Memaknai Hukum Sedekah Laut

0
725

BincangSyariah.com – Belum lama ini, sedang viral berita tentang sedekah laut. Sekelompok orang menolak dan mengobrak-abrik  persiapan tradisi sedekah laut yang rencananya diselenggarakan di Pantai Baru, Bantul Yogyakarta Sabtu (13/10). Lalu bagaimana seharusnya kita menyikapinya? Bolehkah kita merusak kegiatan budaya dengan alasan bahwa kegiatan itu musyrik?

Peristiwa pengrusakan semacam itu tidak dibenarkan dalam Islam. Apalagi jika dilihat dari kaca mata hukum yang berlaku di Indonesia, di mana pengrusakan sarana dan prasarana adalah bentuk tindakan melanggar hukum.

Jika melihat peristiwa pengrusakan semacam ini, penulis khawatir sudah mulai timbul benih-benih Boko Haram dan ISIS, yang semena-mena merusak kuburan dan peninggalan sejarah di Nigeria, Irak dan Suriah, karena dianggap sebagai sarang kemusyrikan.

Dalam hal ini penulis tidak sedang menyamakan para pelaku tersebut dengan Boko Haram ataupun ISIS, akan tetapi cara pengrusakannya yang amat tidak dibenarkan. Padahal bangsa kita dikenal sebagai bangsa yang berbudaya dan dikenal dengan keramahannya. Jika kita menganggap syirik sesuatu, lalu kita langsung merusaknya, betapa keramahan dan budaya kita akan hilang karena ulah oknum tersebut.

Melalui kitab al-Bayan al-Qawim li Tashih Ba’dh al-Mafahim, Syekh ‘Ali Jum’ah menjelaskan bahwa segala sesuatu tidak harus dilihat dari sudut pandang teologis/tauhid. Ketika menjelaskan hukum salat dalam masjid yang di dalamnya terdapat kuburan, secara tegas, Syekh Ali Jum’ah mengatakan:

فكان ينبغي على المسلمين أن يعرفوا الصورة المنهي عنها, لا أن ينظروا إلى ما فعله المسلمون في مساجدهم, ثم يقولون إن الحديث ورد في المسلمين, فهذا فعل الخوارج والعياذ بالله ….

“Penting bagi umat Muslim untuk mengetahui secara gambaran (makna terdalam) dalam pelarangan sesuatu, tidak sekadar melihat apa yang tampak luar dari perbuatan umat Muslim dalam masjid, lalu semena-mena melekatkan hadis (larangan salat di atas kuburan) kepada umat Muslim lain. Hal ini adalah bagian dari kelakuan Khawarij! Na’udzubillah.”

Baca Juga :  Penjelasan Nabi tentang Islam, Iman, dan Ihsan

Dari redaksi perkataan Syekh Ali Jum’ah di atas, kita dapat belajar untuk bijak dalam melihat segala permasalahan. Tindakan pengrusakan dan main hakim sendiri adalah bukan dari budaya dan tradisi umat Islam dan bangsa Indonesia.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here