Membendung Gerakan Pembidahan ala Salafi dengan Konsep Mizan Kubra

0
845

BincangSyariah.Com – Salah satu narasi besar yang didengungkan gerakan Salafisme adalah ajakan kembali kepada Alquran dan Hadis yang sahih atau minimal hasan—tentu sahih dan hasan menurut mereka. Ajakan seperti ini tentu saja bagus dan benar.

Namun di tangan mereka, ajakan ini menjadi sangat berbahaya. Dengan ajakan kembali kepada Alquran dan hadis sahih atau hasan (ingat, sahih dan hasan versi mereka), mereka menolak perbedaan antarmazhab dan mencoba menyeragamkan pemahaman kaum Muslim dengan pemahaman mereka.

Secara radikal, pemahaman yang tidak sama diberangus dan dianggap sesat oleh mereka. Dalam membendung upaya ini, kiranya cukup tepat jika penulis menyampaikan sebuah teori fikih yang dikemukakan oleh ahli hadis, ahli fikih, dan ahli tasawuf ternama dari Mesir, yakni Imam Abdul Wahhab al-Sya’rani. Beliau menamai teori beliau dengan nama Mizan Kubra.

Al-Sya’rani lahir pada 27 Ramadan di sebuah daerah di tepian Sungai Nil bernama Qalqasyandah sekitar tahun 1493 Masehi. Ia adalah anak yang berbudi baik dan saleh. Diceritakan bahwa semenjak akil balig, ia tidak pernah meninggalkan salat secara taqsir (baca: sengaja) kecuali hanya sekali, yakni ketika ia lupa tidak niat jamak dalam salah satu perjalanannya.

Beliau berguru kepada banyak ulama dan menghafal banyak sekali kitab-kitab penting, baik fikih, nahwu, hadis, lebih-lebih lagi ilmu Alquran. Bahkan diceritakan beliau menghafal semua kitab itu sangat lancar sebagaimana beliau sangat lancar dalam menghapal Alquran.

Salah satu kontribusi penting beliau adalah beliau meletakkan dasar-dasar Mizan Kubra (yang secara harfiah berarti “neraca terbesar”). Dengan Mizan Kubra beliau hendak menjelaskan kenapa hukum syariah yang dihasilkan para ulama seringkali berbeda dan bertentangan (khilaf) satu sama lain.

Nah, menurut beliau, pertentangan dan perbedaan pendapat ulama itu sejatinya bukanlah sebuah kontradiksi, melainkan hanya sebuah neraca (timbangan) yang kembali kepada pribadi setiap muslim: jika ia adalah orang yang kuat maka ia harus mengambil hukum yang berat dan jika ia lemah maka ia harus mengambil hukum yang ringan.

Hal ini, menurut beliau, dikarenakan seluruh dalil yang digunakan mujtahid pasti berasal dari Alquran, atau hadis sahih, atau hadis hasan, atau minimal dari mafhum yang didapat dari ketiganya. Berangkat dari asumsi keterjagaan wahyu dari kesalahan, maka seluruh pendapat para mujtahid pasti tidak akan salah. Beliau mengutip hadis Nabi saw berikut:

العلماء أمناء الرسول ما لم يخالطوا السلطان

Baca Juga :  Apakah Sperma Selain Dari Manusia Juga Suci?

Ulama adalah kepercayaan Rasul selama mereka tidak bergaul dengan raja.” (Hadis ini dihukumi sahih oleh al-Suyuthi dalam al-Jami’ al-Shaghir)

Sebagaimana sudah maklum bahwa para ulama mazhab tidak pernah bergaul dengan raja, maka mereka semua adalah kepercayaan Rasul saw. Jika mereka sudah menjadi kepercayaan Rasul, maka mereka tentu tidak akan membuat kesalahan dalam ijtihad, meskipun dalam hal lain beliau bisa saja berbuat kesalahan.

Al-Sya’rani tidak membatasi diri hanya dengan empat mazhab saja, menurutnya semua mazhab fikih berada di jalan kebenaran yang lurus dan tidak ada kontradiksi satu sama lain.

Beliau menulis nama-nama mujtahid yang sedikit asing di telinga seperti al-A’masy, Ishaq bin Rahawaih, al-Awza’i, al-Nakha’i, al-Thabari, Sufyan bin Uyaynah, Sufyan al-Tsauri, Ibn Syubrumah, Ibn Mundzir, Abu Tsur, dan mazhab-mazhab Sahabat Nabi saw.

