Hukum Membayar Kafarah Sumpah dengan Nasi Kotak, Apakah Boleh?

0
682

BincangSyariah.Com – Di antara kafarah melanggar sumpah adalah memberi makan sepuluh orang miskin dengan makanan pokok sebanyak satu mud. Makanan pokok masyarakat Indonesia adalah beras. Karena itu, jika hendak membayar kafarah dengan memberi makan sepuluh orang miskin, maka harus memberi mereka beras, masing-masing sebanyak satu mud atau 6 ons. Namun bagaimana jika beras satu mud tersebut diganti dengan nasi kotak, apakah boleh?

Ketika kita bersumpah dengan nama Allah dan kemudian kita melanggarnya, maka kita wajib membayar kafarah dengan salah satu di antara tiga hal, yaitu memberi makan sepuluh orang miskin, memberi pakaian sepuluh orang miskin, atau memerdekakan budak. Apabila tidak mampu melaksanakan salah satu dari tiga hal tersebut, maka kita harus berpuasa selama tiga hari. (Baca: Doa Ketika Bersedekah kepada Orang Lain)

Para ulama berbeda pendapat mengenai kebolehan mengganti beras dengan makanan yang sudah masak seperti nasi kotak dan lainnya. Menurut ulama Syafiiyah, makanan pokok yang diberikan kepada masing-masing sepuluh orang miskin harus berupa makanan pokok yang masih mentah, tidak boleh diganti dengan makanan yang sudah masak seperti nasi kotak dan lainnya.

يتخيرُ في كفارةِ اليمينِ بينَ عتقِ رَقبةٍ كَامِلةٍ مُؤمِنةٍ بلا عيبٍ يخلُّ بالعَملِ أو الكَسْبِ ولو نحوَ غَائبٍ عُلمِتْ حياتُهُ. أو إطعامِ عشرةِ مَساكين كلُّ مسكينٍ مدَّ حبَ من غالبِ قوتِ البلدِ

Seseorang boleh memilih dalam kafarah sumpah antara memerdekan budak perempuan yang sempurna, tidak ada cacat yang menyebabkan tidak bisa bekerja atau berusaha, meskipun posisinya jauh yang diketahui kehidupannya. Atau memberi makan sepuluh orang miskin, masing-masing orang miskin satu mud biji-bijian dari makanan pokok setempat.

Sementara menurut ulama Hanafiyah, kafarah boleh diganti dengan makanan yang sudah dimasak seperti nasi kotak dan lainnya. Namun hal ini dengan syarat harus dua kali makan, yaitu makan pagi dan makan malam. Tidak boleh hanya satu kali makan saja, karena satu mud beras bisa digunakan untuk makan dua kali.

Baca Juga :  Teladan Didi Kempot di Bidang Filantropi

Oleh karena itu, menurut Syaikh Ali Jum’ah, membayar kafarah dengan makanan yang sudah dimasak seperti nasi kotak dan lainnya hukumnya boleh dengan mengikuti pendapat ulama Hanabilah. Namun demikian, tetap yang lebih utama memberi makanan yang masih mentah berupa beras atau makanan pokok sebanyak satu mud.

Ini sebagaimana disebutkan Darul Ifta’ Al-Mishriyah berikut;

وبناءً على ذلك: فلا مانع من إخراج الكفارة في صورة طعام مطهي أخذًا بقول مَن أجاز ذلك من العلماء، وإن كان الأَولى إخراجه في صورة مواد جافة خروجًا مِن الخلاف

Berdasarkan hal di atas, maka tidak ada halangan untuk mengeluarkan kafarah dalam bentuk makanan yang sudah masak karena mengikuti pendapat ulama yang membolehkan hal itu. Meskipun yang lebih utama mengeluarkan kafarah dalam bentuk makanan yang masih mentah karena keluar dari perbedaan para ulama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here