Membongkar “Mitos Pluralisme di NU”: Memahami Alam Bawah Sadar Penulis [1]

1
1193

BincangSyariah.Com – Tulisan singkat ini mencoba urun rembug untuk menganalisis polemik yang berkembang sehubungan dengan penggunaan kata ‘mitos’ di dalam artikel ‘ilmiah’ yang ditulis oleh Marcus Mietzner dan Burhanuddin Muhtadi dengan judul sangat bombastis: The Myth of Pluralism : Nahdlatul Ulama and the the Politic of Religious Tolerance in Indonesia. Pertanyaan saya, benarkah nilai keberagamaan yang tengah diejawantahkan NU, berupa tepasalira atas perbedaan agama, keyakinan, dan etnis (toleransi) dan hidup damai berdampingan dalam kemajemukan (pluralisme) hanya sebuah mitos ? Kata mitos di artikel itu sungguh menihilkan dan meniadakan kenyataan yang sebenarnya dilakukan NU berjuang demi tegaknya kehidupan beragama dan bermasyarakat secara damai berdampingan dalam perbedaan agama dan etnis dengan penuh tepasalira.

Saya tergelitik untuk menelisik lebih jauh ke dalam artikel tersebut untuk dapat memahami latar belakang di belakang penggunaan kata ‘mitos’ di dalam artikel tersebut. Apa yang telah mendorong Marcus dan Burhan menggunakan kata tersebut ? Saya tidak sedang menyajikan data tandingan sebagai penyeimbang. Namun, saya lebih tertarik untuk melakukan analisis semantik yang menjadi ruh artikel tersebut. Dengan demikian, objek kajian saya adalah artikel M&B itu sendiri. Saya pikir, hal ini sangat penting, karena ruh sebuah artikel sangat tergantung pada muatan ‘sentimen’ kata yang digunakan di dalamnya. Untuk hal ini, saya melakukan dua analisis. Pertama saya menganalisis frekwensi kata–kata yang digunakan. Kedua, saya menganalisis dinamika isi artikel tersebut dengan mengangkat kontek, tokoh, dan konflik yang dimunculkan.

Lalu-lalang Kata di dalam Teks

Untuk membantu analisa, dua program analisis kata yaitu Atlas.ti dan Cortext digunakan dalam tulisan singkat ini. Pertama, program Atlas.ti akan memberikan data mengenai frekwensi kata yang muncul yang ditampilkan dalam bentuk ‘word cloud’ (lihat gambar 1). Prinsip kerja analisis ini berdasarkan pada frekwensi kata yang seringkali muncul di dalam artikel. Semakin sering kata itu muncul, maka semakin besar intensitas kata tersebut digunakan dalam menjelaskan persoalan yang sedang dibahas di dalam artikel tersebut. Frekwensi kata ditunjukan besarnya ukuran kata yang mucul. Semakin besar berarti semakin sering kata tersebut muncul. Kata yang sering kali muncul dapat menjadi petunjuk mengenai tema utama dari keseluruhan isi artikel. Berdasarkan data ini, banyak hal yang dapat diangkat untuk dianalisis lebih lanjut. Di sini, saya hanya mengelompokannya ke dalam empat kelompok utama.

Baca Juga :  Prof. K.H. Anwar Musaddad: Kyai Kharismatik Asal Garut Pengembang Universitas Islam
Gambar 1. Kumpulan kata atau ‘world cloud’ berdasarkan frekwensinya

Pertama, mengenai metode dan konteks materi artikel. Artikel yang ditulis Marcus dan Burhan seperti dimaklumi membahas mengenai sebuah Ormas terbesar Islam di Indonesia, Nahdlatul Ulama. Data yang digunakan sebagai bahan analisis adalah data statistik yang menggunakan prosentasi sebagai bagian dari metode analisis. Kedua nama penulis tampak cukup sering kali muncul. Hal ini menunjukan, mungkin, artikel ini menjadi bagian dari sebuah penelitian besar yang dilakukan secara berkelanjutan atau riset ini sangat dipengaruhi oleh penelitian-penelitian yang dilakukan oleh penulis sebelumnya. Satu hal yang penting digarisbawahi di dalam hal ini adalah kata ‘tolerance’ muncul bersamaan dengan kata lain yang berdekatan yaitu ‘tolerant’, ‘intolerence’, dan ‘intolerant’. Elemen lain yang penting di dalam artikel ini adalah bahwa kontek pemilu menjadi bagian yang sangat penting di dalam artikel ini. Di samping beberapa istilah penting seperti ‘pluralism’, ‘religio-politic’, ‘politics’, ‘power’, dan ‘democracy’ menjadi elemen yang juga mewarnai dan melatar belakangi artikel Marcus dan Burhan.

