Membongkar “Mitos Pluralisme di NU”: Memahami Alam Bawah Sadar Penulis [2]

3
557

Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan “Membongkar Mitos ‘Pluralisme’: Memahami Alam Bawah Sadar Penulis [1]

BincangSyariah.Com – Selanjutnya, tulisan ini menganalisis langsung isi artikel Marcus dan Burhan dengan melakukan dua hal: pertama, analisis kesesuaian antara abstrak dan kesimpulan; kedua, analisis antara abstrak dan penjelasan hasil penelitian. Pertama, soal kesesuaian antara abstrak dan kesimpulan. Baik di dalam abstrak maupun kesimpulan terkesan bahwa penulis tidak mengesampingkan peran NU dalam memperjuangkan toleransi. Terlebih, judul dan penjelasan di dalam abstrak dengan jelas disampaikan adalah untuk mengukur sikap pluralis dan toleransi di kalangan masyarakat Muslim di Indonesia, bukan untuk mengukur sikap intoleransi masyarakat Muslim. Satu catatan kesimpulan penulis yang layak disoroti terdapat dalam catatan berikut:

‘Rather than spreading pluralist ideas, the promotion of Islam Nusantara has masked the doctrinal heterogeneity and intolerant views inherent in NU for almost a century. The Islam Nusantara campaign, and the ensuing domestic and international coverage, has also wrongly situated NU as a solution to, rather than as being a part of, the trend of consolidating religious intolerance in Indonesia. Like in every other religio-political organization (including in non-Muslim ones), there are patterns of intolerance and illiberalism in NU that threaten Indonesia’s long-term sustainability as a democracy’.

Catatan penutup Marcus dan Burhan ini mengindikasikan adanya keragaman yang terdapat di dalam tubuh NU yang di dalamnya ada berbagai kelompok, termasuk kelompok yang tidak toleran atau tertutup. Dan di saat yang sama, Marcus dan Burhan mengingatkan, bahwa kampanye Islam Nusantara dapat menutupi adanya kelompok intoleran di NU ini dan tentu hal ini mereka yakini dapat menjadi batu sandungan bagi kelanjutan demokrasi di Indonesia.

Kedua, soal keterhubungan abstrak dengan analisis hasil riset perlu diamati. Artikel Marcus dan Burhan menyajikan informasi yang cukup kaya mengenai dinamika NU di dalam kancah politik  Indonesia sejak pasca kemerdekaan hingga kini. Menurut mereka, peran NU saat ini di antaranya adalah membuat gerakan Islam Nusantara yang ditujukan sebagai bentuk perlawanan terhadap kelompok kecil masyarakat yang tergabung di dalam Hizbut Tahrir (HTI) dan berkembangnya radikalisme agama di tanah air. Catatan kritis yang disampaikan oleh Marcus dan Burhan di dalam bagian ini adalah mengenai fakta bahwa kampanye pluralis yang dilakukan oleh NU tidak lebih dari sekedar pergulatan mendapatkan kekuasaan dan dukungan material dari pemerintah. Kenyataan ini kemudian disandingkan oleh penulis dengan hasil penelitian yang mereka lakukan.

Yang menarik adalah, sejak awal Marcus dan Burhan memulai analisisnya dengan menjelaskan mengenai definisi toleransi. Maka sebagai pembaca, saya seperti digiring ke dalam sebuah fakta mengenai data sikap toleransi masyarakat. Namun di paragraf selanjutnya penulis merubah topik analisisnya ke dalam dua kategori intoleransi yaitu intoleransi agama-budaya dan intoleransi agama-politik. Dan untuk selanjutnya, intoleransi menjadi tema pembicaraan yang mendominasi narasi di dalam artikel hingga akhir.

Di dalam tabel tanggapan masyarakat terhadap berbagai pengukuran sikap pluralisme dan intoleransi tampak bahwa pengikut NU mendominasi sebagai pemilih utama untuk empat variabel utama yaitu 1) Keberatan jika didirikan tempat ibadah non-Muslim (54%), 2) Keberatan jika pemimpin daerah non-Muslim (52%), 3) Keberatan jika non-Muslim menjadi gubernur (53%), 4) Setuju bahwa sebagai etnik Jawa seharusnya memilih orang Jawa (59%). Jumlah prosentasi masing – masing rata rata adalah 50 % lebih besar dibanding masyarakat Muhammadiyah.

Data ini tentu menarik untuk dikaji lebih lanjut. Mengetahui lebih dalam sebaran sampel penelitian dalam riset itu sangat perlu dilihat. Sebab, pada kenyataannya, kecenderungan NU yang muncul dan berkembang selama masa Pilkada dan Pilpres justru bertolak belakang dengan data artikel tersebut, yaitu mereka membela Ahok, membela, minoritas, dan menolak politisasi agama. Pertanyaannya kemudian adalah jika 50% persen warga NU dipandang memiliki sikap intoleransi, maka harus disebut apakah sisanya yang 50%? Haruskah mereka yang mengatakan bersikap toleran dikatakan sebagai bagian dari mitos belaka? Bukankah kata mitos mengartikan bahwa jumlah intoleransi menjadi 100 %?

Bersambung

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here