Memaknai Peristiwa Nuzulul Quran

0
100

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS Al-Baqarah [2]: 183)

 

 

BincangSyariah.Com- Bulan puasa memiliki pertalian yang sangat istimewa dengan momentum diturunkannya kitab suci Alqur­an. Sebagaimana dimaklumi bersama, kitab suci Alquran merupakan sumber pandangan hidup orang ber­iman.

Perlu diketahui bersama pula persoalan kemurnian atau oten­tisitas Alquran sebagai kitab suci. Barangkali hanya Alquran yang diakui, baik dalam kalangan Muslim maupun non-Muslim, seba­gai satu-satunya kitab suci di dunia yang me­­­miliki tingkat oten­tisitas paling tinggi. Hal ini dapat di­buk­­tikan dari banyaknya orang yang mampu menghafal Alqur­an di luar kepala, baik di belahan bumi barat maupun ti­mur. Mereka dinamakan para hâfidz Al-Qur’ân. Dengan de­mi­kian, kalau terjadi kekeliruan sedikit saja, walau hanya satu huruf umpamanya, maka akan dengan mudah dike­tahui.

Di sisi lain, wujud otentisitas kitab suci Alquran me­rupa­kan janji Allah Swt. yang akan melindungi Alquran dari upaya pemalsuan. Sebagaimana ditegaskan dalam fir­man-Nya, Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (QS Al-Hijr [15]: 9).

Hal yang paling menjadikan Alquran tetap terjaga ke­otenti­kannya, barangkali karena Alquran diturunkan da­lam bahasa Arab. Ini seperti yang diungkapkan oleh Alqur­an sendiri, Dengan bahasa Arab yang jelas (QS Al-Syu‘arâ’ [26]: 195).

Berdasarkan penelitian Hodgson, orang Barat yang banyak menulis buku-buku tentang keislaman, diakui bah­wa bahasa Arab merupakan bahasa dunia yang memiliki dinamika internal yang sangat tinggi sehingga mampu de­ngan mudah mengadaptasikan dirinya sesuai dengan per­kembangan zaman. Lebih lanjut ditegaskan, di antara baha­sa di dunia yang pernah mempengaruhi peradaban manu­sia, yakni bahasa Latin, Romawi, Sanskerta, dan Arab, hanya bahasa Arablah yang hingga saat ini masih hidup dan dipa­kai orang dalam percakapan atau komunikasi. Bahasa yang lain sudah mati.

Berkenaan dengan peristiwa turunnya Alquran atau le­bih populer dengan sebutan Nuzulul Quran, bangsa Indo­nesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam sung­guh sangat bersyukur karena termasuk bangsa yang menye­leng­garakan peringatan Nuzulul Quran sebagai sebuah pe­ris­tiwa nasional setiap tahun. Dan, yang lebih hebat lagi ada­lah bahwa acara tersebut juga dihadiri oleh para pemimpin dan pejabat tinggi negara.

Turunnya Alquran pada tanggal 17 Ramadan dan di­kait­kan dengan turunnya surah pertama kepada Nabi Mu­ham­mad saw. saat beliau melakukan khalwat di Gua Hira, masih diperdebatkan oleh para ulama. Surah tersebut kemu­dian dinamakan Surah Al-‘Alaq, berjumlah lima ayat.

Namun satu hal yang pasti, pada tanggal 17 Ramadan telah terjadi Perang Badar. Perang tersebut merupakan pe­rang yang pertama kali terjadi dalam sejarah awal perkem­bang­an agama Islam. Oleh karena itu, perang tersebut be­gitu berarti dan sangat menen­tukan, tentunya menyangkut kelangsungan agama Islam di kemudian hari. Itulah sebab­nya, oleh Alquran dinamakan Al-Furqân (yang membeda­kan antara dua kekuatan) bâthil dan haqq (kebenaran). Kata Al-Furqân sendiri sebenarnya juga merupakan nama lain Al-Quran. Sesuai dengan fungsi dan misinya, yakni sebagai pembeda antara yang haq dan yang bâthil.

Namun demikian, ada baiknya di sini disinggung arti kata nuzul-u ’l-Qur’ân untuk memberikan pengertian yang me­­madai sehingga dapat diperoleh pemahaman yang lebih baik lagi berkaitan dengan peristiwa atau kejadian tersebut. Da­lam Alquran terdapat tiga kata yang menjelaskan hal diturunkannya Alquran—ketiganya merupakan derivasi atau kata turunan dari akar kata yang sama, yakni na-za-la. Ke­tiga kata tersebut adalah inzâl, dari akar kata anzala, nuzûl dari akar kata nazala, dan tanzîl dari akar kata nazzala.

Alquran diturunkan pada malam-malam ganjil dalam sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Malam-malam terse­but dinamakan malam laylat-u ’l-qadr atau Malam Kepastian. Proses turunnya Al-Quran disebut inzâl, yakni diturun­kan­nya Alquran ke dalam lauh al-mahfûzh dalam wujud sebagai prototipe kitab suci—proses yang serupa juga dialami oleh kitab-kitab suci lain sebelumnya. Selan­jutnya, Alquran ditu­run­kan kepada Nabi Muhammad saw., yang prosesnya dise­but nuzûl—membutuhkan waktu 23 tahun.

