Membedakan antara Agama dan Budaya dalam Memahami Hadis Menurut K.H. Ali Mustafa Yaqub

0
575

BincangSyariah.Com – Dalam disiplin ilmu hadis, apa yang berasal dari Rasulullah Saw. baik ucapan, perbuatan, penetapan, maupun sifat-sifatnya, baik sifat fisik maupun sifat non fisik disebut hadis. Para Ulama ahli Hadis berpendapat bahwa Hadis sama dengan Sunnah.

Oleh karena itu menurut mereka semua yang berasal dari Nabi Saw. menjadi sumber ajaran Islam. Maka bagi mereka menyantap sayur labu air atau menikmati kikil kambing yang disukai Nabi Saw. harus diikuti, dan tentu ada rahasia dibalik itu.

Sedangkan menurut para ahli hukum Islam, yang menjadi sumber syariat hukum Islam adalah Sunnah, yaitu ucapan, perbuatan dan penetapan Nabi Saw. Sementara sifat-sifat Nabi Saw. oleh mereka tidak dijadikan sumber syariat Islam, seperti warna kulit beliau yang putih kemerah-merahan, rambut beliau yang tidak terlalu keriting dan tidak terlalu lurus.

Artinya, umat Islam bagi ahli Hukum Islam (Uṣūliyyūn) tidak wajib mengikuti sifat-sifat Nabi Saw. tersebut. Tampaknya, KH. Ali Mustafa dalam hal ini mengikuti pendapat Ahli Hukum Islam. Karena lebih konkretnya ia memilah apa yang berasal dari Nabi Saw. ini menjadi dua bagian.

Pertama adalah agama, maka hadis-hadis yang berkaitan dengan agama (aqidah, ibadah, dan akhlak) umat Islam wajib mengikutinya, seperti hadis-hadis tentang shalat, zakat, puasa, haji, beraqidah, dan berakhlak dengan akhlak yang mulia.

Kedua adalah apa yang berasal dari Nabi Saw. dan hal itu berkaitan dengan sosial dan budaya. Sosial dalam pengertian keadaan masyarakat dan lingkungan pada masa Nabi Saw. dan budaya Arab pada masa itu. Maka dalam hal ini umat Islam tidak wajib mengikutinya.

Siapa yang mengikuti budaya yang berasal dari Nabi Saw. dipersilahkan dan siapa yang tidak mengikuti budaya dari Nabi Saw., juga dipersilahkan. Argumen KH. Ali Mustafa mengikuti dalil para ulama yang menggunakan hadis yang diriwayatkan imam Muslim dalam Ṣaḥīḥ Muslim:
“Apabila aku perintahkan kepadamu tentang masalah agama, maka kamu wajib mengambilnya. Dan apabila aku perintahkan kepada kamu tentang masalah yang berkaitan dengan pendapatku maka aku adalah manusia biasa.”

Baca Juga :  Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya

Hadis ini merupakan pentakhsis atas keumuman surah al-Ḥashr/59: 7 berikut ini:“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”.
Bahkan imam Muslim memberikan judul bab dalam hadis tersebut dengan “Bab kewajiban mengikuti Sabda Nabi yang berkaitan dengan Syariah, bukan pernyataan beliau tentang kehidupan Dunia menurut pendapatnya.”

Imam Al-Nawawī (w. 676 H.) dalam mensyarahi hadis ṣaḥīḥ muslim tersebut menyatakan: “Menurut Para Ulama, sabda Nabi Saw. “min rayī (pendapatku)” adalah berupa urusan dunia dan kehidupan Nabi Saw. bukan tentang syariat Islam”.

Dalam budaya berpakaian misalnya, Islam tidak pernah mengamanatkan bentuk pakaian tertentu, seperti memakai jubah dan bersurban. Karena tidak ada hadis-hadis shahih yang menunjukkan fadhilah memakai jubah dan surban.

Bahwa Rasulullah Saw. memakai surban, itu adalah benar, berdasarkan hadis shahih pula. Namun Rasulullah Saw. memakai surban itu adalah dalam kapasitasnya sebagai orang Arab, karena orang-orang musyrikin seperti Abu Jahal, Abu Lahab dan lainnya juga memakai surban.

Dalam berpakaian, menurut KH. Ali Mustafa Islam hanya mengamanatkan kriteria saja, yaitu dengan rumus 4T: tutup aurat, tidak transparan, tidak ketat dan tidak menyerupai pakaian lawan jenis. Tentang model dan bentuknya Islam tidak membatasi apalagi melarang model pakaian apa saja.

Tentu, di samping itu perlu juga memperhatikan adab dalam berpakaian, misalnya tidak memakai pakaian syuhrah (popularitas) yaitu pakaian yang berbeda dari pakaian warga tempat dimana kita berada.

KH. Ali Mustafa menghargai semangat anak muda yang ingin mengikuti perilaku Nabi Saw. secara kaffah, bahkan semua yang berasal dari Nabi Saw. Namun, menurut KH. Ali Mustafa, hendaknya mereka tidak berlebihan, hingga mereka menganggap orang Islam yang tidak memakai jubah atau surban tidak mengikuti Rasulullah Saw.

Baca Juga :  Islam Agama yang Akomodatif dengan Budaya

Karenanya KH. Ali Mustafa sangat menghimbau untuk memiliki kearifan dalam memilah apa yang berasal dari Nabi Saw. mana yang berkaitan dengan agama, dan mana yang berkaitan dengan budaya. Apabila tidak demikian maka upaya ikut perilaku Nabi Saw. yang kebablasan justru dapat menimbulkan sesuatu yang kontra produktif.

Menurut KH. Ali Mustafa yang juga perlu diperhatikan umat Islam adalah bagaimana cara membedakan antara agama dan budaya yang bersumber dari Rasulullah Saw.

Dan salah satu cara membedakan hal tersebut adalah hendaknya umat Islam melihat apabila perbuatan itu dilakukan oleh seluruh manusia, baik yang muslim maupun kafir, maka itu adalah budaya, seperti berpakaian.

Dan apabila perbuatan itu hanya dilakukan oleh orang-orang Islam, maka itu adalah agama. Disisi lain, menurut KH. Ali Mustafa, budaya-budaya lokal juga tidak harus ditolak selama hal itu tidak ada dalil yang mengharamkannya.

Sebab budaya masuk dalam kategori muamalah bukan akidah dan ibadah. Sementara prinsip hukum dalam muamalah adalah dibolehkan sepanjang tidak ada dalil yang mengharamkannya. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here