Kedua, mengenai tema penelitian yang telah dilakukan. Berdasarkan data ini sekilas dapat disimpulkan bahwa riset ini dilakukan untuk meneliti mengenai perilaku toleransi. Saya belum dapat memastikan, apakah sampel yang digunakan secara 100% persen adalah warga NU, sebab dengan kata Muhammadiyah, FPI, dan HTI juga bermunculan.

Ketiga, mengenai tokoh yang dimunculkan di dalam artikel ini. Selain nama kedua penulis, Marcus dan Burhan, yang tampak sering muncul di dalam artikel ini, muncul juga nama–nama lain seperti Abdurahman Wahid, Ahok, Prabowo, Jokowi, Suharto, dan Ma’ruf Amin. Hal ini menunjukan kuatnya unsur politik yang melatarbelakangi narasi di dalam artikel Marcus dan Burhan.

Baca Juga :  Mengenal K.H. Achmad Baidhowi Asro

Keempat, mengenai istilah yang digunakan untuk menunjukan satu  kelompok masyarakat. Beberapa istilah yang digunakan di dalam artikel Marcus dan Burhan meliputi ‘pluralist’ dan ‘antipluralist’, ‘traditionalist”, ‘anti-ahok’, ‘anti-chinese’, ‘nu-affiliated’, ‘minorities’, ‘muslim‘ dan ‘non-Muslim’, ‘modernist’, dan ‘respondents’.

Berdasarkan tingginya frekwensi kata NU dan intoleransi yang muncul, maka dapat disimpulkan bahwa riset ini tentang perilaku intoleransi warga NU di Indonesia. Dapat dipahami bahwa riset ini menekankan atau lebih banyak membahas mengenai aspek intoleransi warga NU dibanding aspek toleransinya. Pemilu adalah konteks yang mendominasi yang menjadi petunjuk bahwa narasi yang berkembang di dalam artikel ini didominasi oleh iklim pesta demokrasi yang juga melibatkan tiga tokoh utama yaitu Jokowi, Prabowo, dan Ma’ruf amin. Tiga tokoh yang menjadi bagian wacana di dalamnya adalah Abdurrahman Wahid, Ahok, dan Suharto dengan nuansa anti-ahok, anti-Cina, minoritas, dan non-muslim menjadi bagian dari narasi di dalamnya.

Untuk mendukung temuan ini, saya kemudian menganalisis kata di dalam artikel ini dengan menggunakan program kedua: Cortext. Program ini memungkinkan melihat lebih jauh ke dalam artikel dengan menghubungkan antara tema pembicaraan terhadap keseluruhan teks. Sehingga kita dapat memperoleh gambaran topik-topik pembicaraan yang ditampilkan di dalam teks. Dalam hal ini, Cortext menampilkan 10 topik utama. Masing masing topik berisi seperangkat kata mendukung topik tersebut. Dari sini, yang terpenting adalah menampilkan satu topik besar yang menjadi inti pembicaraan di dalam artikel yaitu topik yang ke-1 (lingkaran terbesar berwarna merah di gambar dua). Cortext tidak memberikan nama pada masing – masing topik. Topik ini mempengaruhi keseluruhan artikel sebanyak 27%. Topik dengan prosentase paling besar dibanding yang lainnya seperti yang dapat dilihat di dalam gambar 2. Di dalam topik 1 berisi 30 kata yang muncul dengan frekwensi yang berbeda.

Baca Juga :  Bagilah Waktu Anak-anakmu Menjadi Empat Bagian
Gambar 2. Sebaran 10 Topik Utama Pembicaraan di dalam Artikel
Gamber 3. Frekwensi term yang muncul di dalam topik 1

Data yang diperoleh dari program Cortext tidak jauh berbeda. Data ini memperkuat ‘words cloud’ yang ditampilkan sebelumnya. Dengan kesimpulan yang juga tidak jauh berbeda, bahwa artikel ini berisi penelitian yang dilakukan dengan menggunakan survei yang mengukur tingkat intoleransi masyarkat muslim NU. Konteks pemilihan umum dan demokrasi menjadi bagian pembicaraan di dalam artikel ini. Disamping tema-tema lain yang menjadi bagian dari analisis yaitu toleransi, pluralis, dan keberagamaan. Kesimpulan umum berdasarkan tes validitas tampilan yang mencoba menghubungkan antara judul dan frekwensi kata yang muncul di dalam artikel ini adalah tidak ada keterhubungan antara satu dengan lainnya. Artinya, judul artikel tidak mendukung isi dari keseluruhan artikel. Artinya, kata ‘mitos’ tidak menjadi kata dominan yang digunakan oleh penulis dalam menjelaskan hasil temuannya. Mungkinkah kata mitos digunakan untuk menggantikan kata intoleransi yang mendominasi isi artikel Marcus dan Burhan? (Baca: Membongkar “Mitos Pluralisme di NU”: Memahami Alam Bawah Sadar Penulis [2])

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here