Memaknai Kembali Perayaan Idul Fitri

0
1114

BincangSyariah.Com – Mahasuci Allah yang menjadikan Ramadhan sebagai bulan yang istimewa, bulan diturunkannya al-Qur’an kitab pedoman manusia, yang dengannya terang benderang perbedaan hak dan batil. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibn Katsir bahwa salah satu alasan Allah memuliakan bulan Ramadhan dibanding bulan yang lainnya adalah karena di dalamnya diturunkan kitab suci al-Qur’an.

Bulan Ramadhan merupakan momentum kita merenungkan pesan-pesan yang ada dalam al-Qur’an. Khususnya di tengah gempuran pandemi saat ini, Ramadhan, bulan diturunkannya al-Qur’an, bisa menjadi waktu kita merenungi eksistensi al-Qur’an sebagai syifa’, penyembuh.

Allah Swt berfirman,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.”

Nashr bin Sulayman al-Amr, cendekiawan muslim, menjelaskan dalam bukunya Afala Yataddabarun al-Qur’an (Apakah mereka tidak mentadabburi al-Qur’an) bahwa di tengah banyaknya musibah dan petaka yang silih berganti menguji manusia, mereka masih senantiasa meyakini bahwa tempat keluar dan berharap akan tuntasnya musibah tersebut adalah dengan kembali menyelami ajaran al-Qur’an.

Dalam konteks keindonesiaan kembali kepada al-Qur’an terejewantahkan dalam upaya kita menjalin  solidaritas antarumat, khususnya di tengah pandemi ini. Al-Qur’an mengisyaratkan kepada kita agar tidak hanya menjaling tali hubungan dengan Allah semata, melainkan kepada sesama makhluk hidup juga. Dalam kondisi genting seperti saat ini, sangat diperlukan semangat seperti itu.

Selain itu, al-Qur’an juga menghimbau agar patuh dan taat kepada ulil amri yang dalam hal ini pemerintah telah membuat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar sebagai upaya pemutusan rantai penyebaran covid19, tugas kita adalah untuk menaatinya. Dan banyak lagi nilai-nilai al-Qur’an yang bisa kita terjemahkan dalam praktik keseharian kita, yang dengan demikian diharapkan al-Qur’an mampu menjadi syifa’, penyembuh bagi bangsa kita.

Baca Juga :  Tata-cara Memotong Kuku yang Disunahkan

Puasa Sebagai Upaya Perbaikan Diri

Bulan Ramadhan adalah bulan saat kita menjauhkan diri kita dari hal-hal negatif. Puasa yang dalam bahasa Arabnya disebut as-shiyam memiliki makna al-imsak, menahan diri. Memasuki bulan Ramadhan kita memasuki ruang penempaan diri agar bisa menjadi hamba yang lebih baik lagi dengan menahan diri dari segala yang dilarang Allah Swt. Rasulullah Saw secara tugas menghimbau kepada umatnya agar puasa tidak hanya  diartikan sebagai menahan lapar dan dahaga semata.

Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa (yang ketika puasa) tidak meninggalkan perkataan dusta dan malah mengamalkannya, maka Allah tidak membutuhkan usaha hamba tersebut meninggalkan makanan dan minumnya.” (HR. Al-Bukhari)

Berkata dusta adalah representasi dari keburukan-keburukan yang kita lakukan selama kita berpuasa. Merugilah siapa yang melanggengkan perbuatan dosanya sementara ia diberikan anugerah melangsungkan puasa di bulan Ramadhan, bulan di mana di dalamnya ditabur kebaikan yang sangat melimpah. Agar puasa tak hanya menahan lapar dan dahaga, umat Islam dianjurkan agar senantiasa beirbadah kepada Allah Swt.

Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya al-Qur’an, oleh karena itu Allah memuliakan bulan Ramadhan disbanding bulan-bulan yang lainnya. Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu Katsfir saat menjelaskan makna surat al-Baqoroh ayat 185.

