Memaksa Perempuan Non-Muslim Memakai Jilbab Termasuk Intoleransi, Mengapa?

0
73

BincangSyariah.Com – Kasus yang baru-baru ini lumayan ramai di perbincangkan di media sosial adalah perihal adanya dugaan pemaksaan jilbab kepada siswi non-Muslim di Padang Sumatera Barat. Hal ini, agaknya, kurang nyaman bagi mereka dikarenakan jilbab merupakan simbol (identitas) agama Islam, dimana agama tersebut bukanlah keyakinan yang mereka anut. Bagaimana hukum positif dan hukum Islam melihat kasus sekolah memaksa perempuan non-Muslim memakai jilbab tersebut?

Perlu diketahui, berbicara perihal hijab (jilbab) bagi perempuan, Syekh Muhammad Ali as-Shabuni dalam kitabnya Rawai’ al-Bayan fi Tafsiri Ayat al-Ahkam (j.2 h.315-316) menyitir sebuah ayat al-Qur’an dalam surah al-Ahzab yang menerangkan bahwa kewajiban berhijab  berlaku untuk kalangan muslimah.

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِّاَزْوَاجِكَ وَبَنٰتِكَ وَنِسَاۤءِ الْمُؤْمِنِيْنَ يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيْبِهِنَّۗ

Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (Q.S al-Ahzab ayat 59)

Secara dhahir ayat diatas menunjukkan bahwa hijab diwajibkan kepada wanita muslimah. Oleh karena itu Syekh as-Shabuni mengatakan bahwa perempuan non-Muslim tidak wajib mengenakan jilbab.

لا يجب الحجاب على الكافرة لأنها لا تكلف بفروع الإسلام ولأن الحجاب عبادة لما فيه من امتثال أمر الله عز وجل

Tidak wajib berhijab bagi wanita non-Muslim. Hal ini dikarenakan mereka tidak dikenai kewajiban mematuhi aturan-aturan fikih Islam (furu’ al-Islam) dan juga hijab adalah sebuah ibadah, dimana di dalamnya mengandung kepatuhan kepada perintah Allah.”

Memaksa Perempuan Non-Muslim Pakai Jilbab dalam Tinjauan Hukum Positif

Kasus terkait adanya dugaan pemaksaan kepada siswi non-Muslim perihal pemakaian jilbab di atas, sekurang-kurangnya menyalahi 3 pasal pedoman perundang-undangan yang berlaku. Diantaranya ;

Pertama, Pasal 55 UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Disebutkan bahwa setiap anak berhak untuk beribadah menurut agamanya, berpikir, berekspresi sesuai dengan tingkat intelektualitas dan usianya di bawah bimbingan orang tua dan atau wali.

Kedua, Pasal 4 ayat (1) UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Ditekankan bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.

Ketiga, Pasal 3 ayat (4) Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 45 Tahun 2014 tentang Pakaian Seragam Sekolah bagi Peserta Didik Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Bahwa pakaian seragam khas sekolah diatur oleh masing-masing sekolah dengan tetap memperhatikan hak setiap warga negara untuk menjalankan keyakinan agamanya masing-masing.

Berdasarkan aturan perundang-undangan di atas, sudah jelas bahwa pemaksaan untuk menggunakan jilbab kepada siswi non-Muslim merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia. Hal ini juga mencerminkan sikap intoleran yang berlawanan dengan nafas dasar negara Indonesia.

Memaksa Perempuan Non-Muslim Pakai Jilbab dalam Tinjauan Hukum Islam

Islam sangat melarang terhadap sikap intoleran. Terdapat banyak dalil baik dari ayat al-Qur’an maupun sunah nabi yang mengajak pemeluknya untuk bersikap toleran dalam beragama. Di antaranya ;

لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ

Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam)” (Q.S al-Baqarah ayat 256)

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ

Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (Q.S al-Kafirun ayat 6)

Melalui dua ayat di atas, dapat diketahui bahwa dalam soal agama saja Islam tidak ada paksaan. Bagi yang sadar silahkan masuk Islam, sementara yang belum sadar Islam tidak memaksakan kehendak mereka. Apalagi  hanya persoalan atribut keagamaan semisal jilbab pada kasus di atas, tentu kita (kaum muslim) dilarang memaksa non-Muslim untuk memakai jilbab. Alangkah baiknya juga kita tidak memaksa yang muslim juga untuk mengenakan jilbab hal ini dikarenakan persoalan jilbab masih masuk ranah khilafiyah (furu’) di kalangan ulama.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : قِيلَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيُّ الأَدْيَانِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ ؟ قَالَ : الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ

Dari Ibnu Abbas berkata ‘Rasulullah Saw. pernah ditanya, agama manakah yang paling dicintai oleh Allah? Rasulullah Saw. menjawab “Agama yang lurus lagi toleran.” (Musnad Ahmad bin Hanbal, jus 1 hal 236)

Hadis ini secara gamblang mengatakan bahwa agama yang paling benar adalah agama yang lurus dan bersifat toleran.

Alhasil, pemaksaan jilbab kepada non-Muslim pada kasus di atas menyalahi hukum positif dan juga agama Islam. Hal ini dikarenakan terdapat unsur intoleransi di dalamnya.

Semoga bermanfaat, wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here