Hari Ini Malam 17 Ramadan, Mari Memaknai Peristiwa Nuzulul Quran

0
2548

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS Al-Baqarah [2]: 183)

BincangSyariah.Com- Bulan puasa memiliki pertalian yang sangat istimewa dengan momentum diturunkannya kitab suci Alqur­an. Sebagaimana dimaklumi bersama, kitab suci Alquran merupakan sumber pandangan hidup orang ber­iman.

Perlu diketahui bersama pula persoalan kemurnian atau oten­tisitas Alquran sebagai kitab suci. Barangkali hanya Alquran yang diakui, baik dalam kalangan Muslim maupun non-Muslim, seba­gai satu-satunya kitab suci di dunia yang me­­­miliki tingkat oten­tisitas paling tinggi. Hal ini dapat di­buk­­tikan dari banyaknya orang yang mampu menghafal Alqur­an di luar kepala, baik di belahan bumi barat maupun ti­mur. Mereka dinamakan para hâfidz Al-Qur’ân. Dengan de­mi­kian, kalau terjadi kekeliruan sedikit saja, walau hanya satu huruf umpamanya, maka akan dengan mudah dike­tahui.

Di sisi lain, wujud otentisitas kitab suci Alquran me­rupa­kan janji Allah Swt. yang akan melindungi Alquran dari upaya pemalsuan. Sebagaimana ditegaskan dalam fir­man-Nya, Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (QS Al-Hijr [15]: 9).

Hal yang paling menjadikan Alquran tetap terjaga ke­otenti­kannya, barangkali karena Alquran diturunkan da­lam bahasa Arab. Ini seperti yang diungkapkan oleh Alqur­an sendiri, Dengan bahasa Arab yang jelas (QS Al-Syu‘arâ’ [26]: 195).

Berdasarkan penelitian Hodgson, orang Barat yang banyak menulis buku-buku tentang keislaman, diakui bah­wa bahasa Arab merupakan bahasa dunia yang memiliki dinamika internal yang sangat tinggi sehingga mampu de­ngan mudah mengadaptasikan dirinya sesuai dengan per­kembangan zaman. Lebih lanjut ditegaskan, di antara baha­sa di dunia yang pernah mempengaruhi peradaban manu­sia, yakni bahasa Latin, Romawi, Sanskerta, dan Arab, hanya bahasa Arablah yang hingga saat ini masih hidup dan dipa­kai orang dalam percakapan atau komunikasi. Bahasa yang lain sudah mati.

Berkenaan dengan peristiwa turunnya Alquran atau le­bih populer dengan sebutan Nuzulul Quran, bangsa Indo­nesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam sung­guh sangat bersyukur karena termasuk bangsa yang menye­leng­garakan peringatan Nuzulul Quran sebagai sebuah pe­ris­tiwa nasional setiap tahun. Dan, yang lebih hebat lagi ada­lah bahwa acara tersebut juga dihadiri oleh para pemimpin dan pejabat tinggi negara.

Turunnya Alquran pada tanggal 17 Ramadan dan di­kait­kan dengan turunnya surah pertama kepada Nabi Mu­ham­mad saw. saat beliau melakukan khalwat di Gua Hira, masih diperdebatkan oleh para ulama. Surah tersebut kemu­dian dinamakan Surah Al-‘Alaq, berjumlah lima ayat.

Namun satu hal yang pasti, pada tanggal 17 Ramadan telah terjadi Perang Badar. Perang tersebut merupakan pe­rang yang pertama kali terjadi dalam sejarah awal perkem­bang­an agama Islam. Oleh karena itu, perang tersebut be­gitu berarti dan sangat menen­tukan, tentunya menyangkut kelangsungan agama Islam di kemudian hari. Itulah sebab­nya, oleh Alquran dinamakan Al-Furqân (yang membeda­kan antara dua kekuatan) bâthil dan haqq (kebenaran). Kata Al-Furqân sendiri sebenarnya juga merupakan nama lain Al-Quran. Sesuai dengan fungsi dan misinya, yakni sebagai pembeda antara yang haq dan yang bâthil.

Namun demikian, ada baiknya di sini disinggung arti kata nuzul-u ’l-Qur’ân untuk memberikan pengertian yang me­­madai sehingga dapat diperoleh pemahaman yang lebih baik lagi berkaitan dengan peristiwa atau kejadian tersebut. Da­lam Alquran terdapat tiga kata yang menjelaskan hal diturunkannya Alquran—ketiganya merupakan derivasi atau kata turunan dari akar kata yang sama, yakni na-za-la. Ke­tiga kata tersebut adalah inzâl, dari akar kata anzala, nuzûl dari akar kata nazala, dan tanzîl dari akar kata nazzala.

Alquran diturunkan pada malam-malam ganjil dalam sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Malam-malam terse­but dinamakan malam laylat-u ’l-qadr atau Malam Kepastian. Proses turunnya Al-Quran disebut inzâl, yakni diturun­kan­nya Alquran ke dalam lauh al-mahfûzh dalam wujud sebagai prototipe kitab suci—proses yang serupa juga dialami oleh kitab-kitab suci lain sebelumnya. Selan­jutnya, Alquran ditu­run­kan kepada Nabi Muhammad saw., yang prosesnya dise­but nuzûl—membutuhkan waktu 23 tahun.