Akhirnya, setelah melewati sebulan penuh kita bertafakkur merenungi diri di bulan yang suci Ramadhan, upaya kita melatih diri menahan dari meminimalisir bercak noda di hati bisa berlangsung maksimal, sehingga kita mampu menjadi pribadi yang unggul di sisi Allah Swt. Melalui rangkaian upaya pemaksimalan ibadah di bulan Ramadhan semoga kita mampu mewujudkan tujuan puasa yakni terciptanya takwa dalam hati, la’allakum tattaqun, sebagaimana ditegaskan oleh Allah Swt dalam surat al-Baqoroh ayat 183

Baca Juga :  Hadis-Hadis Penetapan Awal Ramadan: Melacak Akar Perdebatan

Syariat zakat yang berada di penghujung bulan Ramadhan seakan menjadi instrument pendukung upaya kita menjadi insan mulia di sisi Allah Swt. Dalam doa yang kita panjatkan saat menunaikan zakat fitrah tersurat jelas harapan agar kiranya melalui zakat yang kita tunaikan mampu memberi berkah pada harta kita dan senantiasa disucikan harta kita oleh Allah Swt.

Idul Fitri : Momentum Merayakan Kemenangan ?

Idul Fitri secara kebahasaan berarti kembali makan, setelah sekian lama menahan diri tidak makan dari terbitnya fajar hingga sore hari selama sebulan penuh, umat islam kembali diizinkan untuk makan pada pagi hari. Kendati demikian, yang jamak dipahami masyarakat adalah bahwa idul fitri merupakan kembali kepada fitrah. Kembali ke nol dalam timbangan amal.

Lazimnya, mereka yang meyakini pemahaman tersebut didasari pada hadis Nabi, sebagaimana diriwayatkan oleh imam al-Bukhari, yang mengatakan bahwa siapa yang istiqomah puasa bulan Ramadhan semata-mata karena iman dan mengharap ridho Allah maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni oleh Allah Swt.

Sebagian lain mengatakan bahwa idul fitri adalah euforia hari kemenangan. Setelah sebulan umat Islam berjuang menahan lapar dan dahaga serta rentetan kegiatan yang dilandasi hawa nafsu, kini mereka bebas dari ikatan itu semua dan sudah selayaknyalah berbahagia merayakan keberhasilan tersebut.

Namun benarkah demikian? Benarkah perjuangan kita melawan hawa nafsu hanya terjadi pada Ramadhan saja? Benarkah proses menjadi pribadi yang unggul di sisi Allah Swt bisa ditempuh ‘hanya’ karena kita sukses (secara lahiriah) menunaikan kewajiban-kewajiban di bulan Ramadhan?

Hal ini yang perlu kita renungkan kembali bersama.

Ramadhan adalah madrasah kehidupan, demikian ungkap cendekiawan. Melalui Ramadhan seseorang mampu menjadi dewasa menyikapi siklus kehidupan yang dihadapinya. Tradisi kita menahan diri dari yang dilarang oleh Allah Swt pada bulan puasa diharapkan menjadi perisai diri kita membentengi iman selama mengarungi hari-hari di bulan lain. Mereka yang lulus menikmati dinamika beribadah di bulan Ramadhan lazimnya ia menjadikan setiap harinya bulan Ramadhan.Menjalani ibadah sehari-harinya dalam bingkai semangat Ramadhan

Baca Juga :  Terkait Viral Wanita Bawa Anjing Masuk Masjid, Bagaimana Hukumnya?

Esok kita menyongosng idul fitri, hari raya umat Islam. Hari raya di mana Islam, melalui pewajiban syariat zakatnya, mengetuk kesadaran pemilik harta berlebih agar membagi kebahagiaannya dengan mereka yang tidak mampu. Semua harus bahagia di hari ini  Dan semoga kita terus berupaya menjaga kita agar tetap bersih. Sebab orang yang hatinya bersih ia mendapat tempat yang baik di sisi Allah Swt

Allah berfirman :

“Telah menang orang yang mensucikan jiwanya.” (QS. As-Syams : 9)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here