Membaca Hizib menurut Syekh Ali Jum’ah

1
7918

BincangSyariah.Com – Secara umum, Islam menganjurkan seseorang untuk berzikir kepada Allah Swt. sebanyak-banyaknya. Ada zikir-zikir tertentu yang terikat dengan bilangan, yang dicontohkan oleh Nabi Saw. seperti setelah shalat fardhu. Namun, apakah itu dapat segera menjadi dalil tidak bolehnya membaca zikir-zikir yang secara praktis tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Saw?

Syekh ‘Ali Jum’ah, ulama Mesir yang pernah menjadi Mufti Negara, mengatakan bahwa membaca hizib sebenarnya adalah bagian dari berdoa juga. Pada prinsipnya, konten di dalam hizib jelas merupakan ayat-ayat Quran atau hadis-hadis Nabi Saw. dalam bentuk doa, atau pun ayat yang dijadikan sarana beribadah kepada Allah Swt.

Beliau mencontohkan – dalam serial pengajian Aldurus al-Syadziliyah yang ditayangkan di akun youtube-nya – kalau ayat-ayat Quran di dalam hizib jika dibaca dengan penuh keikhlasan untuk beribadah maka setiap hurufnya terdapat pahala. Dari sini, penulis menyimpulkan sebenarnya dari segi isi, tidak ada yang bermasalah dari bacaan-bacaan hizib selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Sebagian orang memang berpandangan bahwa hizib bermasalah karena digunakan untuk meraih manfaat-manfaat tertentu yang sifatnya duniawi. Masih menurut Syekh ‘Ali Jum’ah, hal tersebut sebenarnya tidak terlarang asalkan kita berkeyakinan bahwa tujuan-tujuan duniawi yang tercapai tersebut setelah membaca hizib, bukan murni karena hizib tersebut, tapi adalah bagian dari takdir Allah. Namun orang yang merutinkan membaca hizib dengan tujuan ikhlas berzikir kepada Allah, maka ganjarannya jauh lebih besar di sisi-Nya.

Amalan-amalan berupa wirid atau hizib sebenarnya adalah bagian dari cara Allah Swt. menganugerahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt. Ulama yang mengijasahkan wirid atau hizib, adalah bagian dari takdir Allah agar kita semakin ikhlas beribadah kepada-Nya, tanpa ada motivasi-motivasi lain di luar ibadah.

Baca Juga :  Ini Zikir yang Pahalanya Seperti Memerdekakan Empat Budak

Karena itulah tarikat yang berkembang di dalam tasawuf, adalah cara seorang hamba untuk mewujudkan salah satu dimensi ajaran Islam, yaitu ihsan. Ihsan seperti dalam hadis tentang pernyatasn malaikat Jibril As. kepada Nabi Muhammad Saw. ketika bertemu dalam wujud manusia (hadis ini dikenal Hadis Jibril), “Engkau beribadah kepada Allah, seolah engkau sedang melihat-Nya. Jika engkau tidak dalam keadaan melihat-Nya, yakinlah Allah melihatmu” (an ta’buda Allaha kaannaka taraahu, fa in lam takun taraahu, fa innahu yaraaka).

Demikianlah, hizib yang ada dalam tarikat sufi adalah bagian dari upaya mewujudkan dimensi ihsan dalam beragama. Ia bukanlah bid’ah dalam pengertian bertentangan dengan ajaran agama.

Meskipun, memang secara khusus tidak ada dalil yang mensunahkan membaca hizib tertentu. Namun dari segi isinya yang mengang lafaz-lafaz zikir, itu sangat dianjurkan. Sehingga keliru dengan menggunakan sudut pandang bid’ah dalam arti tidak pernah dilakukan oleh Nabi saw. untuk menilai bacaan hizib.

Wallahu A’lam

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here