Baca Juga :  Saling Memaafkan pada Hari Raya Idul Fitri

Adapun surah-surah yang ada dalam Alquran selanjut­nya diklasifikasikan ke dalam dua kelompok. Yang pertama kelompok Makkiyah, atau periode Makkah. Kelompok ini di­­tan­dai dengan ciri-ciri ayatnya yang pendek dan isinya mem­­­­­fo­kuskan pada penanaman nilai-nilai keimanan.

Dan yang kedua adalah kelompok Madaniyah, yang arti­nya diturunkan pada periode Madinah. Madînah dalam ba­hasa Arab men­gandung pengertian kota yang teratur ka­rena telah memiliki pera­daban. Adapun, surah-surah Mada­ni­yah bercirikan menyoroti masa­lah-masalah sosial kema­sya­rakatan. Itu karena setelah Nabi Muham­mad saw. hijrah atau melakukan migrasi dari kota Makkah ke kota Madi­nah, beliau bersama-sama kaum Muslim mulai membangun sebuah tatanan sosial yang sama sekali baru—yang berbeda dengan tatanan yang ada di kota Makkah.

Sementara itu, kata tanzîl mengandung pengertian pro­ses pembumian Al-Quran ke dalam realitas kehidupan. Di si­ni, fungsi dan peran Al-Quran adalah merespons, men­ja­wab, dan memberikan berbagai solusi atau pemecahan atas berbagai persoalan sosial yang dihadapi oleh umat Islam.

Contohnya, ada seseorang yang bertanya kepada Nabi Muhammad saw. tentang bulan sabit, al-ahillati, seperti da­lam ayat Alquran disebutkan, Mereka bertanya kepadamu ten­tang bulan sabit. Katakanlah, “Bulan sabit adalah tanda-tan­da waktu bagi manusia dan bagi ibadah haji …” (QS Al-Ba­­qarah [2]: 189). Contoh lain, mereka bertanya kepada Na­bi Muhammad saw. tentang harta rampasan (al-anfâl). Juga ada yang bertanya tentang kisah seseorang yang bernama Zul­qarnain dan masih banyak lagi.

Alquran sebagai kitab suci samawi, di sisi lain juga ha­rus dipahami sebagai simbol kontinuitas proses kenabian dan risalah ajaran tauhid. Itu karena Alquran datang de­ngan mengklaim bahwa dirinya sebagai pembenar kitab-ki­tab suci sebe­lumnya (mushaddiqun baina yadaih). Alquran juga berfungsi sebagai yang menjelaskan posisi kitab-kitab sebelumnya (mubayyi­nun). Serta, yang paling penting dari ke­­­­dudukannya dalam kaitan dengan kitab-kitab suci sebe­lum­nya, adalah sebagai yang mengorek­si, furqân.

Dengan kata lain, sesuai dengan misi kedatangan atau tur­unnya Alquran adalah adanya indikasi telah terjadi ber­ba­gai penyimpangan dan penye­le­wengan terhadap isi dan auten­ti­sitas kitab-kitab suci sebelum­nya. Dalam Alquran sendiri di­nya­ta­kan, Dia menurunkan Al-Ki­tab (Alquran) kepadamu dengan sebenar-benarnya, membenarkan ki­tab yang telah diturunkan sebe­lum­nya dan menurunkan Taurat dan Injil (QS âli ‘Imrân [3]: 3).

Baca Juga :  6 Kondisi Dibolehkan Membuka Aib Orang Lain

Itulah sebabnya kemudian, ayat terakhir yang diturunkan ke­pada Nabi Muhammad saw. ber­bu­nyi, … Pada hari ini telah Kusem­purna­kan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nik­mat-Ku, dan telah Kuridlai Is­lam itu jadi agama bagimu … (QS Al-Mâ’idah [5]: 3). Dari ayat ter­sebut, sepertinya, Alquran seca­ra tersirat menegaskan bahwa ajar­­an agama Islam—agama Is­lam yang sudah dimulai sejak misi kenabian dan kerasulan Adam a.s.—sudah dinyatakan sempur­na. Dalam bahasa Arab diguna­kan istilah akmaltu, yang artinya Aku (Allah Swt.) sudah sempurnakan, dalam pengertian pe­warisan dan pengembangan ajaran-ajaran samawi sebelum­nya.

Alquran, selain mengandung perintah dan larangan, ju­ga memuat cerita-cerita. Cerita-cerita itu dinyatakan dan di­akui para ilmuwan sebagai ahsan-u ’l-qashash (cerita-cerita terbaik). Ini karena cerita-cerita itu mengandung pesan-pe­san moral yang sangat tinggi dan untuk diambil sebagai pe­gangan, pandangan, dan tuntu­nan hidup.