Bagi al-Sya’rani perbedaan di antara mereka bukanlah kontradiksi, karena jika perbedaan mereka kontradiksi tentu syariat yang menjadi landasan mereka juga kontradiktif. Hal ini tentu tidak mungkin. Maka dari itu menurut beliau perbedaan itu dikembalikan kepada neraca terbesar (Mizan Kubra).

Contohnya adalah sebagai berikut: di awal Bab Bersuci dijelaskan pendapat mayoritas (hampir keseluruhan ulama) bahwa diperbolehkan menggunakan air laut untuk bersuci sementara sebagian kecil ulama yang lain melarangnya.

Maka perbedaan ini kembali kepada neraca diri kita: apakah kita sanggup melakukan pendapat yang berat (dalam konteks di atas berarti tidak berwudu menggunakan air laut)?

Apabila sanggup maka tak ada salahnya kita amalkan pendapat itu dengan menghindari air laut meskipun pendapat ini sekilas bertentangan dengan hadis.

Apabila tidak sanggup, maka kita diperbolehkan untuk turun ke hukum yang lebih ringan (dalam contoh di atas berarti berwudu menggunakan air laut), meskipun hukum itu didukung oleh hadis sahih atau hasan yang mana menjadi syarat bagi keabsahan sebuah hukum.

Hal ini tentu sedikit kontroversial, namun al-Sya’rani memiliki landasan yang kuat.

Dalam melandasi teori tentang Mizan Kubra ini, al-Sya’rani melandasinya dengan dua metodologi yang cukup bertolak belakang: irfani dan ilmiah.

Dalam menggunakan metode irfani, beliau mengutip pernyataan gurunya yang tidak bisa baca-tulis tapi sangat alim, yakni Ali al-Khawwash, tentang para mujtahid. Menurut Ali al-Khawwash seluruh mujtahid pada hakikatnya memperoleh ilmu dari Nabi saw. secara langsung maupun secara tidak langsung.

Menurut beliau, para mujtahid sudah pasti sering berjumpa dengan Nabi saw. Jadi seluruh hasil ijtihad mereka sudah ‘direstui’ oleh Nabi saw. Mengomentari ini al-Sya’rani berkata:

Baca Juga :  Pernah Mengambil Uang Haram, Wajib Bertaubat. Ini Dalilnya !

“Ini (sering bertemu Nabi saw) sudah pasti termasuk karamah para wali. Andai para mujtahid bukan wali, maka di dunia tidak ada yang namanya wali.”

Beliau kemudian bercerita bahwa beliau pernah membaca tulisan Imam al-Suyuthi yang mana al-Suyuthi mengatakan bahwa ia bertemu secara langsung dengan Nabi saw. setidaknya tujuh puluh lima kali. Jika ini al-Suyuthi, maka bagaimana Imam Syafi’i, Abu Hanifah dan lain-lain.

Jadi al-Sya’rani membuktikan secara irfani, bahwa semua ulama mujtahid berada di bawah naungan syariat yang lurus dan mereka semua mendapat petunjuk dari Allah swt. Beliau menggambarkan hal ini seperti pohon, meski memiliki banyak ranting dan daun, namun ia tetap berasal dari satu biji. Biji itu adalah ‘ain al-syariat, dan ranting serta daunnya adalah para ulama mujtahid.

Sementara mengenai pembuktian secara ilmiah (yang mana beliau sangat mumpuni dalam bidang ini), beliau mengatakan bahwa seluruh mazhab tidak ada yang pernah mendahulukan akal ketimbang wahyu. Sehingga konsekuensinya seluruh mazhab, bahkan yang paling tidak populer sekalipun, memiliki pondasi wahyu yang kuat.

Beliau sangat marah jika dikatakan bahwa mazhab Abi Hanifah disebut lebih mementingkan akal ketimbang wahyu. Beliau juga sangat tidak terima jika mazhab Abi Hanifah dikatakan sebagai mazhab yang dipenuhi hadis daif. Beliau berkata:

“Ketahuilah wahai saudaraku! Sesungguhnya aku sudah mempelajari seluruh kitab tentang dalil empat mazhab terutama mazhab Hanafi, aku juga membaca takhrij kitab Alhidayah milik al-Hafizh al-Zaila’i serta syarah-syarah lain, dan aku menemukan bahwa seluruh dalil beliau dan murid-murid beliau adalah sahih, hasan, atau daif yang memiliki banyak riwayat sehingga berubah status menjadi sahih atau hasan.”

