Membina Keluarga Bahagia Menjadi Penghuni Surga

1
22

BincangSyariah.Com – Manusia sebagai khalifah di muka bumi sejatinya dibebani tugas besar oleh Allah swt. Tugas itu berupa menjaga serta menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya. Ini juga termasuk pemimpin rumah tangga dan telah diberikan anugerah keturunan oleh Allah swt. Ini agar tercipat keluarga bahagia hingga akhirat kelak. Sejauh mana sepak terjang kita di dalam memimpin rumah tangga nantinya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah swt. Rasulullah dalam hadisnya pernah bersabda,

عَنْ إبْنَ عُمَرَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَ

 Diriwayatkan dari ibnu umar bahwa beliau mendengar dari Rasulullah bersabda, “Setiap manusia itu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin, seorang imam adalah pemimpin dan akan ditanyai kepemimpinannya, seorang laki-laki (suami) adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya, seorang juga merupakan pemimpin dalam urusan rumah suaminya dan juga akan diminta pertanggungjawabannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Barangkali telah menjadi dambaan dan impian semua orang lebih-lebih seorang kepala keluarga untuk menjadikan keluarganya sebagai keluarga yang bahagia, keluarga yang berhasil dan sukses dalam segala hal lebih-lebih dalam hal keilmuan dan agama, sukses di dunia serta selamat di akhirat.

4 Cara Mewujudkan Keluarga Bahagia

Tentunya, keinginan mulia ini tidak akan terwujud begitu saja jika hanya berharap dan berpangku tangan tanpa adanya usaha dalam mewujudkannya. Di antara cara yang dapat dilakukan untuk menjadikan keluarga bahagia dan sukses adalah sebagai berikut:

Pertama, suami sebagai kepala keluarga dan pemandu dalam rumah tangga harus memberikan uswah hasanah (teladan yang baik) untuk istri dan anak-anaknya baik dalam hal cara berfikir, berbicara, berprilaku dan bertindak.

Ini karena perilaku dalam keluarga sangat ditentukan oleh bagaimana sikap dan teladan yang diberikan oleh kepala keluarga. Apalagi jika telah memiliki buah hati, keteladanan orang tua sangat berpengaruh dalam mencetak watak seorang anak setelah ia dewasa. Sebagaimana yang telah disabdakan oleh nabi dalam hadisnya,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Setiap anak lahir dalam keadaan suci (Islam) tergantung apakah kedua orang tuanya akan menjadikan ia sebagai Yahudi, Nasrani atau Majusi. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua, kepala keluarga harus memiliki sifat ghairah cemburu (rasa peka) terhadap istri dan anaknya. Cemburu yang di maksudkan disini bukanlah cemburu buta tanpa sebab, namun cemburu yang dimaksud adalah sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali yaitu cemburu dalam perkara-perkara yang terpuji dan cemburu yang dilegalkan oleh agama. Semisal, cemburu jika melihat istri dan anaknya melakukan perkara yang melenceng dari ajaran agama.

Dengan adanya sifat cemburu ini nantinya akan lahir sifat perhatian ataupun kepekaan terhadap apa saja yang dilakukan oleh keluarga yang dipimpinnya sehingga ia akan sigap membimbing keluarganya jika melenceng dari syariat agama dan juga akan mendukung penuh jika keluarganya telah berjalan di atas titah-titah yang telah disyariatkan Allah swt.

Ketiga, memberikan nasehat untuk tidak menyekutukan Allah, sebagaimana nasehat yang telah dilakukan oleh Lukman Al-Hakim yang telah termaktub dalam Al-Qur’an,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika lukman berkata kepada anaknya, ketika dia menasehati kepadanya: Wahai putraku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar. (Q.S. Lukman: 13)

Nasehat dan bimbingan orang tua terhadap anaknya dalam hal apapun sangatlah dibutuhkan, terlebih jika anak tersebut sudah mulai beranjak remaja. Seorang anak harus dibimbing serta diarahkan dengan siapa dia harus berteman dan bergaul, karena jika tidak, maka sang anak akan kebingungan dan dan kemudian salah dalam bergaul yang pada akhirnya akan mengakibatkan rusaknya akhlak dan agama sang anak.

Keempat, kepala keluarga ataupun orang tua haruslah memerintahkan anak untuk istiqomah mendirikan shalat dan amar makruf nahi mungkar, ini juga merupakan sebuah perintah orang tua terhadap anaknya yang mendapatkan apresiasi dari Allah swt. sehingga diabadikan dalam Al-Qur’an surat Lukman ayat 17 yang berbunyi,

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Wahai anakku! Laksanakan shalat dan suruhlah manusia untuk berbuat yang makruf dan cegahlah mereka dari yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang telah menimpamu, sungguh yang demikian termasuk perkara yang penting. (Q.S.  Lukman: 17)

Sangat tepat kiranya jika orang tua zaman sekarang mengikuti jejak yang dilakukan Lukman Al-Hakim ini, yakni senantiasa memerintahkan anaknya untuk taat kepada Allah dan istiqomah melaksanakan shalat lima waktu, karena kenakalan anak muda pada zaman sekarang ini tidak hanya pada akhlak dan moral saja namun juga menjurus kepada pengabaian terhadap syariat-syariat Islam yang di antaranya adalah shalat lima waktu.

‘Alakulli Hal, semoga kita, keluarga, anak cucu kita tergolong sebagai hamba yang berhak untuk menjadi penghuni surga Allah swt. Amiinn. Wallahua’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here