Memaknai Kewajiban Zakat Menurut Ibn Rusyd

0
658

BincangSyariah.Com – Pernah kan kita mendengar beberapa ulama kita menjelaskan tentang makna kewajiban zakat ? Sebagian mengatakan bahwa mengatakan diantara hikmah wajibnya zakat ini adalah sebagai bentuk kepedulian kita kepada yang tidak berpunya dari orang yang memiliki harta yang lebih. Mudahnya, hikmah zakat adalah bentuk kepedulian sosial yang diajarkan dalam Islam. Makna lain misalnya, harta itu kalau tidak dikeluarkan zakatnya, yang dalam agama diwajibkan bagi memiliki harta yang sudah lebih dari cukup, itu kurang keberkahannya.

Upaya menjelaskan makna atau hikmah kewajiban zakat tersebut sebenarnya juga banyak dilakukan ulama sejak lama. Upaya mencari makna dari berzakat tersebut dikategorikan dalam kajian Maqashid as-Syari’ah. Namun, pada masa abad pertengahan Islam, kajia Maqashid as-Syari’ah masih merupakan bagian dari lingkup kajian hukum Islam (fiqh) dan metodologi penggalian hukumnya (ushul al-Fiqh). Salah satu contohnya misalnya yang dijelaskan oleh Ibn Rusyd dalam bukunya Bidayatu al-Mujtahid wa Nihayatu al-Muqtashid.

Dalam kajian fikih, kitab ini bisa dikatakan merupakan diantara sekian kitab yang menjadi bibit kajian fikih perbandingan mazhab (fiqh al-Muqaran). Pasalnya, ketika menjelaskan permasalahan fikih apapun, Ibn Rusyd membuka perbedaan pendapat dalam satu masalah, siapa saja yang berpendapat, apa argumennya, sampai mencari titik temu mengapa ada perbedaan pendapat. Sekarang mari kita lihat contoh-contohnya, dengan mengambil bahasan tentang kewajiban berzakat

Dalam bab zakat (kitab az-Zakat), beliau menjelaskan bahwa zakat itu diwajibkan bagi siapa saja yang Islam, merdeka, sudah baligh (dewasa), berakal (tidak gila), dan memiliki kepenuhan penuh terhadap harta yang sudah mencapai nishab (kadar wajibnya zakat) (j. 1 h. 306). Atau dalam redaksi bahasa Arabnya,

وأما على من تجب فإنهم اتفقوا أنها على كلّ مسلمٍ حرٍّ بالغ عاقل مالك النصاب ملكا تاما

Baca Juga :  Tata-cara Pembagian Warisan dalam Hukum Islam

Dari redaksi tentang siapa yang diwajibkan zakat tersebut, kemudian lahir sejumlah diskusi di kalangan para ulama, membedah persoalan-persoalan fikih yang terdapat di dalamnya. Saya mencoba mensarikan dari Bidayatu al-Mujtahid sebagai berikut,

Satu, Apakah anak wajib berzakat juga?

Dari definisi bahwa zakat itu diwajibkan untuk orang yang sudah baligh, maka muncul pertanyan, bagaimana dengan anak-anak? Sebagian ulama ada yang mengatakan juga wajib selama sang anak itu memang memiliki harta yang memang miliknya (misalnya warisan). Ada juga yang berpendapat tidak. Ada juga yang mencoba memisahkan jenis hartanya, jika merupakan hasil bumi maka wajib dizakati, yang non-hasil bumi berarti tidak wajib.

Dalam redaksi Ibn Rusyd, upaya mencari titik temu makna itu selalu menggunakan redaksi sabab ikhtilaafihim/sebab perbedaan pendapat para ulama. Dalam persoalan anak wajib berzakat atau tidak, pertanyaannya berputar pada pemahaman zakat itu sendiri, apakah ia ibadah vertikal murni seperti shalat dan puasa, atau ia merupakah ibadah sosial yaitu tanggung jawab orang yang mampu untuk membantuk yang tidak berpunya? Jika memilih pendapat yang pertama, maka zakat tidak wajib bagi anak-anak karena ibadah baru wajib ketika seseorang sudah baligh (dewasa). Sementara jika memilih pendapat kedua, maka zakat wajib meski masih anak-anak jika sudah memiliki harta yang lebih dari cukup, karena zakat sebagai bentuk kewajiban sosial yang berpunya kepada fakir miskin.

Dua, apakah orang yang memiliki harta namun memiliki hutang wajib berzakat ?

Pembahasan ini merupakan turunan dari definisi harta yang sudah mencapai kadar zakat dan kepemilikan penuh. Bagaimana dengan zakatnya orang yang hartanya lebih dari cukup, tapi mempunyai hutang baik sebagian atau senilai seluruh hartanya. Ulama ada yang berpendapat, lebih utama membayat hutang dahulu. Yang lain ada juga yang berpendapat, kewajiban zakat tidak gugur meskipun memiliki hutang.

Baca Juga :  Mengenal Hewan Ternak yang Wajib Dizakati

Kata Ibn Rusyd, sabab ikhtilaf dari persoalan ini kembali kepada makna zakat itu sendiri, apakah ia merupakan ibadah mahdhah (murni) kepada Allah atau keniscayaan hak yang harus ditunaikan dari harta yang berlebih untuk orang yang tidak mampu? Jika menggunakan makna yang pertama, makna zakat tetap wajib didahulukan, karena ia ibadah murni dan ibadah itu dalam terminologi agama dikenal istilah haqqu Allah. Sementara bagi yang memilh makna yang kedua, zakat menjadi tidak wajib dan membayar hutang lebih wajib dibandingkan zakat. Alasannya, orang yang memiliki hutang hakikatnya tidak memiliki harta yang lebih (ghaniyy). Hartanya pun bukan lagi miliknya.

Demikian cara ulama memaknai zakat dalam sejumlah permasalahan di dalamnya. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here