Membaca Hadis-hadis tentang Peristiwa Akhir Zaman, Begini Langkah Memahaminya

0
2301

BincangSyariah.Com – Pembahasan tentang hadis-hadis akhir zaman atau hadis-hadis masa depan terkesan mudah, dan cenderung melempar dadu jika melihat fenomena yang berkembang saat ini. Seperti ketika memahami hadis Dajjal, Khilafah, Syam, dan lain sebagainya. Namun ternyata cara memahaminya tidak sesederhana itu, apalagi hanya merujuk kepada terjemahan seadanya. Salah satu karya disertasi dari Yasir bin ‘Abdurrahman -salah seorang mahasiswa doktoral di Universitas Ummul Qura, Mekah- memberikan beberapa langkah agar pemahaman terhadap hadis-hadis tersebut tidak salah kaprah.

Pertama, mengumpulkan seluruh teks-teks yang berkaitan dengan suatu peristiwa yang akan terjadi tanpa terkecuali. Hal ini akan membantu untuk memahami suatu peristiwa yang akan terjadi secara holistik dan tidak parsial. Menurut Yūsuf al-Qaraḍāwī, mengumpulkan seluruh teks dalam satu tema tertentu memiliki tujuan agar beberapa hadis yang samar (mutasyābih) bisa dijelaskan dengan hadis-hadis yang jelas (muḥkam), yang general bisa dispesifikkan dengan hadis-hadis yang lebih khusus, yang mutlak dapat dibatasi dengan yang muqayyad, dengan begitu maka pemahaman yang didapatkan adalah pemahaman yang utuh dalam suatu tema tertentu.

Kedua, tidak memberikan penafsiran lebih jauh dari  di luar yang ditunjukkan oleh teks sumber, tidak mengubah bahkan menggantinya dengan yang lain. Menurut Yāsir, dalam kaitannya dengan hadis akhir zaman, istilah malḥamah oleh banyak penulis disamakan dengan Armageddon dalam istilah Nasrani, hal ini cukup fatal, pasalnya Armagedon dalam tradisi Nasrani adalah kekalahan umat Islam, bukan kemenangan. Itulah mengapa, menggiring sebuah istilah di luar istilah yang berbeda memiliki dampak yang cukup signifikan dan diperlukan kehati-hatian dalam menyikapi.

Ketiga, menguasai teks-teks sumber (dalam hal ini adalah bahasa Arab), dan konteks yang dibicarakan dalam teks tersebut. Hal ini menjadi sangat penting karena teks terus mengalami pergerakan sesuai dengan pemahaman dan situasi manusia yang berkembang. Dengan demikian, memahami bahasa Arab menjadi langkah awal untuk memahami sebuah teks-teks sumber, dan memahami konteks sebuah teks itu muncul menjadi langkah kedua yang harus dikuasai. Hal ini terutama berkaitan dengan periodisasi, tempat dan batasan-batasan tertentu berkaitan dengan sebuah peristiwa. Misalnya persoalan mengenai Syam yang disebutkan di banyak tempat dalam hadis. Wilayah Syam dahulu tidaklah sama dengan wilayah Syam saat ini, perubahan geografis semacam ini menimbulkan perbedaan dalam pemaknaan teks menjadi sangat kentara. Pemetaan wilayah Syam saat ini berbeda dengan periode hadis-hadis Nabi itu diucapkan, ini disebabkan karena dahulu Syam di sebelah barat berbatasan dengan Laut Tengah, di sebelah timur berbatasan dengan gurun yang membentang dari Ailah hingga sungai Eufrat, di sebelah utara dengan pegunungan Turus dan di sebelah selatan berbatasan dengan Mesir, itu artinya dahulu Syam meliputi Suriah, Yordania, Lebanon dan Palestina. Dari sebelah kiri ia berbatasan langsung dengan Laut Tengah, sebelah kanan berbatasan dengan Irak, Saudi Arabia, di sebelah utara berbatasan dengan Turki dan di sebelah selatan berbatasan dengan Mesir dan Saudi Arabia.

Baca Juga :  Dajjal Sudah Pasti Muncul di Akhir Zaman, Tapi Dia Sosok Nyata atau Bukan?

Keempat, mengembalikan pemahaman teks kepada sahabat, tabiin, dan ulama salaf. Langkah ini dianggap sangat relevan dalam lingkup Ahlus sunnah wa al-jamaah, tiga generasi awal mulai dari sahabat hingga tabi’ tabi’in dianggap sebagai generasi emas sesuai dengan riwayat yang bersumber dari Nabi saw terkait hal itu.

Kelima, memastikan teks sesuai dengan makna lahirnya, dan diperbolehkan untuk menafsirkannya hanya jika terdapat qarinah lain yang ditunjukkan. Mengutip pendapat Imam al-Shāfi’ī dan Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, termasuk rumusan yang harus dipatenkan dalam memahami teks-teks Malāḥim agar tidak menggeser lahir teks-teks tersebut di luar periode teks tersebut disebutkan, serta tidak mencocok-cocokkan dengan akal pikiran kecuali jika memang ada qarinah, seperti teks lain yang dengan gamblang menjelaskannya. Maksudnya tidak lain karena teks-teks semacam ini bukanlah teka-teki yang membutuhkan penakwilan. Ini seperti halnya berita tentang perang akhir zaman yang menggunakan pedang, kuda, dan alat-alat perang tradisional lainnya, ini sangat berbeda dengan fakta saat ini dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat. Meski begitu berita-berita semacam ini tidak semestinya digeser maknanya menyesuaikan konteks kekinian.

Keenam, mengembalikan sumber-sumber yang samar (mutasyābih) kepada sumber-sumber yang pasti (muḥkam), atau meminta fatwa orang yang lebih memahami. Hal ini dicontohkan oleh Yāsir berkaitan dengan sifat-sifat al-Mahdī dalam sebuah riwayat, sifat-sifat atau ciri-ciri tersebut bisa dikatakan samar-samar dan hampir mirip dengan seseorang dan belum begitu jelas jika dicocok-cocokkan, dan hal ini penting untuk diperbandingkan dengan riwayat lain yang menyebut bahwa kedatangan al-Mahdī bertujuan untuk melenyapkan tentara musuh, keterangan ini dianggap sebagai riwayat yang muhkam dalam hal ini.

Ketujuh, membedakan antara berita (ikhbār) dan pensyariatan (tasyrī’). Membedakan antara berita dan pensyariatan memiliki konsekuensi bahwa hadis-hadis akhir zaman tidak bisa digolongkan kepada hukum halal-haram karena ia tidak memiliki konsekuensi hukum. Tidak juga ada konsekuensi untuk mempertahankan dan mengupayakan, kecuali jika dalam hadis-hadis tersebut memiliki konsekuensi pensyariatan, maka ia bisa digolongkan kepada halal dan haram. Hadis-hadis akhir zaman tidak lebih dari sekedar berita gaib atau prediktif semata.

Baca Juga :  Tujuan Jihad untuk Membela Diri

Demikianlah tujuh langkah yang diperlukan agar mendapatkan pemahaman yang pas terhadap hadis-hadis akhir zaman. Semoga tulisan singkat ini bermanfaat untuk para pengkaji hadis dan masyarakat pada umumnya. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here