Memaknai Peristiwa Nuzul al-Quran

0
163

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam itu lebih baik daripada seribu bulan.
(QS Al-Qadr [97]: 1-3)

BincangSyariah.Com- Lailatul Qadar, bermakna Malam Kemuliaan atau Malam Kepastian, yang ibadah pada malam itu dalam kitab suci Al-Quran dikatakan memiliki nilai sama dengan nilai ibadah seribu bulan bagi yang mendapatkannya. Atau kalau saja mau dihitung, seribu bulan sama dengan kurang-lebih umur manusia, yakni 80 tahun. Dari situ dapat dia sumsikan bahwa siapa saja yang mendapatkan malam Lailatul Qadar, akan mendapatkan sebuah pengalaman hidup, yakni pengalaman ruhani yang amat berharga dibandingkan dengan hidup 80 tahun.
Ilustrasi tentang Malam Kemuliaan atau Kepastian dapat ditemukan dalam Al-Quran sebagai berikut, Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam itu lebih baik daripada seribu bulan. (QS Al-Qadr [97]: 1-3).

Itulah sebabnya, kedatangan Lailatul Qadar sangat dinanti-nantikan oleh kaum Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa karena malam tersebut jatuh bertepatan pada bulan puasa. Adapun bentuk kegiatan untuk menyambut atau mendapatkan malam yang diimpiimpikan tersebut di antaranya dengan bangun malam mengerjakan shalat sunnah, shalat malam, tadarus, membaca dan mempelajari Al-Quran, serta berzikir sepanjang malam-malam bulan Ramadlan.

Menurut sebagian ulama, malam Lailatul Qadar jatuh bertepatan dengan tanggal 17 Ramadlan. Pandangan semacam itu dikaitkan dengan terjadinya Perang Badar. Perang ini adalah perang yang pertama kali terjadi dalam sejarah agama Islam yang oleh Al-Quran dinamakan perang pembeda, Al-Furqân. Pembeda antara kekuatan yang benar, al-haqq, orang-orang beriman pengikut Nabi Muhammad Saw. dengan kekuatan bâthil, golongan orang-orang musyrik atau kafir.

Dalam Al-Quran, kemudian hari, terjadinya Perang Badar itu dinamakan hari bertemunya dua kekuatan, Yaum altaqal jam‘ân, sebagaimana dilukiskan, Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemunya dua pasukan itu, hanya saja mereka yang digelincirkan oleh setan … (QS Âli ‘Imrân [3]: 155).
Namun perlu dipahami, berkenaan dengan tanggal tu¬runnya Lailatul Qadar, itu adalah hal yang bersifat ijtihad kalangan ulama, sehingga pendapat seorang ulama dengan pendapat ulama yang lain berbeda. Dan, yang amat menarik bagi kita sebagai bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, peristiwa Lailatul Qadar memiliki arti tersendiri karena ternyata bahwa hari Kemerdekaan Republik Indonesia adalah tanggal 17 Agustus 1945.

Baca Juga :  Hikmah Puasa: Kesalehan Sosial

Dalam rangka mengingatkan kejadian tersebut, dibangunlah masjid dengan nama Masjid Istiqlal, yang berarti kemerdekaan. Bahkan cerita bahwa tinggi menara Masjid Is¬tiqlal sama dengan jumlah ayat dalam Al-Quran juga berkenaan dengan peringatan peristiwa Nuzulul Quran yang dipilih tanggal 17 Ramadlan.
Peristiwa hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ternyata pas jatuh pada tanggal 17 Ramadlan dan hari Jumat—meski sebagai sebuah accidental, kebetulan—juga menjadi momentum yang tepat pula bagi bangsa Indonesia untuk merenungkan kembali peristiwa Lailatul Qadar, khususnya bagi kepentingan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kejadian hari kemerdekaan Republik Indonesia tepat pada Lailatul Qadar memiliki nilai intrinsik yang harus dipahami sebagai sebuah peristiwa kebetulan. Namun, yang demikian itu harus juga diyakini sebagai hal yang sudah menjadi rencana Tuhan, grand design-Nya.
Hal-hal yang bersifat kebetulan dalam kacamata manusia, namun sebenarnya merupakan rencana Tuhan, banyak terjadi sepanjang sejarah manusia, seperti peristiwa dibuangnya Nabi Isma‘il a.s. bersama ibunya Siti Hajar ke Makkah, yang kemudian menemukan sumur Zam-Zam. Sumur itu ternyata dibuat oleh Nabi Adam dan Siti Hawa. Dengan demikian, kejadian tersebut merupakan kejadian yang bersifat kebetulan, namun memiliki arti karena sebenarnya sudah menjadi rencana Tuhan—seperti nilai kesinambungan risalah Illahi.
Lailatul Qadar sebagai Malam Kepastian yang memiliki nilai seribu bulan sebenarnya akan lebih tepat jika dipahami lewat kaitannya dengan makna kesiapan ruhani untuk melakukan apa saja atau siap berkorban. Yang demikian itu tentunya sangat relevan dengan terjadinya Perang Badar, yang menuntut kesiapan untuk berkorban, khususnya berkorban jiwa.
Berkorban diambil dari kata qurbân, dari akar kata qaraba yang memiliki arti dekat. Artinya, berkorban akan dapat menjadikan jiwa atau ruhani seseorang menjadi dekat dengan Tuhan. Dalam bahasa Inggris, berkorban diterjemahkan dengan sacred, yang artinya suci, kemudian menjadi sacrifice yang artinya berkorban karena ketulusan hati atau kesucian hati, semata-mata karena Tuhan.
Hal yang serupa juga pernah dialami bangsa Indonesia saat perang kemerdekaan Republik Indonesia terjadi pada bulan Ramadlan. Itu menutut kesiapan jiwa dan ruhani untuk berkorban. Berkorban karena ketulusan dan kesucian tersebut dibuktikan selama pecah dan berkecamuknya peperangan kemerdekaan. Para pejuang kita selalu memekikkan takbir Allâhu Akbar, Allâhu Akbar. Dengan pekik itu, para pejuang jadi merasa dekat Tuhan sehingga mereka tidak takut mati.

