Membaca Hal Politis dalam Kemunculan Sekte-Sekte Islam

0
255

BincangSyariah.Com – Telah dikemukakan dalam berbagai artikel tentang Bani Umayyah yang ditulis dalam laman ini bahwa Muawiyah dan raja-raja setelahnya menganut liberalisme politik yang menjamin kebebasan berekspresi, berbicara dan berpendapat bagi masyarakat Islam di masa itu. Dengan adanya jaminan kebebasan ini, bermunculan lah sekte-sekte dalam Islam yang tidak memiliki presedennya di zaman Nabi dan zaman Khilafah Rasyidah.

Sekte-sekte Islam ini baik secara pemikiran maupun secara gerakannya ditulis oleh para historiografis muslim. Biasanya literatur-literatur yang berbicara mengenai sejarah kemunculan sekte-sekte ini disebut juga al-firaq, al-milal dan al-nihal. Untuk selanjutnya, penyebutan sekte akan menggunakan istilah Arabnya, firqah.

Ketika membaca literatur mengenai sekte/firqah (plural: firaq), kita akan menemukan ide-ide, gagasan-gagasan dan pemikiran-pemikiran firqah tertentu berceceran di sana-sini yang saling tidak berkaitan satu sama lainnya dan bahkan terpisah jauh dengan konteks politik yang menjadi asal kemunculan firqah tersebut. Terlebih  sekte-sekte tersebut dikasifikasikan di masa yang sangat jauh dari awal mula kemunculannya.
Misalnya sekte yang muncul di masa Bani Umayyah diklasifikasikan menurut sekt yang ada di masa Bani Abbasiyah.

Tentu klasifikasi seperti ini sangat dipaksakan karena bisa jadi sekte di Bani Abbasiyah merupakan perkembangan lebih jauh dari firqah di masa Bani Umayyah. Membaca sekte di masa Bani Umayyah melalui firqah di masa Bani Abbasiyah tentu sangat zalim terhadap teks yang dibaca.

Literatur tentang sekte ini menyajikan informasi yang cukup banyak mengenai perkembangan pemikiran syi’ah al-ghulat (syiah radikal) yang sebenarnya terpusat pada konsep al-Imamah. Pemikiran para ahli kalam awal-awal di masa Bani Umayyah sangatlah berserakan dan berceceran sehingga tidak mungkin kita dapat merekonstruksi secara menyeluruh pemikiran firqah tertentu di masa ini. Yang hadir dalam konstruksi ini justru hanya percikan-percikan dan pecahan-pecahan yang tidak bisa direkonstruksi ulang.
Menariknya, standar yang digunakan para penulis sejara sekte dalam mengklasifikasikan sekte-sekte Islam ini ialah hadis yang dinisbahkan kepada Nabi Muhammad SAW dan yang diriwayatkan oleh masing-masing sekte dengan redaksi yang seolah mengklaim bahwa sekte-nya yang benar sementara lainnya sesat.

Baca Juga :  Benarkah Bencana Alam Akibat Perbuatan Seseorang?

Dalam berbagai literatur Ahlu Sunnah, hadis tersebut berbunyi: Umat Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu firqah, Kristen telah terpecah menjadi tujuh puluh dua firqah dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga firqah. Semua firqah tersebut akan masuk neraka kecuali satu. Para sahabat bertanya: siapakah firqah yang selamat dari api neraka itu wahai Rasulullah? Nabi menjawab: firqah yang memegang teguh sunnahku dan para sahabatku. Dalam redaksi hadis ini, jelaslah bahwa Ahlu Sunnah mengklaim sebagai satu-satunya firqah yang selamat dari siksa neraka.

Di sisi lain, Muktazilah menghadirkan hadis serupa namun maknanya menunjukkan bahwa merekalah firqah yang selamat itu. Melalui riwayat Ibnu al-Murtadha dalam kitabnya al-Munayyah wa al-Amal kita menemukan redaksi hadisnya demikian: “umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga firqah. Dari semua firqah ini, yang selamat serta yang paling takwa ialah firqah Muktazilah”.

Lebih jauh lagi dalam literature Khawarij, misalnya, dalam al-Kasyfu wa al-Bayan yang ditulis oleh Abu Said Muhammad bin Said al-Azdi al-Qalhani, kita juga menemukan hadis serupa namun maknanya mengisyaratkan bahwa firqah Khawarij lah yang paling benar dan yang selamat dari siksa neraka.

Baik dari kalangan Ahlu Sunnah maupun kalangan firqah lainnya, penulis sejarah sekte atau aliran-aliran Islam biasanya berangkat dari perspektif alirannya sendiri yang dianggapnya sebagai firqah najiyah. Dampak dari cara menulis seperti ini tentunya sang penulis hanya melihat firqahnya sebagai firqah satu-satunya yang benar, karena yang selamat baginya hanya satu firqah, yaitu firqahnya sendiri. Sementara itu, dalam kaitannya dengan firqah lainnya, penulis aliran-aliran ini biasanya memecah firqah tersebut menjadi beberapa aliran lagi sampai mencapai tujuh puluh dua golongan yang menurutnya sesat.

Karena masa penulis sejarah sekte-sekte tersebut sangat jauh dengan masa kemunculan sekte yang ditulisnya, bisa bertahun-tahun atau bahkan berabad-abad, sementara itu, sekte yang ditulisnya bisa jadi telah mengalami perubahan keyakinan dari waktu ke waktu, ada yang menyebar dan bercabang dan ada pula yang mati ditelan waktu, ada pula firqah-firqah baru yang muncul, maka dapat dipastikan daftar firqah-firqah sesat tersebut berbeda-beda dari satu penulis dengan penulis lainnya.