Dalam kesempatan lain beliau berkata, berikut teks Arabnya:

اعلم يا أخي أني لم أجب عن الإمام في هذه الفصول بالصدر وإحسان الظن فقط وإنما أجبت عنه بعد التتبع والفحص في كتب الأدلة كما أوضحت في خطبة كتاب المنهج المبين في بيان أدلة مذاهب المجتهدين

“Ketahuliah wahai saudaraku! Sesungguhnya aku tidak membela Imam Abu Hanifah dalam persoalan ini hanya berdasarkan keluasan hati dan berbaik sangka saja.

Melainkan aku membela beliau setelah aku meneliti dan mengobservasi kitab-kitab tentang dalil seperti yang sudah aku paparkan dalam prolog kitabku yang berjudul Manhaj al-Mubin yang menjelaskan tenang dalil-dalil mazhab ulama mujtahid.”

Bahkan menurut beliau mazhab Dawud al-Zhahiri, yang seringkali dikritik, juga mendasarkan argumennya melalui penalaran yang luar biasa. Seperti sudah diketahui bahwa mazhab Zhahiri beranggapan bahwa menyentuh anak kecil akan membatalkan wudu. Padahal dalam mazhab lain mengatakan bahwa yang membatalkan wudu adalah menyentuh wanita dewasa. Dasarnya adalah ayat berikut:

Baca Juga :  Dua Pembagian Bid'ah Menurut Imam Suyūṭī

أو لامستم النساء

Atau kalian menyentuh wanita.”

Tentu yang dimaksud adalah wanita dewasa. Namun Imam Dawud mengatakan bahwa menyentuh anak kecil juga membatalkan. Al-Sya’rani mengatakan bahwa dasar beliau adalah ayat berikut:

‎يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ

Firaun menyembelih anak-anak pria mereka dan (anak-anak) wanita mereka.”

Dalam ayat itu gadis wanita disebut dengan bahasa ‘nisa’’. Maka dari sini bisa disimpulkan bahwa ayat tentang wudu di atas juga mencakup wanita. Nalar ini, menurut al-Sya’rani, adalah nalar yang luar biasa. Maka dari itu beliau mengimbau kepada siapa pun yang menghina Imam Dawud agar segera bertobat dan memperbaiki prasangkanya.

Setelah mengeluarkan beberapa argumen, al-Sya’rani berkomitmen untuk menjelaskan martabah (tingkatan) berat dan ringan yang ada di seluruh bab fikih. Ia mengutip semua qaul yang ia ketahui dan menghadapkannya kepada Mizan Kubra.

Usaha ini adalah usaha yang luar biasa, mengingat tidak ada satu kitab kecil yang merangkum puluhan mazhab ini. Maka bisa dikatakan al-Sya’rani adalah orang yang sangat luar biasa dalam ketekunannya.

Secara terus terang ia bercerita bahwa dalam menjelaskan Mizan Kubra ini ia sudah mengkaji ratusan kitab. Ia menyebut beberapa nama: misal al-Majmu’ karya al-Nawawi beliau menyelesaikannya lima puluh kali, al-Umm (sekitar delapan jilid) milik al-Syafi’i beliau baca hingga beliau hampir hapal.

Beliau juga pernah membaca al-Muhalla yang berjumlah tiga puluh jilid, beliau membaca hampir seluruh kitab pokok mazhab Maliki, Hanafi, dan Hanbali yang berjumlah sekitar 100 judul dan terdiri dari 200-an jilid tebal-tebal.

Tidak ketinggalan beliau pernah membaca hampir seluruh kitab hadis; enam kitab induk, masanid milik imam ternama maupun tidak begitu ternama, mustadrakat, zawaid, dan lain-lain.

Pada intinya, pemikiran al-Sya’rani tentang Mizan Kubra ini sangat brilian dan menjadi tamparan cukup keras bagi golongan yang hendak menyeragamkan pandangannya, terutama Salafisme, yang akhir-akhir ini marak di tengah masyarakat. “Barangsiapa mengingkari ini,” kata al-Sya’rani, “maka ia harus memberi hujjah yang jelas.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here