Baca Juga :  Puasa ٌRamadan Melatih Kepekaan Sosial

Dalam kasus serupa, kita teringat akan perjuangan heroik arek-arek Surabaya yang dipimpin oleh Bung Tomo yang berpi¬dato membakar semangat dan jiwa para pejuang dengan takbir untuk menghadapi serangan Sekutu di kota tersebut.
Berkaitan dengan usaha-usaha mendapatkan malam Lailatul Qadar, setidaknya seseorang harus terlebih dahulu memiliki persiapan ruhani. Kesiapan ruhani tersebut dimaksudkan untuk menyambut kedatangan Lailatul Qadar sehingga dengan sendirinya orang yang tidak memiliki kesiapan ruhani tidak akan mendapatkan Lailatul Qadar.

Adapun pelatihan dan persiapan yang dilakukan untuk menda¬patkan Lailatul Qadar, di antaranya adalah dengan menjalankan ibadah puasa secara benar. Kemudian, menje¬lang datangnya Lailatul Qadar, sebagaimana dianjurkan oleh Rasulullah Saw., hendaknya diperbanyak qiyâm-u ’l-layl dan berzikir, perenungan, serta ihtisâb, seperti yang disabdakan dalam sebuah hadis yang berbunyi, “Barang siapa berpuasa karena keimanan kepada Allah, dan melakukan penghitungan kepada diri sendiri, maka diampuni dosa-dosanya yang lalu.”

Ihtisâb (self-examination) adalah sikap mau mengoreksi diri sendiri dengan menghitung-hitung amal perbuatan. Si¬apa yang tidak mau melakukan perenungan dan self-examination akan sulit mendapatkan Lailatul Qadar, karena hati orang yang tidak mau melakukan koreksi diri adalah indikasi hati yang tertutup oleh kesombongan diri. Kesombongan diri karena merasa dirinya paling benar dan suci.
Di sinilah kiranya sikap jiwa menantikan datangnya Lailatul Qadar,4 dapat diparalelkan dengan sikap tobat dari melakukan dosa dan kesalahan. Dan di dalamnya harus ada sikap rendah hati dan ketulusan. Kegiatan tersebut biasanya di¬lakukan bersamaan dengan melakukan iktikaf pada malam hari.

Lewat iktikaf, seseorang dapat merenungkan keadaan dan keberadaan dirinya sehingga iktikaf menjadi momentum yang sangat tepat untuk melakukan pencarian makna hi¬dup yang paling esensial, seperti dalam bahasa Jawa dikenal istilah sankan paran dumadi, atau untuk apa hidup, dari mana datangnya hidup, serta akan ke mana hidup ini? Seluruh pertanyaan itu merupakan pertanyaan yang eksistensial dan identik dengan ihtisâb, melakukan self-examina¬tion selama menjalankan iktikaf.
Memperbanyak kegiatan ibadah untuk menantikan da¬tangnya Lailatul Qadar sebagai persiapan ruhani dilakukan tanpa harus meminta bantuan orang lain. Hal yang demikian juga membuktikan betapa dalam Islam tidak dikenal ajaran mitos atau kultus individu dalam beribadah. Artinya, setiap orang dalam Islam dapat melakukan amalan ibadah tanpa harus melalui perantara. Anjuran untuk memperbanyak beribadah, memohon ampunan kepada Allah Swt. sepanjang bulan puasa khususnya, juga tidak harus menggunakan bahasa Arab. Menggunakan bahasa sendiri juga tidak apa-apa karena sesungguhnya Allah Swt. Maha Mengetahui dan Mendengar.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here