Memanggil Sayang Kepada yang Bukan Mahram, Bagaimana Hukumnya?

0
35

BincangSyariah.Com – Dalam kebiasaan sehari-hari, seringkali kita memanggil orang lain dengan panggilan “sayang”. Panggilan ini bukan hanya kita tujukan kepada orang-orang dalam keluarga kita atau mahram, tetapi juga kepada orang lain seperti teman-teman kita termasuk pula kepada lawan jenis. Sebetulnya, bagaimana Islam memandang hukum memanggil “sayang” kepada yang bukan mahram?

Dalam Islam, panggilan sayang hukumnya sunnah atau bahkan wajib diberikan kepada istri-istri kita, atau sebaliknya kepada suami-suami kita, sebagai bagian daripada “pergaulan yang baik”, sebagaimana disebutkan dalam Alquran QS. An-Nisa [4]: 19,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلْمَعْرُوفِ ۚ

wa ‘āsyirụhunna bil-ma’rụf

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.”

Keumuman ayat Al-Quran diatas ini juga diberlakukan pada kesunnahan atau kewajiban memanggil anggota keluarga kita dengan panggilan yang menunjukkan rasa cinta dan sayang kita kepada mereka. Selain panggilan sayang, ada juga panggilan kesayangan atau laqab yang bisa kita berikan kepada orang-orang yang kita sayangi sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Beliau memanggil istri beliau, Ibunda Kaum Muslimin, Aisyah RA dengan panggilan humairah, yang berarti “perempuan berwajah putih kemerah-merahan.”

Dalam pergaulan Islami, panggilan laqab ini nyatanya sering diucapkan oleh kaum muslimin kepada sesama saudaranya sebagai bagian daripada ekspresi pujian kepada mereka. Kepada mereka yang pemberani kita sebut mereka sebagai Asadullah (Singa Allah). Kepada mereka yang berpenbampilan menarik, kita sebut mereka sebagai Qomar (rembulan), dan lain sebagainya.

Bahkan Rasulullah sendiri mentradisikan memberi laqab kepada sahabat-sahabatnya seperti ash-shiddiq (yang mempercayai) kepada Abu Bakar RA; al-Faruq (pembeda baik dan buruk) kepada Umar RA; dan al-murtadla (yang diridlai) kepada Ali RA.

Sebaliknya, Allah bahkan melarang kepada kaum muslimin untuk memberikan julukan atau panggilan kepada orang lain dengan panggilan yang buruk, sebagaimana firman Allah QS. Al-Hujurat: 11:

Baca Juga :  Hubungan antara Ketakwaan dan Kemanusiaan Menurut Nabi

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

Yā ayyuhallażīna āmanụ lā yaskhar qaumum ming qaumin ‘asā ay yakụnụ khairam min-hum wa lā nisā`um min nisā`in ‘asā ay yakunna khairam min-hunn, wa lā talmizū anfusakum wa lā tanābazụ bil-alqāb, bi`sa lismul-fusụqu ba’dal-īmān, wa mal lam yatub fa ulā`ika humuẓ-ẓālimụn

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Lebih spesifik lagi untuk panggilan “sayang” kepada orang lain, tradisi kaum muslimin sendiri menggunakan kata tersebut untuk keturunan Rasulullah SAW. Kita biasa memanggil habib bagi keturunan Rasulullah laki-laki dan habibah bagi keturunan Rasulullah perempuan. Keduanya maknanya ialah “sayang”. Panggilan sayang tersebut kita berikan sebagai perwujudan rasa sayang kita kepada keluarga keturunan Rasulullah SAW.

Lantas bagaimana apabila yang kita panggil “sayang” tersebut ialah lawan jenis yang bukan mahram kita? Maka secara umum hukumnya ialah boleh saja atau mubah, tergantung pada niatnya. Apabila niatnya ialah untuk menunjukkan kasih sayang kita kepada mereka tanpa ada pretensi syahwat, maka diperbolehkan.

Beda halnya apabila dengan panggilan tersebut akan menimbulkan fitnah, maka sebaiknya ditinggalkan. Bisa saja dengan memanggil sayang kepada yang bukan mahram dengan akan membuat orang-orang menyangka bahwa kita sedang berpacaran dengan orang tersebut atau setidaknya ada modus dibalik panggilan sayang yang kita berikan. Fitnah semacam ini tentunya mesti kita hindarkan, sebagaimana hadits Nabi:

Baca Juga :  Menjadi Pencinta Sejati

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (ujian) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki daripada (fitnah) wanita.” (HR. Bukhari no. 5096 dan Muslim no.7122)

Dengan penjelasan diatas bisa kita simpulkan bahwa panggilan sayang kepada lawan jenis hukumnya boleh saja selama itu hanya sekadar menunjukkan rasa sayang kita sebagai sesama muslim. Namun apabila dibarengi dengan syahwat atau berpotensi menimbulkan fitnah, maka sebaiknya dihindarkan. Wallahu a’lam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here