Membongkar “Mitos Pluralisme di NU”: Memahami Alam Bawah Sadar Penulis [3-Habis]

1
1321

Tulisan ini adalah bagian terakhir dari Membongkar “Mitos Pluralisme di NU”: Memahami Alam Bawah Sadar Penulis [2]

BincangSyariah.Com – Secara keseluruhan, artikel itu berisikan informasi yang sangat relevan sekaligus kritik terhadap perkembangan Ormas Islam terbesar di tanah air, yaitu NU. Namun demikian, artikel itu juga  mengingatkan pada pernyataan yang disampaikan oleh Caroline Fourest & Venner Fiammetta di dalam bukunya yang berjudul Tirs Croisés : La laïcité à l’éprouve des integrisme juif, chrétien, et musulman. Di dalam buku yang terbit 2003 tersebut, Fourest & Venner yang dikenal sebagai tokoh yang getol mengkritik Islam dan Muslim di  Eropa menyatakan bahwa muslim, meskipun mereka yang dikategorikan sebagai moderat atau liberal, tetap saja mereka adalah kelompok yang tidak toleran terutama ketika dihadapkan pada isu-isu sensitif. Kesimpulan ini mereka ambil ketika mereka melihat kenyataan bahwa tak sedikit dari Muslim yang dikategorikan sebagai liberal dan moderat ternyata memiliki sikap yang sama dengan kelompok fundamentalis dalam isu LGBT. Dengan kata lain, sikap fundamentalis agama dapat ditemukan bahkan di kalangan Islamist liberal atau moderat sekalipun. Fourest dan Venner memandang Muslim sebagai identitas yang monolitik dan menafikan keragaman kelompok Muslim di Eropa.

Berdasarkan artikel Fourest dan Venner itu, mereka meletakkan semua umat Islam dalam satu kelompok dengan sematan istilah “fundamentalis”. Adapun artikel Marcus dan Burhan memasukkan NU dan seluruh anggotanya ke dalam keranjang yang bernama “mitos”. Ini tentu, gebyah uyah yang menihilkan usaha-usaha warga NU dalam menegakkan kehidupan beragama yang damai dan tolerans dan kehidupan berbangsa yang agamis-moderat.

Lebih jelasnya begini, kata mitos menjadi pembungkus keseluruhan data dan menafikan keragaman fakta yang terdapat di dalam warga NU. Dapat disimpulkan bahwa muslim intoleran menjadi mayoritas, bahkan di dalam kelompok masyarakat mayoritas muslim NU yang getol mengkampanyekan toleransi. Dengan kata lain, NU yang toleran adalah kebohongan karena mayoritas pengikutnya tidak toleran, itulah kesimpulan yang bersifat ‘simplistis’ yang hendak dikatakan dengan judul artikel Marcus dan Burhan. Kata Mitos sebenarnya berdampak sangat jauh dan lebih dalam bagi NU dan NKRI. Tegasnya, judul artikel Marcus dan Burhan itu seakan ingin mengatakan bahwa: NU moderat itu pun mitos; Gus Dur sebagai bagian dari perjuangan membela kelompok minoritas pun menjadi mitos; perjuangan masyarakat NU selama ini dalam melawan garakan kelompok radikalpun menjadi mitos!

Baca Juga :  Alasan Jokowi Membebaskan Abu Bakar Baasyir

Alih-alih menjelaskan tema dan dinamika toleransi sebagai tujuan penelitian, penulis menjadi tampak terpukau dan kehilangan daya kritisnya di hadapan angka statistik yang tampak diyakini sepenuhnya sebagai sebuah kebenaran sehingga keberanian menggunakan kata mitos itu pun muncul. Hilangnya daya kritis dan gaibnya kehati–hatian penulis dalam menafsirkan hasil temuannya ini menurut saya disebabkan oleh dua hal: Pertama, karena rasa percaya diri yang sangat besar karena data yang digunakan dipandang mampu merepresentasikan profil masyarakat dengan meyakinkan secara statistik. Kedua, penulis melakukan generalisasi yang kurang bijak. Sikap ini, dalam istilah Fred Halliday (1999) “Islamophobia Reconsidered”, adalah sikap ‘alarmist’ yaitu sikap serampangan dengan menafikan keragaman yang ada dalam satu kelompok. Ada apakah gerangan dengan Marcus dan Burhan ?

Harus ditegaskan bahwa perjuangan pengakuan sebuah identitas tidak hanya muncul dari angka-angka statistik dan tidak dapat ditafsirkan seolah menyerupai kebenaran. Angka statistik seperti foto diri yang hanya diambil dari sisi tertentu. Dia  adalah sebuah petunjuk yang mendorong kita untuk mendalami dan memahami dinamika di dalam masyarakat lebih jauh lagi. Kaidah utama yang digunakan dalam membaca data statistik adalah keraguan. Kaidah yang menurut saya, Marcus dan Burhan pasti sudah mengetahuinya. Hal ini sangat penting untuk mengingatkan peneliti untuk selalu berhati -hati dalam mengambil kesimpulan. Terlebih lagi, seperti yang diutarakan filsuf Jerman Axel Honneth (1995/2005) dalam The Struggle for Recognition ketika menukil Hegel bahwa yang menjadi arena perjuangan untuk mewujudkan manusia paripurna tidak hanya pada diri individu sendiri, tetapi di dalam perjuangan yang lebih luas di dalam kelompok dan di dalam lingkup sosial di mana politik identitas saling berinteraksi untuk saling mendapatkan pengakuan.

Baca Juga :  Nahdlatul Ulama dan Kontroversi Kata Kafir

Dengan demikian, menyimpulkan kenyataan kelompok yang diharapkan untuk menjadi paripurna dari sebuah Ormas Islam terbesar seperti NU hanya dari satu sisi foto diri saja, tentu tidak cukup. Dalam tataran moral, menafikan bahkan menihilkan upaya perjuangan yang dilakukan sebagian warga NU dalam kancah sosial adalah hal yang kurang terpuji.  Di sisi yang lain, perpindahan narasi dari “toleransi NU” ke “intoleransi NU” lalu ke “memitoskan toleransi NU” dalam artikel itu menggambarkan alam batin dan kekecewaan Marcus dan Burhan terhadap NU.  Sangat disayangkan, artikel yang seharusnya dapat dijadikan pijakan untuk instrospeksi bagi NU, justru menjadi artikel yang tampak sedang menyerang NU secara serampangan, sehingga menghilangkan elemen–elemen penting yang sangat bermanfaat bagi masa depan dan perkembangan NU, terutama negeri ini.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here