Baca Juga :  Kewajiban Istri Kepada Suami

Setiap penulis memecah sekte yang berkembang di masanya menjadi tujuh puluh tiga golongan. Penulis dari generasi sebelumnya dalam menuliskan pikiran-pikiran firqah tertentu memecah firqah-firqah tersebut menjadi tujuh puluh tiga golongan sementara penulis belakangan, ketika muncul firqah-firqah baru antara masa penulis lama dan penulis baru, cenderung mengeliminir sebagian firqah tertentu dan memasukan firqah lain dalam daftar agar jumlahnya tidak melebihi tujuh puluh tiga golongan.

Dan karena terlibat juga dalam konflik ideologis antara firqahnya sendiri dengan firqah lainnya di masanya, bisa dipastikan pula bahwa para penulis sejarah firqah tersebut mengklasifikasikan firqah-firqah di luar firqahnya yang muncul di masa silam berangkat dari pertarungan ideologis yang terjadi di masanya. Karena itu, para penulis firqah ini memaksakan cara pandang kekiniannya terhadap firqah lain yang sebenarnya lahir di masa silam dan mengalami banyak perubahan di sana-sini.

Tentu sampai di sini kita melihat adanya semacam imperealisme ideologis dan epistemologis terhadap sejarah: sang penulis firqah mencoba mendeskripsikan firqah-firqah lain yang muncul di masa silam dengan sifat dan karakteristik yang sama dengan firqah yang ia temui di masanya. Sang penulis tidak memperhatikan perkembangan pemikiran firqah bersangkutan dari waktu ke waktu. Singkatnya, penulis membaca firqah masa silam dalam perspektif firqah masa kininya. Penilaian penulis terhadap firqah masa silam sangat ditentukan oleh penilaiannya terhadap firqah serupa di masa hidup sang penulis.

Jika pun dalam satu firqah, ada tokoh yang memiliki pikiran baru, para penulis sejarah firqah biasanya mengklasifikasikannya sebagai firqah baru terlepas dari firqah afiliasinya. Dengan kata-kata lain, sedari awal, firqah-firqah dalam Islam diperlakukan oleh sejawaran firqah sebagai pecahan-pecahan karena memang firqah itu sendiri dalam bahasa Arab dapat juga diartikan sebagai pecahan-pecahan. Sejarah firqah tidak hanya memecah dan membelah pemikiran-pemikiran yang utuh namun juga mengabaikan zaman dan perkembangannya. Dari sini jika kita lihat dari aspek epistemologis, sejarah firqah atau sekte-sekte Islam ialah sejarah yang bukan sejarah, atau sejarah yang a-historis.
Ahistoritas penulisan sejarah sekte-sekte atau firqah-firqah dalam Islam tercermin juga dalam ketidakhadiran yang politik dalam kandungan pandangan firqah yang disajikan.

Baca Juga :  Bertabarruk dari Jubah Nabi Muhammad Saw.

Padahal sekte-sekte atau firqah-firqah sedari awal dapat juga dikategorikan sebagai partai-partai politik. Qadariyyah sebagai ideologi oposisi tidak akan mungkin hadir juga tidak ada Jabariyyah yang menjadi ideologi negara. Firqah-firqah tersebut berpolitik dalam ranah agama baik dari segi substansi maupun dari segi penggunaan istilah dan bahasa.
Istilah-istilah politik di masa lahirnya firqah-firqah dengan sendirinya ialah istilah-istilah agama. Jika kita lihat dari perspektif ini, akan dapat disimpulkan betapa miskinnya cakrawala politik dalam sejarah sekte-sekte Islam yang ditulis oleh para penulis firqah.

Dari beberapa poin penting yang telah dikemukakan di atas, tentunya kita harus memiliki strategi ganda dalam membaca literature yang sering disebut sebagai doksografi (kutub al-milal); pertama, kita harus membebaskan diri dari otoritas yang dipaksakan oleh penulis sejarah sekte kepada pembacanya, otoritas yang termanifestasikan melalui klasifikasi-klasifikasi dan penilaian-penilaian yang dibuat sang penulis. Kedua, kita harus membaca pandangan-pandangan setiap firqah melalui firqah yang menjadi lawannya tersebut. Misalnya membaca firqah Qadariyyah harus dilakukan dalam perspektif firqah lawannya, Jabariyyah dan seterusnya.

Ketika firqah-firqah di masa Bani Umayyah dapat dikategorikan sebagai partai-partai politik di masanya, tentunya kita harus juga melakukan pembacaan secara politik terhadap firqah-firqah ini.

Karena dalam politik, kita sering melihat kategori in-group dan out-group, maka out-groupnya firqah-firqah atau musuhnya sekte-sekte Islam di masa ini tidak lain adalah negara Bani Umayyah. Karena itu menghadirkan ideologi yang dianut dan disebarkan negara Bani Umayyah ini sangatlah diperlukan untuk memahami ideologi musuh politiknya; firqah-firqah yang menjadi oposan negara. Menghadirkan ideologi negara Bani Umayyah merupakan prasyarat penting untuk melihat yang political dalam pandangan sekte-sekte Islam, terutama gerakan Qadariyyah yang merupakan gerakan pencerahan di masanya, gerakan yang memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan revolusi Bani Abbasiyah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here