Baca Juga :  Puasa Membentuk Karakter Berkualitas

Adapun surah-surah yang ada dalam Alquran selanjut­nya diklasifikasikan ke dalam dua kelompok. Yang pertama kelompok Makkiyah, atau periode Makkah. Kelompok ini di­­tan­dai dengan ciri-ciri ayatnya yang pendek dan isinya mem­­­­­fo­kuskan pada penanaman nilai-nilai keimanan.

Dan yang kedua adalah kelompok Madaniyah, yang arti­nya diturunkan pada periode Madinah. Madînah dalam ba­hasa Arab men­gandung pengertian kota yang teratur ka­rena telah memiliki pera­daban. Adapun, surah-surah Mada­ni­yah bercirikan menyoroti masa­lah-masalah sosial kema­sya­rakatan. Itu karena setelah Nabi Muham­mad saw. hijrah atau melakukan migrasi dari kota Makkah ke kota Madi­nah, beliau bersama-sama kaum Muslim mulai membangun sebuah tatanan sosial yang sama sekali baru—yang berbeda dengan tatanan yang ada di kota Makkah.

Sementara itu, kata tanzîl mengandung pengertian pro­ses pembumian Al-Quran ke dalam realitas kehidupan. Di si­ni, fungsi dan peran Al-Quran adalah merespons, men­ja­wab, dan memberikan berbagai solusi atau pemecahan atas berbagai persoalan sosial yang dihadapi oleh umat Islam.

Contohnya, ada seseorang yang bertanya kepada Nabi Muhammad saw. tentang bulan sabit, al-ahillati, seperti da­lam ayat Alquran disebutkan, Mereka bertanya kepadamu ten­tang bulan sabit. Katakanlah, “Bulan sabit adalah tanda-tan­da waktu bagi manusia dan bagi ibadah haji …” (QS Al-Ba­­qarah [2]: 189). Contoh lain, mereka bertanya kepada Na­bi Muhammad saw. tentang harta rampasan (al-anfâl). Juga ada yang bertanya tentang kisah seseorang yang bernama Zul­qarnain dan masih banyak lagi.

Alquran sebagai kitab suci samawi, di sisi lain juga ha­rus dipahami sebagai simbol kontinuitas proses kenabian dan risalah ajaran tauhid. Itu karena Alquran datang de­ngan mengklaim bahwa dirinya sebagai pembenar kitab-ki­tab suci sebe­lumnya (mushaddiqun baina yadaih). Alquran juga berfungsi sebagai yang menjelaskan posisi kitab-kitab sebelumnya (mubayyi­nun). Serta, yang paling penting dari ke­­­­dudukannya dalam kaitan dengan kitab-kitab suci sebe­lum­nya, adalah sebagai yang mengorek­si, furqân.

Dengan kata lain, sesuai dengan misi kedatangan atau tur­unnya Alquran adalah adanya indikasi telah terjadi ber­ba­gai penyimpangan dan penye­le­wengan terhadap isi dan auten­ti­sitas kitab-kitab suci sebelum­nya. Dalam Alquran sendiri di­nya­ta­kan, Dia menurunkan Al-Ki­tab (Alquran) kepadamu dengan sebenar-benarnya, membenarkan ki­tab yang telah diturunkan sebe­lum­nya dan menurunkan Taurat dan Injil (QS âli ‘Imrân [3]: 3).

Baca Juga :  Puasa dan Sifat Saling Menghormati

Itulah sebabnya kemudian, ayat terakhir yang diturunkan ke­pada Nabi Muhammad saw. ber­bu­nyi, … Pada hari ini telah Kusem­purna­kan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nik­mat-Ku, dan telah Kuridlai Is­lam itu jadi agama bagimu … (QS Al-Mâ’idah [5]: 3). Dari ayat ter­sebut, sepertinya, Alquran seca­ra tersirat menegaskan bahwa ajar­­an agama Islam—agama Is­lam yang sudah dimulai sejak misi kenabian dan kerasulan Adam a.s.—sudah dinyatakan sempur­na. Dalam bahasa Arab diguna­kan istilah akmaltu, yang artinya Aku (Allah Swt.) sudah sempurnakan, dalam pengertian pe­warisan dan pengembangan ajaran-ajaran samawi sebelum­nya.

Alquran, selain mengandung perintah dan larangan, ju­ga memuat cerita-cerita. Cerita-cerita itu dinyatakan dan di­akui para ilmuwan sebagai ahsan-u ’l-qashash (cerita-cerita terbaik). Ini karena cerita-cerita itu mengandung pesan-pe­san moral yang sangat tinggi dan untuk diambil sebagai pe­gangan, pandangan, dan tuntu­nan hidup.

