Membina Umat Ala Rasulullah

0
219

BincangSyariah.Com – Membina umat merupakan bagian dari tahapan dakwah Nabi secara terang-terangan. Hal tersebut muncul dalam bentuk pelembagaan Islam secara komprehensif dalam realitas sosial. Pembinaan terhadap umat yang dilakukan Nabi berawal dari hijrah Nabi ke Madinah. Pembinaan ini dimulai dengan pemahaman karakteristik sosial masyarakat Madinah.

Dalam proses hijrah, masyarakat diajak untuk memutuskan hubungannya dengan lingkungan dan tata nilai yang dzalim sebagai upaya pembebasan manusia dalam upaya menemukan jati diri sebagai kondisi fitrahnya yang telah terendam lingkungan sosio-kultur jahili. Setelah sampai di Madinah, Rasulullah Saw mulai melakukan pembinaan pada tataran pengelolaan sistem sosial umat di bawah kekuasaan Islam.

Syalabi mengatakan dalam Sejarah Kebudayaan Islam bahwa Nabi melakukan 3 asas dalam membina umat di Madinah, di antaranya ialah pertama, pembangunan masjid. Tujuan dibangunnya Masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah saja, melainkan sebagai sentral aktivitas dan muamalah bagi umat Islam. Di tempat inilah umat Islam melakukan ibadah, belajar, mengadili kasus-kasus  dan jual beli.

Namun kemudian, ada inisiatif untuk memisahkan tempat shalat dan jual beli secara khusus agar tidak terjadi kekacauan. Akhirnya, tempat untuk jual beli dibuat di tempat khusus (pasar). Sidi Ghazalba dalam Masjid Pembinaan Umat menerangkan bahwa masjid merupakan satu-satunya institusi keagamaan sebagai lembaga pemerintahan, di mana juga dapat dijadikan tempat pengajaran dan pendidikan Islam, perpustakaan, musyawarah dll.

Kedua, mempersaudarakan sesama umat Islam secara umum dan antara kaum Muhajirin dan Anshar secara khusus. Rasulullah menjadikan mereka bersaudara dalam ikatan ukhuwah Islamiyah. Dengan demikian, Rasulullah Saw menjadikan akidah Islamiyah yang bersumber dari Allah sebagai asas persaudaraan yang menghimpun hati para sahabtnya serta menempatkan semua manusia dalam satu barisan ubudiah hanya kepadaNya tanpa perbedaan apa pun kecuali ketakwaan dan amal shaleh.

Baca Juga :  Good Governance Perpektif Kaidah Fikih

Ketiga, membuat perjanjian yang mengatur kehidupan sesama umat Islam dan menjelaskan hubungan mereka dengan orang-orang di luar Islam. Perjanjian yang dikenal sebagai “Konstitusi Madinah”. Dalam perjanjian tersebut, ditegaskan secara jelas tentang penetapan kebebasan beragama dan hak pemilikan harta benda, serta syarat-syarat lain yang saling mengikat kedua belah pihak. Rasullah membina umat agar hidup rukun dan berdampingan dalam kehidupan masyakat untuk mencapai kesejahteraan dan kedamaian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here