Meskipun demikian, memang pernah ada yang melon­tar­kan kriti­kan berkenaan dengan cerita-cerita dalam Alqur­an dengan adanya penonjolan romantisme-percintaan se­­perti pada kisah cinta Nabi Yusuf dan Zulaiha. Namun ke­mu­­dian, pernyataan dan nada negatif itu terbukti tidak me­miliki alasan yang mendasar sama sekali. Kritikan yang de­mikian kemudian dibantah dan dipatahkan oleh Alquran sendiri. Diakui bahwa Alquran memuat kisah cinta Yusuf dan Zulaiha. Namun kalau diteliti, kisah tersebut hanya se­ba­gian kecil saja dan itu pun tetap memiliki pesan-pesan mo­­­ral yang sangat tinggi, seperti anjuran tidak menuruti do­rongan atau ajakan hawa nafsu karena hawa nafsu selalu meng­­ajak kepada keja­hatan.

Dalam sejarah, proses diturunkannya Alquran telah melibatkan Malaikat Jibril, dari kata bahasa Ibrani jibrael, atau utusan Tuhan. Selain itu, Al-Quran juga diakui sebagai se­buah kompendium. Yang demikian itu juga dinyatakan se­cara eksplisit oleh Alquran sebagai berikut, (ini adalah) satu surah yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalan­kan hukum-hukum yang ada di dalamnya), dan Kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingat­nya (QS Al-Nûr [24]: 1).

Ada sebuah pertanyaan, mengapa Alquran diturunkan pada bulan suci Ramadan? Kalau saja mau direnungkan, yang demikian itu ternyata erat kaitannya dengan asumsi bah­wa bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya orang beriman dianjurkan menjalan­kan ibadah puasa. Me­reka sedang banyak-banyaknya melakukan tadabbur, ihtisâb, dzikr, perenungan, dan sebagainya. Amalan-amalan itu, se­sung­guhnya, merupakan sebuah upaya pengkondisian un­tuk menangkap makna dan pesan Alquran.

Baca Juga :  Puasa Sebagai Kesalehan sosial

Dengan kata lain, untuk dapat menangkap makna dan pesan-pesan dalam Alquran sebagai sumber pandangan hidup, seseorang harus memiliki terlebih dahulu modal da­sar yang berupa ikatan spiritual, spiritual attachment, seperti kondisi ruhaniah bulan Ramadan. Dan selanjutnya, ia harus memiliki persiapan dan kese­diaan pertama jasmaniah, mau membacanya. Kemudian dilanjutkan dengan kesediaan in­te­lek­tual yang berupa kemauan memahami dan merenung­kan. Setelah itu, baru akan meningkat kepada kesediaan nafsiah. Pada gilirannya Alquran dengan sendirinya akan mem­­­berikan efek pada diri pembacanya.

Seperti ditegaskan sendiri oleh Alquran, sesungguh­nya Alquran dapat memberikan petunjuk, namun sekaligus juga dapat menyesatkan, yakni bagi mereka yang tidak mau me­­renungkan dan mengakui kebenaran Alquran. Yang de­mi­­kian itu, justru akan menimbulkan sikap dan semangat per­lawanan terhadap Al-Quran sendiri, seperti yang dinyata­kan dalam Al-Quran, … Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan oleh Allah dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang diberi petunjuk … (QS Al-Baqarah [2]: 26).

Alquran yang dalam bahasa Arab berarti bacaan de­ngan keras (recitation). Kalau dibaca terus-menerus, meski ti­dak dapat memahami artinya dengan tingkat keindahan gaya bahasanya, ternya­ta terbukti dapat menimbulkan kete­nang­an ruhani bagi yang membaca atau mendengarkan. Khu­susnya apabila dibaca secara perlahan dan dihayati da­lam hati seperti dianjurkan sendiri oleh Alquran, … Dan baca­lah Alquran itu dengan perlahan-lahan (QS Muzzammil [73]: 4).

Dalam sebuah hadis juga disabdakan agar orang ber­iman memba­ca Alquran dengan suara yang indah atau seni qirâ’at karena akan dapat memberi efek tersendiri kepada pen­­­­­de­ngarnya, “Hiasilah Alquran itu dengan suara kalian” (HR Hakim).

Berkaitan dengan kegiatan seni baca Alquran, sekali lagi perlu diingatkan di sini, meski Indonesia bukan negara Is­lam, ternyata bangsa Indonesia telah diakui dunia inter­na­sio­nal seba­gai bangsa yang paling baik dalam membaca Alquran setelah orang-orang Arab. Bahkan, seperti kita ke­ta­hui, dalam forum MTQ inter­nasional, bangsa Indonesia te­­lah mampu tampil dengan prestasi yang gemilang dan ber­hasil mengalahkan negara-negara lain, terma­suk negara Arab sendiri. Sebagai bangsa Indonesia—yang mayoritas pen­duduknya beragama Islam—pengakuan dan prestasi itu ha­­rus disyukuri.

Bersamaan dengan menjalankan ibadah puasa, kita di­anjurkan agar sedapat mungkin mau memperbanyak mem­baca, mengka­ji, dan merenungkan Alquran. Ide dasarnya adalah agar kita mendapat petunjuk dan hidayah dari Alquran sehingga hati kita pun menjadi sejuk dan damai, atau sakinah dalam menjalankan kehidupan ini.[]



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here