Meskipun demikian, memang pernah ada yang melon­tar­kan kriti­kan berkenaan dengan cerita-cerita dalam Alqur­an dengan adanya penonjolan romantisme-percintaan se­­perti pada kisah cinta Nabi Yusuf dan Zulaiha. Namun ke­mu­­dian, pernyataan dan nada negatif itu terbukti tidak me­miliki alasan yang mendasar sama sekali. Kritikan yang de­mikian kemudian dibantah dan dipatahkan oleh Alquran sendiri. Diakui bahwa Alquran memuat kisah cinta Yusuf dan Zulaiha. Namun kalau diteliti, kisah tersebut hanya se­ba­gian kecil saja dan itu pun tetap memiliki pesan-pesan mo­­­ral yang sangat tinggi, seperti anjuran tidak menuruti do­rongan atau ajakan hawa nafsu karena hawa nafsu selalu meng­­ajak kepada keja­hatan.

Dalam sejarah, proses diturunkannya Alquran telah melibatkan Malaikat Jibril, dari kata bahasa Ibrani jibrael, atau utusan Tuhan. Selain itu, Al-Quran juga diakui sebagai se­buah kompendium. Yang demikian itu juga dinyatakan se­cara eksplisit oleh Alquran sebagai berikut, (ini adalah) satu surah yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalan­kan hukum-hukum yang ada di dalamnya), dan Kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingat­nya (QS Al-Nûr [24]: 1).

Ada sebuah pertanyaan, mengapa Alquran diturunkan pada bulan suci Ramadan? Kalau saja mau direnungkan, yang demikian itu ternyata erat kaitannya dengan asumsi bah­wa bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya orang beriman dianjurkan menjalan­kan ibadah puasa. Me­reka sedang banyak-banyaknya melakukan tadabbur, ihtisâb, dzikr, perenungan, dan sebagainya. Amalan-amalan itu, se­sung­guhnya, merupakan sebuah upaya pengkondisian un­tuk menangkap makna dan pesan Alquran.

Baca Juga :  Memaknai "Nuzulul Quran" di Era Milenial

Dengan kata lain, untuk dapat menangkap makna dan pesan-pesan dalam Alquran sebagai sumber pandangan hidup, seseorang harus memiliki terlebih dahulu modal da­sar yang berupa ikatan spiritual, spiritual attachment, seperti kondisi ruhaniah bulan Ramadan. Dan selanjutnya, ia harus memiliki persiapan dan kese­diaan pertama jasmaniah, mau membacanya. Kemudian dilanjutkan dengan kesediaan in­te­lek­tual yang berupa kemauan memahami dan merenung­kan. Setelah itu, baru akan meningkat kepada kesediaan nafsiah. Pada gilirannya Alquran dengan sendirinya akan mem­­­berikan efek pada diri pembacanya.

Seperti ditegaskan sendiri oleh Alquran, sesungguh­nya Alquran dapat memberikan petunjuk, namun sekaligus juga dapat menyesatkan, yakni bagi mereka yang tidak mau me­­renungkan dan mengakui kebenaran Alquran. Yang de­mi­­kian itu, justru akan menimbulkan sikap dan semangat per­lawanan terhadap Al-Quran sendiri, seperti yang dinyata­kan dalam Al-Quran, … Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan oleh Allah dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang diberi petunjuk … (QS Al-Baqarah [2]: 26).

Alquran yang dalam bahasa Arab berarti bacaan de­ngan keras (recitation). Kalau dibaca terus-menerus, meski ti­dak dapat memahami artinya dengan tingkat keindahan gaya bahasanya, ternya­ta terbukti dapat menimbulkan kete­nang­an ruhani bagi yang membaca atau mendengarkan. Khu­susnya apabila dibaca secara perlahan dan dihayati da­lam hati seperti dianjurkan sendiri oleh Alquran, … Dan baca­lah Alquran itu dengan perlahan-lahan (QS Muzzammil [73]: 4).

Dalam sebuah hadis juga disabdakan agar orang ber­iman memba­ca Alquran dengan suara yang indah atau seni qirâ’at karena akan dapat memberi efek tersendiri kepada pen­­­­­de­ngarnya, “Hiasilah Alquran itu dengan suara kalian” (HR Hakim).

Berkaitan dengan kegiatan seni baca Alquran, sekali lagi perlu diingatkan di sini, meski Indonesia bukan negara Is­lam, ternyata bangsa Indonesia telah diakui dunia inter­na­sio­nal seba­gai bangsa yang paling baik dalam membaca Alquran setelah orang-orang Arab. Bahkan, seperti kita ke­ta­hui, dalam forum MTQ inter­nasional, bangsa Indonesia te­­lah mampu tampil dengan prestasi yang gemilang dan ber­hasil mengalahkan negara-negara lain, terma­suk negara Arab sendiri. Sebagai bangsa Indonesia—yang mayoritas pen­duduknya beragama Islam—pengakuan dan prestasi itu ha­­rus disyukuri.

Bersamaan dengan menjalankan ibadah puasa, kita di­anjurkan agar sedapat mungkin mau memperbanyak mem­baca, mengka­ji, dan merenungkan Alquran. Ide dasarnya adalah agar kita mendapat petunjuk dan hidayah dari Alquran sehingga hati kita pun menjadi sejuk dan damai, atau sakinah dalam menjalankan kehidupan ini.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here