Memaknai “Nuzulul Quran” di Era Milenial

0
491

BincangSyariah.Com – Alquran merupakan mukjizat terbesar Nabi Muhammad Saw. yang diwariskan untuk umatnya hingga akhir zaman. Oleh karenanya setiap Muslim meyakini status Alquran sebagai pedoman hidup yang akan terus dirujuk dan dijadikan dasar argumentasi.

Akan tetapi, banyaknya faksi di internal Islam seringkali membuat bingung umat Islam itu sendiri. Pertanyaannya, di era seperti sekarang ini, yang disebut era pasca-kebenaran (post-truth), bagaimana seharusnya memaknai dan memosisikan Alquran?

Sebagaimana biasanya momentum Ramadan adalah juga diperingati sebagai peristiwa turunnya Alquran (Nuzulul Quran). Inilah waktu yang tepat untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Ingatkah kita wahyu yang pertama turun kepada Rasulullah saw? Ya. Ialah Q.S Alalaq [96]: 1-5:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ () خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ () اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ () الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ () عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ()

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

Sebelum penulis menguraikan lebih lanjut pemaknaan atas lima ayat di atas, perlu sahabat bincang ketahui bahwa pertentangan dan perbedaan di antara umat Islam sudah terjadi sejak Rasulullah Saw. wafat. Perbedaan antara sahabat Muhajirin dan Ansor dalam memilih pengganti Rasulullah adalah contoh sederhana dari sekian banyak contoh yang lainnya.

Namun demikian, di masa-masa setelahnya perbedaan dan pertentangan tersebut tidak lantas menjadi malapetaka. Justru sebaliknya, perbedaan tersebut menjadi rahmat. Bagaimana tidak? Perbedaan itu pada gilirannya menjadi ajang produksi ilmu yang tiada henti.

Misalnya saja, suatu ketika Imam Al-Ghazali (1058-1111) menganggap bahwa kaum filsuf yang ada di dunia Islam saat itu tidak tepat dalam memahami proses penciptaan alam semesta dengan konsep emanasi. Atas ketidaksepakatannya menulislah Ia sebuah karya berjudul Tahafut al-Falasifah (Kesalahan para Filsuf).

Baca Juga :  Menyikapi COVID-19 dengan Optimis dan Waspada Ala Ulama

Di masa berikutnya, Ibnu Rusyd (1126-1198) yang kurang sepakat dengan pandangan Al-Ghazali lalu menulis sebuah karya dengan judul Tahafut al-Tahafut (kesalahan buku Tahafut). Ini adalah contoh umum bagaimana perbedaan pendapat di tangan para ulama menjadi diskursus yang produktif. Karena menjadi buku yang kemudian dapat terus dibaca hingga sekarang.

Dalam konteks Nusantara pertentangan semacam ini juga terjadi, bahkan lebih keras. Di awal abad ke-16 terdapat tokoh dari India bernama Syekh al-Burhanpuri (w. 1620) menulis buku Attuhfah al-Mursalah, yang berisi tentang ajaran tasawuf falsafi (bercorak filsafat).

Pengaruh buku tersebut sampai ke Aceh. Kemudian seorang ulama Aceh, Syamsuddin al-Sumatrani (w. 1630) menulis komentar atas kitab tersebut yang diberi judul Jauhar al-Haqaiq (Permata Hakikat). Masa-masa ini dianggap sebagai masa keemasan tasawuf bercorak filsafat di Aceh kala itu.

Tidak lama kemudian, datanglah seorang ulama keturunan Indo-Melayu bernama Nuruddin al-Raniri (w.1666) yang mengelompokkan al-Sumatrani dan para pendahulunya, al-Burhanpuri, sebagai penyebar ajaran sesat. Hal ini dikarenakan al-Raniri adalah sosok ulama yang menekankan ajaran syariat. Dari sini al-Raniri mengeluarkan fatwa bahwa doktrin wujudiah yang diajarkan al-Sumatrani adalah sesat dan kafir dengan menulis dua buah kitab Fath al-Mubin dan Tibyan fi Ma’rifat al-Adyan. Mulailah pemburuan murid-murid al-Sumatrani dan banyak korban berjatuhan.

Tetapi di masa berikutnya, muncul seorang ulama yang melakukan moderasi bernama Abdurrauf al-Sinkili menulis kitab Tanbih al-Masyi. Al-Sinkili berusaha menengahi pertentangan antara al-Sumatrani dan al-Raniri. Sampai disini, tampak bahwa pertentangan di antara para ulama ini menjadi produksi kitab-kitab bermutu. Meskipun menjadi ajang kontestasi, akan tetapi preseden semacam ini amat baik jika dapat dicontoh oleh generasi milenial.

Lalu bagaimana memaknai Nuzulul Quran, terutama surat Alalaq, dengan konteks saat ini? Jawabannya tidak lain terletak pada kata “Iqra” dan “al-Qalam”. Membaca dan menulis adalah jawaban tersebut.

Baca Juga :  Memahami Hijrah dari Para Sufi

Bagi para millenial, teruslah membaca dan membaca. Membaca apa pun yang bermanfaat. Lalu setelah itu, menulislah sebagai ajang silaturahmi intelektual. Perbedaan pendapat yang dituliskan akan menjadi produksi ilmu pengetahuan. Pasti akan bermanfaat.

Wallahu A’lam.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here