BincangSyariah.Com – Ada dua hari raya dalam Islam yaitu hari raya ‘idul fitri dan hari raya ‘idul adha. Keduanya memiliki cerita dan keistimewannya masing-masing. Menjelang hari raya ‘idul adha ini kami ingin mengulas sedikit tentang hadis:

فى الأضحية لصاحبها بكل شعرة حسنة

Artinya: Bagi orang yang berqurban setiap helai rambut adalah kebaikan.

Hadis di atas terdapat dalam berbagai kitab, di antaranya kitab Sunan Ibnu Majah, Mustadrak ‘ala Shahihain, Sunan al-Kubra, Mu’jam al-Kabir, Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, Targhib wa tarhib, dan Ahadits al-Syuyukh al-Tstiqat.

Dari seluruh kitab tersebut hadis di atas berasal dari Zaid bin Arqam ra.

Ada dua hal yang dibahas dalam tulisan ini, yaitu: (1) tentang kualitas dan penyebaran hadis tersebut; (2) tentang pemahaman dan pengamalan hadis tersebut.

Penyebaran Hadis ini melibatkan 27 orang perawi, masing-masing dari Baghdad 8 perawi, Kufah 3 perawi, Bashrah 5 perawi, Irak 2 perawi, Syam 1 orang, Asfihan 5 perawi, Naisapur 1 perawi, Kis 1 perawi dan yang tidak diketahui ada 2 orang.

Dari 27 perawi hadis di atas, 80% perawinya diterima periwatannya, 11% ditolak dan 9% lagi masih diperdebatkan.

Mereka yang masih dalam perdebatan adalah Abdullah bin Muhammad, Ashim bin Ali, Ali bin Muhammad dan Ahmad bin Muhammad.

Kualitas hadis ini adalah dhaif karena perawi awal sebagai satu-satunya jalur periwayatan dinilai sebagai orang yang dhaif dan munkar, yaitu Aizillah al-Majasyii dan Abu Daud al-Sabii. Karenannya, hadis di atas kualitasnya adalah dhaif.

Hadis yang singkat di atas diriwayatkan dalam bentuk matan yang beragam, namun informasinya tetap sama.

Jika dilihat dari penyebarannya hadis ini paling banyak menyebar pada abad ke 3 H. Hal ini terbukti dengan temuan bahwa hadis ini banyak disebarluaskan pada abad tersebut.

Baca Juga :  Apakah Darah di Gusi Membatalkan Puasa?

Lokasi yang menjadi tempat pusat penyebaran hadis ini adalah Bashrah yang saat ini ada Irak dan kedua di negara Iran seperti Asfihan.

Kedua kota ini khususnya Irak dahulu dikenal sebagai kota dengan sumber ulama hadis yang banyak, namun sayang saat ini prestasi itu tidak terlihat.

Pemahaman hadis

Terkait hadis di atas walaupun kualitas sanad hadis tersebut dhaif, namun matannya tetap dapat diamalkan karena diperkuat dengan hadis-hadis lain.

Sebagaimana yang terdapat dalam kutubus sittah, kecuali Shahih Bukhari megatakan sebagai berikut:

إذا دخل العشر، فأراد أحدكم أن يضحي، فلا يمس من شعره، ولا من بشره شيئا

Artinya: Apabila telah masuk 10 hari pertama Zul Hijjah maka bagi orang yang ingin berqurban janganlah memotong bulunya dan kukunya.

Hadis lain yang semakna dengan hadis di atas sebagai berikut:

عَنْ أُمِّ سَلَمةَ رضِيَ اللَّه عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: “مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ، فَإِذا أُهِلَّ هِلالُ ذِي الحِجَّة، فَلا يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْره وَلا منْ أَظْفَارهِ شَيْئاً حَتَّى يُضَحِّيَ “رَواهُ مُسْلِم

Artinya: Ummu Salamah bercerita kalau Rasulullah saw pernah berkata: “Siapa saja yang memiliki sembelihan yang akan dijadikan qurban, maka ketika sudah masuk pada bulan Dzul Hijjah, jangan sekali-kali mengambil (memotong) rambutnya dan kuku-kukunya sedikitpun sampai disembelih (HR Muslim).

Terkait kedua hadis di atas, ulama terbagi dua dalam memahami hadis tersebut. Kelompok pertama mengatakan bahwa larangan untuk memotong kuku dan bulu itu berlaku bagi yang akan berkurban.

Sementara itu, kelompok kedua berpendapat bahwa larangan itu merupakan anjuran untuk tidak memotong kuku atau bulu hewan ketika hendak dijadikan kurban.

Kedua pandangan tersebut tidak mengarah pada perbuatan wajib untuk meninggalkan atau berdosa jika melakukan, sebab larangan tersebut bukan bersifat haram apabila dilakukan, hanya berupa anjuran atau kesunnahan.

Baca Juga :  Rukyah Hilal Idul Fitri

Namun hadis tersebut tetap penting untuk dibahas karena ini berkaitan dengan ibadah apa saja yang disunnahkan ketika memasuki bulan Zulhijjah.

Memotong kuku atau memotong rambut ketika masuk bulan Zulhijjah dari dua pandangan di atas memiliki argumentasi yang sama-sama kuat.

Bagi yang mengatakan yang dilarang adalah orang yang akan menyembelih karena dhamir (kata ganti) dalam kalimat min syarihi dan azhfarihi kembali kepada orang yang akan menyembelih. Logikanya adalah apa relevansi pemotongan rambut dan kuku hewan? Untuk itu kembalinya dhamir (kata ganti) yang pas adalah kepada pemilik kurban.

Padangan yang kedua mengatakan bahwa dhamir-nya kembali kepada hewan qurban. Selain karena ia lebih dekat dengan kata sebelumnya dan didukung setidaknya dengan dua alasan.

Pertama, tradisi memotong kuku dan rambut hewan ternak memang dilakukan, khususnya untuk hewan-hewan dengan kualitas baik.

Kedua, pahala bagi orang yang berkurban sebagaimana yang menjadi persoalan dalam tulisan ini adalah sejumlah bulu dari hewan yang disembelih.

Pendapat yang kedua ini pernah disampaikan oleh almarhum Prof. Dr. K.H Ali Mustafa Ya’qub, sebagaimana pula dikuatkan dengan hadis berikut:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلًا أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ وَإِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَشْعَارِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

Artinya: ‘Aisyah bercerita bahwa Rasulullah saw bersabada, ‘amal yang paling dicintai oleh Allah swt pada ‘Id al-Adha (hari raya kurban) adalah mengalirkan darah (menyembelih hewan kurban). Karena ia akan datang pada hari kiamat bersama dengan tanduk, kuku dan bulunya. Saking cepatnya darah (pahala) tersebut sampai kepada Allah melebihi cepatnya jatuh darah hewan tersebut ke tanah. Maka baguskanlah diri kalian dengannya (kurban) (HR Ibnu Majah)

Baca Juga :  Di Masa Rasul, Masyarakat Tidak Boleh Dibunuh saat Perang Berkecamuk

Sebagai penutup dalam tulisan ini, setidaknya ada dua hal yang penting untuk disimpulkan. Pertama, kondisi hadis dhaif tidak serta merta ditinggalkan. Hadis dhaif dapat diamalkan ketika ada dalil lain yang semakna dengan hadis tersebut.

Kedua, pemahaman tentang kesunahan tidak memotong kuku atau bulu hewan atau orang yang akan berkurban adalah sama saja. Tidak perlu ada saling menyalahkan dan merasa pendapatnya yang paling benar. Wallahualam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here