِ الْخَشَبِ أَنَّهُ لَوْ سَمَّرَ السَّجَّادَةَ صَحَّ وَقْفُهَا مَسْجِدًا وَهُوَ ظَاهِرٌ … وَإِذَا سَمَّرَ حَصِيرًا أَوْ فَرْوَةً فِي أَرْضٍ أَوْ مسْطَبَةٍ وَوَقَفَهَا مَسْجِدًا صَحَّ ذَلِكَ وَجَرَى عَلَيْهِمَا أَحْكَامُ الْمَسَاجِدِ وَيَصِحُّ الِاعْتِكَافُ فِيهِمَا وَيَحْرُمُ عَلَى الْجُنُبِ الْمُكْثُ فِيهِمَا وَغَيْرُ ذَلِكَ.

Dianalogkan dengan memaku kayu (di atas lantai tempat duduk), yaitu ketika seseorang memaku sajadah, maka wakafnya sah sebagai masjid. Permasalahan ini sudah jelas…Jika seseorang memaku tikar atau farwah (sejenis jubah) di atas tanah atau misthabah (tempat yang ditinggikan untuk tempat duduk), kemudian diwakafkan menjadi masjid, maka sah wakafnya. Kemudian berlakulah hukum masjid atas tikar dan farwah tersebut, sehingga boleh iktikaf di atasnya, bagi orang junub diharamkan berdiam diri di atasnya, dan hukum-hukum yang lain”.

Jadi jika kita ingin menjadikan karpet atau sajadah menjadi masjid, caranya adalah dengan merekatkan benda tersebur secara permanen pada lantai rumah, kemudian baru diwakafkan sebagai masjid.

Jika di kemudian hari karpet dan sajadah tersebut dilepas, tidak lagi melekat secara permanen, maka menurut as-Suyuthi, hukum masjid pada kedua karpet dan sajadah tersebut menjadi hilang.

Pendapat as-Suyuthi ini berbeda dengan pendapat sebagian ulama mutaakhkhirin yang mengatkan bahwa keduanya tetap menjadi masjid.

Ibrahim al-Bajuri menjelaskan dalam Hasyiyahnya:

لَوْ وَقَفَ إِنْسَانٌ نَحْوَ فَرْوَةٍ كَسَجَادَةٍ مَسْجِدًا، فَإِنْ لَمْ يُثْبِتْهَا حَالَ الْوَقْفِيَّةِ بِنَحْوِ تَسْمِيْرٍ لَمْ يَصِحَّ، وَاِنْ أَثْبَتَهَا حَالَ الْوَقْفِيَّةِ بِذَلِكَ صَحَّ، وَإِنْ أُزِيْلَتْ بَعْدَ ذَلِكَ، لِأَنَّ الْوَقْفِيَّةَ إِذَا ثَبَتَتْ لَا تَزُوْلُ. وَبِهَذَا يُلْغَزُ لَنَا شَخْصٌ يَحْمِلُ مَسْجِدَهُ عَلَى ظَهْرِهِ. وَيَصِحُّ اعْتِكَافُهُ عَلَيْهَا حِينَئِذٍ

Jika seseorang mewakafkan benda semacam farwah (sejenis jubah), misalkan sajadah, untuk dijadikan masjid, maka jika benda tersebut tidak dibuat permanen terlebih dahulu ketika wakaf, dengan cara dipaku atau yang lain, maka wakafnya tidak sah. Jika dipermanenkan terebih dahulu ketika wakaf, maka wakafnya sah, walapun setelah itu dilepaskan kembali, karena wakaf ketika sudah ditetapkan, maka status hukumnya tidak bisa hilang. Masalah ini kemudian dibuat teka teki, “Ada seseorang yang membawa masjidnya di atas pundak. Siapakah dia? Ketika wakaf sajadah ini dihukumi sah, diperolehkan beriktikaf di atasnya.”

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan, syarat benda yang diwakafkan menjadi masjid adalah benda yang tidak bergerak. Sedangkan benda bergerak semisal sajadah, bisa dijadikan masjid dengan cara direkatkan terlebih dulu dengan lantai atau di tanah, agar menjadi permanen, setelah itu baru diwakafkan.

Mengikuti ulama mutaakhkhirin, sajadah yang sudah sah menjadi masjid boleh dilepas kembali, bisa kita bawa kesana-kemari, dan hukum kemasjidannya tidak hilang, sehinga tetap boleh dipakai untuk iktikaf.

Dengan solusi ini, kita tidak akan kehilangan ibadah yang berhubungan dengan masjid dalam momentum Ramadhan kali ini, karena kita tetap bisa melakukan ibadah di masjid walaupun sedang di rumah. []  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here